Efan memijat kening ketika melihat mantan tunangan menggendong seekor kucing yang berkali-kali menguap karena bosan sekaligus menggoyangkan ekor berkali-kali, di depannya bertebaran berbagai macam alat yang dibilang untuk pesugihan.
Yumi akhirnya sadar bahwa mereka semua bukan makhluk halus tapi polisi, karena tadi otaknya belum jernih dan masih memikirkan utang jadi tidak bisa berpikir cepat seperti biasanya.
Efan pernah membaca di salah satu artikel internet. Orang terdesak bisa menghasilkan ide kreatif dan gila. Tapi ini? memanggil pesugihan sendiri apakah bisa dibilang kreatif? gila iya.
"Kamu jangan berbohong ya, jelas-jelas kami sudah mendengar kode yang kamu lontarkan tadi!" ucap salah satu anak buah Efan yang menodong pistol ke punggung Yumi dengan tangan gemetar, akhirnya mereka tahu kalau wanita sinting itu adalah mantan tunangan atasannya.
Yumi yang ketakutan jadi bertanya. "Memangnya kode apa yang aku katakan? Cuma bilang soal bantu aku menutup hutang."
"Itu!"
Yumi benar-benar tidak mengerti. "Hah?!"
"Kau bilang soal menutup hutang! itu adalah kode dari geng yang kami kejar."
Yumi ingin memukul kepala orang yang memakai kode itu, memangnya itu dikira out of the box apa?
"Sekarang menyerah dan beritahu kami, dimana anjing-anjing yang kalian culik?!"
Buset, ini ternyata cari penculikan anjing?!
Efan berdiri di hadapan Yumi yang kebingungan, mulai bertanya. "Lihat aku!"
Yumi sontak menoleh. Ini lagi.
Efan dan Yumi sama-sama saling menatap dalam diam.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Pesugihan, aku ingin kaya dan melupakan semuanya. Kau tidak dengar tadi?" jawab Yumi dengan kesal.
Efan yang mendengarnya juga kesal, dia menjentikan lagi jarinya di kening Yumi. "Bukannya kau bilang tidak akan balas dendam da melupakan semuanya? Kenapa kau bisa berhutang? Aku mengirim uang padamu."
Para bawahan Efan menjadi gelisah, situasi yang tadinya tegang, berubah menjadi pertengkaran sepasang kekasih.
Yumi menjadi kesal dibuatnya, lagian yang dicari mereka penculik anjing. "Uangnya sudah habis buat pengobatan Ibu, beliau suda meninggal. Buat apa aku bertahan di sana? Aku memang sudah tidak dendam padamu dan selir-selir di luar sana, tapi aku juga tidak akan menolak kaya dan menjadikan kalian alasan pesugihan, aku ini sedang transaksi."
Efan semakin sakit kepala mendengar rentetan penjelasan tidak masuk akal Yumi. "Bawa si gendut itu buat transaksi juga? Apa kau akan menjadikan dia tumbal?"
Hasan yang mendengar itu, sontak menatap marah Efan.
Yumi yang mendengarnya menjadi kesal. "Ini anakku, jangan sentuh dia... dasar playboy kabupaten!"
Efan menjadi kesal, padahal dia sudah memburu penjahat ini dua bulan lamanya. Hancur gara-gara mantan tunangan sinting. "Aku sedag bekerja, jangan mengganggu kami."
"Kalau aku penjahat, buat apa bawa kucing dan sesajen sebanyak ini?"
Efan menatap tidak percaya Yumi yang masih duduk bersila dan mengangkat kedua tangannya di udara. "Lalu buat apa kau nekat masuk ke rumah kosong ini?"
"Sudah aku bilang, aku ingin mencari pesugihan!"
"Jangan bohong! cari pesugihan itu nggak gampang, atau jangan-jangan kamu ingin menghancurkan bisnis seseorang?"
Yumi menatap tajam polisi yang membentaknya, masa bodoh dengan todongan senjata yang diarahkan ke dirinya. "YA! SAYA INGIN MENGHANCURKAN BISNIS PINJOL DI INDONESIA! KALIAN SEMUA POLISI NGAPAIN SAJA SIH SAMPAI SALAH SATU WARGANYA TERPERANGKAP BEGINI?!"
Semua polisi menjadi bingung dan saling bertukar tatapan.
Yumi mulai menangis. "Aku tidak tahu harus kemana buat nutupin hutang. Jual diri nggak akan laku, yang realistis saja, tubuh dan wajah kayak begini mana dapat daddy sugar kaya, tampan. Yang ada malah dapat om-om genit suka menebar janji. Mantan tunangan saja menjauh."
Salah satu polisi yang bersimpati, jongkok dan memberikan tisu ke Yumi.
"Tolong pak, tutup semua pinjol di Indonesia supaya saya tidak bingung mencari uang lagi." Isak Yumi yang mengabaikan Efan.
"Lagipula kenapa kamu malah main pinjol? bunganya mengerikan."
"Aku gak bisa berpikir jernih, yang penting dapat uang buat ibu yang sakit, aku tidak mungkin minta uang lagi di saat perang dengan playboy kabupaten." Yumi memeluk erat Hasan, mengeluarkan luapan kesedihan tanpa malu lagi. Bodoh amat mereka polisi.
"Mbak, lapor saja ke email atau bagian cyber. Kalau lapor ke kami percuma saja."
Dengan mata sedikit bengkak dan ingus di hidung, Yumi menoleh. "Tapi aku pinjamnya legal, selain itu kalian kan juga sama-sama polisi."
"Kami bagian unit K-9. Pinjol bukan ranah kami, kami sedang mencari pedagang pengedar narkoba sekaligus penculikan anjing ras."
Yumi menghapus air mata dengan tisu. "Terus bagaimana ini? Pesugihan aku gagal, mau pulang bagaimana? Aku gak mau dikejar debt collector."
Efan menghela napas panjang. "Kami sendiri juga gagal menangkap penjahat padahal sudah dua bulan kerja keras. Begini saja, kau menginap di kantor polisi sampai kami mendapatkan bukti bahwa kau bukan salah satu komplotan mereka.
Yumi menatap kesal Efan. "Besok aku kerja!"
"Besok aku yang akan mengizinkan, kau kan kerja di sekolah milik kakek." Efan tersenyum licik.
Yumi menatap ngeri Efan. Polisi datang ke sekolah untuk meminta izin? tidak, tidak!
Efan bisa membaca pikiran Yumi. "Kau mengenal aku dengan baik 'kan? Aku tidak akan melepas buruan begitu saja."
Yumi mengangguk ragu sambil mengusap ingus.
Efan menatap jijik Yumi. "Hanya satu hari setelah itu status kau sebagai saksi, bisa beraktifitas seperti biasa."
Kepala Yumi masih mengingat masalah yang menimpanya. Pinjol dan hutang ayahnya, bagaimana jika mereka masih nekat datang ke rumah?
Efan memberikan instruksi ke para anak buahnya.
Yumi bergeming di tempat lalu mendadak berteriak. "KALIAN YANG TINGGAL DI RUMAH INI, TOLONG BANTU AKU SUPAYA MELUNASI HUTANG! PARA POLISI INI TIDAK BISA MEMBANTUKU!"
Tidak lama salah satu polisi yang tubuhnya tidak fit dari pagi, terjatuh dan berteriak kesetanan. Sontak teman-temannya membantu.
Yumi bangkit berdiri ketakutan sambil mengangkat Hasan ke depan, seolah patung dewa yang bisa melindunginya.
Efan geram melihat Yumi. "Puas kau sekarang?"
Yumi cemberut menatap Efan. "Memangnya kau bersedia membantuku keluar dari masalah?"
Efan tidak menjawab.
------------
"Ini, hanya ada daging suwir ayam buat anjing, kucing pasti boleh." Salah satu polisi memberikan semangkuk penuh suwiran ayam ke Hasan.
Hasan langsung menikmatinya di dalam sel bersama Yumi. Selnya kosong jadi mereka tidak perlu khawatir, Hasan juga tidak bisa kabur karena jeruji sel sedikit rapat dan lemak perutnya tidak lolos dari jeruji sel.
Yumi menatap iri isi makanan Hasan. Sementara kucingnya dapat satu mangkuk penuh suwiran ayam, dirinya malah dapat satu buah roti yang manisnya keterlaluan dan semangkuk sup kacang hijau. Terkadang hidup itu tidak adil,
Ukurannya pun nggak kira-kira, mungkin karena mereka terbiasa memberikan makan anjing berbadan besar jadinya bingung disamakan saja, apalagi badan gendut si Hasan menambah kenekatan takaran ngawur mereka.
"Ada nasi nggak, Pak?"
"Buat apa?"
"Saya lapar, orang Indonesia belum kena nasi nggak bakal kenyang. Siapa tahu Hasan nggak habis jadi bisa dikasih saya separuh."
Polisi itu menatap kasihan Yumi. "Saya dengar, kamu sedang berhutang pinjol cukup banyak. Berapa lama kau tidak makan? Pasti sulit sekali merawat kucing sekaligus. Tunggu sebentar, saya pesankan makanan lewat online."
Yumi mengangguk tanpa malu setelah mendengar perutnya berbunyi keras. "Terima kasih banyak, Pak."
Rasanya ingin menangis karena malu sekaligus gengsi, tapi tidak bisa. Dia menghabiskan roti sambil menangis sedih, ibunya pasti sedih melihat keadaannya sekarang, apalagi ayah yang sekarang sudah hidup bahagia kabur dari hutang.