INGIN MEMAKI
"Tidak apa, aku sudah tidak dendam lagi. Aku sudah melupakan masa lalu yang kelam, kau yang sibuk kerja, banyak wanita kaya yang mengaku dekat denganmu. Aku hanya sedikit beruntung." Yumi menghela napas panjang dan melepas cincin lalu diletakkan di atas meja.
Efan hanya melihat, tidak mengatakan apa pun.
Yumi tidak gentar dengan tatapan Efan, tampan, sangat tampan. Namun, sayang sekali dirinya harus sadar diri. Kalau saja dia tidak mendengar percakapan waktu itu, mungkin hari ini dia masih menatap bodoh pria itu, mengharapkan cinta yang tidak akan pernah muncul.
"Kakek belum setuju..."
"Kau bisa bicara pada Beliau, jujur saja... dibully rasanya tidak menyenangkan, kita beda." Yumi mengetuk jari di lengan sofa. "Awalnya memang aku ingin balas dendam, setelah dipikir kembali... aku tidak bisa membalas. Kau juga tidak menyukai hubungan ini dari awal."
Efan menaikkan salah satu alis. "Aku tidak pernah mengatakan apa pun."
"Semua orang yang bicara."
"Kau tidak bertanya padaku."
"Apa aku punya kesempatan bicara selama ini?"
Efan terdiam.
Yumi tersenyum kecut lalu melihat jam tangan. "Aku harus kembali."
"Setelah keluar dari sini, kau tidak akan bisa kembali."
Yumi tertawa kecil. "Apa kau ingin membawaku kembali?"
Efan diam, hanya menatap lurus Yumi.
Yumi menghela napas panjang. "Dua tahun bertunangan denganmu, membuatku paham... kau hanya tidak ingin disalahkan kakek, kau hanya takut kakek marah."
Yumi diam dan melihat reaksi Efan, pria tampan itu masih tidak mengatakan apa pun meskipun tatapannya tajam, menatap dirinya.
"Aku hanya tidak ingin merugikan siapa pun, lebih baik mundur dan tidak ada hubungan sama sekali."
Dengan gagah berani, Yumi keluar dari rumah bersama kucingnya, memutus hubungan dengan tunangan tampan nan kaya. Keputusan ini mungkin terlihat bodoh, namun dia sudah tidak kuat lagi menghadapi para manusia menyebalkan. Efan memang tidak mengatakan apa pun dari awal sampai akhir. Pria itu memang tidak berniat menyelamatkannya, hanya cari aman.
Yumi kembali ke rumah ibu. Namun, dia tidak menyangka harus menghadapi situasi rumit satu minggu setelah kembali.
Saat ini Yumi dikelilingi keluarga besar, adik ayah berjumlah sebelas orang yang menggebu-gebu menyodorkan daftar hutang ayahnya yang kawin lagi. Tidak hanya itu, mereka juga mencari barang berharga yang bisa dijual kembali untuk menutup sebagian hutang.
Yumi mencatatnya dengan ponsel jadul kesayangan, yang berbunyi tit tit saat dipencet.
"Yumi, kau 'kan sudah bekerja sebagai guru, jadinya harus bisa memaklumi kenapa kami sekeras ini."
Yumi membalas. "Dulu, saat kalian kesusahan. Ayah dan ibu membantu kalian semua tanpa pamrih, hutang pun tidak ditagih karena kalian adiknya sendiri."
Semua orang berdehem dan mengabaikan sarkas Yumi.
"Hei, Yumi. Kami ini baik-baik mengingatkan kau supaya orang tua kau tidak berdosa meninggalkan hutang."
Benar, kata orang. Uang itu sangat sensitif bahkan untuk sesama saudara.
"Lebih baik jual rumah ini untuk menutup semua hutang-hutang kau!"
Yumi menatap ngeri mereka semua. Dirinya saja punya hutang pinjol enam puluh juta, nggak tega jual rumah. Lha ini malah adik-adiknya tega jual rumah.
Yumi berusaha menutup kesedihannya. Uang darimana lagi coba Ya Tuhan? semua barang sudah dijual untuk biaya operasi ibu, aku pun juga terpaksa hutang pinjol untuk menutupi semua pengobatan yang tidak bisa ditutup.
Yumi menghela napas panjang. "Bagaimana kalau begini, yang berhutang kan sebenarnya Ayah. Biar Ayah saja yang membayar tanpa menjual rumah ini. Mau tinggal di mana nanti Yumi?"
"Ya, minta Ayah kaulah!"
"Dia kan sudah menikah lagi dengan janda kaya."
Ini lah yang membuat Yumi sedikit tidak menyukai Ayah. Baiknya keterlaluan banget sampai nggak mikir dua kali tapi tukang selingkuhnya juga keterlaluan. Ibu sakit pun Ayah nggak jenguk, Yumi sempat pernah dengar kalau Ayahnya sudah punya anak lain yang seumuran dengannya.
Itu berarti Ayah sudah selingkuh sejak lama, ketahuannya semenjak ibu jatuh sakit karena kecapekan.
Keluarga Ayah pun aneh, yang berhutang siapa yang diminta juga siapa. Selama ini kemana saja pas ibu sakit? hutangku?
"Kalian semua ini benar-benar keterlaluan, Yumi kira kalian semua datang untuk silahturahmi dan mendoakan ibu. Ternyata mau nagih hutang ayah? hah!" Yumi berdiri dan menendang kursi yang tadi dia duduki dengan keras.
"Piip piip." Yumi hendak memaki semua keluarga ayah, tapi karena sudah diajarkan sopan santun oleh ibu, nenek dan kakeknya jadi dia sensor sendiri.
Semua adik-adik ayah Yumi menjadi ketakutan.
"Yumi, kami hanya ingin menagih hak kami."
"Hei, nagih hutang itu ya ke yang bersangkutan. Kenapa malah nagih ke almarhumah Ibu dan aku? rumah ini punya almarhumah nenek yang diwariskan ke ibu, bukan punya Ayah."
"Terus kami harus minta ke siapa? kan kau anaknya."
"Minta ke Ayahlah."
"Ayah kau kan sudah kaya raya, kau saja yang nagih ke dia."
"Heh! kalian itu adik-adiknya, kenapa malah nggak mau nagih sendiri?" balas Yumi.
PLAK!
Salah satu adik ayah yang laki-laki sontak menampar Yumi dengan keras.
Yumi terkejut.
Suasana menjadi hening.
"Kau anak tidak tahu sopan santun, pantas saja kakak kami meninggalkan kalian berdua, mulut tidak bisa direm!" bentak laki-laki yang menampar Yumi.
Yumi berusaha menahan air mata supaya tidak jatuh dan berkata. "Ya, ibuku memang tidak ada harganya di mata kalian. Tapi berkat Ibu, Ayah bisa sekolah sarjana, punya penghasilan bagus dan bisa menyekolahkan semua adiknya tanpa perhitungan apapun."
Yumi menatap mereka semua satu persatu tanpa rasa takut. Buat apa takut ke orang-orang tidak tahu terima kasih seperti ini?
Yumi berteriak kencang. "MALING!"
Semua orang di dalam rumah menjadi panik, ada yang berusaha kabur dan ada juga yang berusaha menutup mulut Yumi. Untungnya para tetangga yang berjaga-jaga di luar, sigap menolong Yumi dan mengusir mereka semua.
Yumi mengacungkan jari tengah di belakang para tetangga yang dikenal baik, mereka tahu mengenai kondisi keluarga Yumi yang berantakan termasuk perselingkuhan ayahnya saat sang ibu sakit.
"Dasar sakit, berani sekali sama anak yatim piatu!" ibu-ibu memukul salah satu adik bapak Yumi yang bertubuh bongsor.
Adik-adik ayah Yumi lari meninggalkan rumah secepat kilat.
Yumi mengucapkan terima kasih ke para tetangga yang menolong. Setelah semua orang pergi, Yumi menutup pintu kamar tamu dan terisak.
"Ibu-" isaknya. "Tuhan, kuatkan Yumi. Tolong kuatkan hati hambaMu ini.'
Yumi memeluk diri sendiri, mengingat semua kesialan di masa lalu. Ayah yang selingkuh, ibu yang sakit sehingga dirinya terpaksa setuju dengan pertunangan yang ditetapkan almarhum nenek sebelum meninggal lalu setelah ibu meninggal, tidak ada yang menghibur dirinya selain kakek lewat telepon.
Efan pun hanya menganggap dirinya sebagai beban.
Kali ini Yumi menangis dalam diam, tidak ada yang bisa diharapkannya lagi.