DAPAT INSPIRASI?

1085 Kata
Setelah puas satu jam menangis, Yumi ingin mencari udara segar dan mengajak kucing kesayangannya. Dia tidak boleh berlarut-larut menangis. Dia segera pergi jalan-jalan bersama kucingnya di malam hari, toh hanya berkeliling sekitar kompleks. "Mungkin kita bisa dapat inspirasi." Beberapa menit kemudian ketika melangkahkan kaki di dekat rumah kosong, dia teringat dengan cerita mengenai pesugihan lalu duduk di pinggir jalan dan membuka internet, mencari tahu tentang pesugihan. Semuanya membutuhkan tumbal atau harus bertemu dukun. Karena terdesak, Yumi akhirnya membuat resolusi gila. Jika mbah dukun saja bisa berkomunikasi dengan makhluk halus, kenapa dirinya tidak bisa? Masalah mereka setuju atau tidak kan tergantung dari hasil percakapan. Kalau cuma iseng, tinggal baca doa atau lari ke pak ustadz yang tinggal di depan rumah. Jadi, apa yang disukai para makhluk halus untuk meminta bantuan? kemenyan, bunga melati, dan kopi? kemenyan tinggal beli di toko dekat rumah, bunga melati tinggal petik di salah satu rumah tetangga lalu kopi buat di rumah. Oke! Ayo kita semangat mencari pesugihan sendiri! Jangan manja ke mbah dukun atau orang pintar lainnya, belajar mandiri! jika mereka bisa, kenapa aku tidak? Sekarang hanya dirinya sendiri yang harus bertahan hidup menghadapi kerasnya dunia. Bekerja secara jujur saja tidak bisa mendapatkan uang banyak, lebih baik cari cara terbaik, tapi... Yumi menghentikan langkahnya lalu menatap Hasan yang ikut berhenti. "Bagaimana kalau mereka minta nyawa?" Dia menggelengkan kepala mengabaikan pemikiran itu. Tidak, mereka tidak mungkin minta nyawa. Dengan semangat tinggi, Yumi mencari bahan untuk pesugihan tengah malam. Sementara di tempat Efan. "Efan, kakek sudah bilang. Bawa pulang Yumi!" "Tidak bisa," jawab Efan dengan tegas. "EFAN!" Efan yang berdiri di depan jendela, menatap pemandangan malam dari luar, menjelaskan dengan santai. "Dia yang minta, kenapa aku harus menariknya?" "Itu semua gara-gara kau, kalau saja melindungi anak rapuh itu..." "Kakek, dia sudah dewasa. Bisa membuat keputusan sendiri, aku tidak bisa ikut campur keputusannya." "Waktu itu dia tertekan karena diserang sana-sini, kau tidak pernah melindunginya!" Efan kesal pada kakek yang selalu menyalahkan dirinya. "Aku selalu menuruti perintah kakek, aku tidak pernah selalu di rumah, kenapa semua kesalahan menimpaku? Kakek, malam ini aku harus kerja... kita bicarakan nanti." "Ef..." Efan matikan sambungan telepon. "Ada apa?" tanyanya begitu melihat bawahan sedang menunggu di depan pintu. "Semua sudah sesuai rencana." Efan mengangguk dan bergegas mengikuti bawahannya setelah matikan handphone. -------------- Setelah berhasil mendapat bekal, dengan ditemani Hasan, kucing kesayangannya. Tekad dan keberanian muncul begitu saja. Tidak perlu takut dan malu, toh belum dijalankan ya- Saat ini Yumi sudah menyusup ke salah satu rumah mewah yang sudah kosong lama dekat rumah, sebenarnya ada yang jaga karena setiap hari lewat sini. Tapi penjaganya selalu pulang sore, rumahnya pun bersih dan rapi. Hasan duduk manis di dalam gendongan depan, supaya tidak kabur. Bahaya banget kabur di dalan rumah kosong, sebenarnya sudah steril tapi namanya kucing, jiwa keponya masih tinggi banget. Yumi duduk di tengah ruangan dan mulai menyebarkan berbagai macam amunisi pesugihan lalu bingung harus mulai darimana. Lagi-lagi ide terdesaknya muncul, cukup teriak. "Tuan dan nyonya, saya datang kesini untuk meminta bantuan. Tolong bantu saya keluar dari masalah!" "Masalah apa?" Tiba-tiba ada suara muncul, Yumi yang sebelumnya pasti merinding ketakutan. Tapi dia sudah terlanjur disini dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, hutang besar sudah menantinya di luar pintu. "BANTU SAYA MENUTUP HUTANG!" BRAK! BRAK! BRAK! Yumi terkejut, mendadak lampu sorot muncul dari berbagai arah, tangannya otomatis terangkat ke udara ketika mendengar bentakan. "JANGAN BERGERAK!" "KAMU SUDAH DITANGKAP!" "ANGKAT TANGAN KAMU!" Yumi kebingungan, apakah ini model baru para makhluk halus untuk bertemu kontraktornya? bermain ala polisi manusia. "Wow, banyak sekali makhluk halus bermunculan." Salah satu polisi berdiri di belakang Yumi sambil menodongkan senjata. "Di mana anjing yang sudah kau culik?" Yumi coba mencerna situasi yang dihadapi sekarang, hasilnya nihil. "Anjing apa?" Hasan menguap malas dan mulai mandi sambil menggoyangkan ekor. "Katakan sekarang!" Yumi mengangguk paham. "Kata temanku, setan sangat takut pada anjing. Gonggongannya saja sudah buat menjauh, apalagi kencingnya. Tenang saja, aku hanya bawa seekor kucing semok, tapi bukan buat persembahan." Meong. Hasan menjawab malas sambil menjilat tubuhnya. "Lihat kan, jadi tidak perlu takut sama sekali." Yumi jatuh tersungkur ke depan sambil mengambil Hasan ke dalam pelukan, setelah ditendang dari belakang oleh salah satu polisi di belakang. "Tunggu, memang kalian siapa?! Berani mendorongku sampai jatuh!" "Jangan bercanda, kau tidak tahu situasi sekarang?" "Justru karena aku tahu situasi, mkanya protes. Setan seperti kalian tidak diizinkan menyakiti manusia, tapi harus bantu manusia!" Salah satu polisi yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Yumi, berbisik pada rekan di samping. "Sepertinya kita menangkap orang gila." "Berikan aku uang, kalian sudah menyakitiku. Pilih mana, panggil pak ustadz buat usir kalian atau kasih aku uang, harta berharga lain juga boleh, pesugihan juga tidak apa, yang penting tidak ambil nyawaku dan Hasan!" "Tuh kan, dia memang sudah gila." "AKU TIDAK GILA! AKU HANYA INGIN BEBAS DARI JERATAN HUTANG, KALIAN PARA SETAN, TIDAK AKAN PERNAH MEMAHAMI PERASAAN KAMI, MANUSIA YANG RAPUH!" teriak Yumi. "Ah, menyebalkan." Efan keluar dari persembunyian dan bertanya. "Ada apa?" Entah kenapa dirinya mendengar suara seseorang yang dikenalnya. "Aku baru saja lepas dari jeratan setan bernama Efan, dia sangat jahat dan tidak memiliki hati nurani." Para polisi di dalam ruangan, spontan melirik tempat persembunyian Efan. Di tim mereka, hanya satu orang yang menggunakan nama itu. "Efan sangat menyebalkan dan juga tidak punya hati nurani, aku tunangannya... bagaimana bisa dia mendiamkan aku selama dua tahun? Tidak hanya itu, dia juga tidak menolongku di saat banyak orang menggunjingkan aku!" Yumi terisak. "Kenapa dengan dia menjadi polisi? Masa depannya memang bagus, berbeda denganku yang guru. Lalu dia... dia tahu aku berniat membalas semuanya." "Dari mana beliau tahu?" tanya salah satu polisi yang penasaran. "Dia baca buku harianku di kamar." Kali ini para polisi simpati pada Yumi, meskipun tidak berani menatap jijik atasannya. "Karena itu, para setan! Tolong bantu aku, berikan aku sesuatu untuk pesugihan, aku ingin bayar hutang untuk melupakan dendam lama ini. Aku janji, kalau kaya tidak akan mengingat dendam itu lagi, tapi jangan suruh aku menumbalkan manusia, orang itu polisi... aku tidak ingin bertemu dengannya lagi." "Alasan yang sangat luar biasa, kau tidak akan balas dendam karena kaya? Kau bahkan menjadikan aku alasan supaya tidak menumbalkan manusia?" Efan jalan perlahan menuju Yumi yang sudah duduk tegak di lantai sambil memeluk Hasan. Yumi menoleh ke kanan dan kiri, suara yang tidak ingin didengar mulai muncul. "Siapa? Setan baru lagi?" Tiba-tiba lampu di dalam ruangan dinyalakan, mata Yumi berusaha adaptasi. Setelah bisa adaptasi, dia terkejut melihat sosok yang berjongkok di hadapan dirinya. "Setan?" Efan mendecak lalu menjentikan jarinya di kening. Kedua mata Yumi membulat, menatap ngeri sosok yang dibencinya nomor dua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN