BUKAN PESUGIHAN?

1041 Kata
Efan menjadi pusing, bukannya berhasil menangkap salah satu pelaku perdagangan satwa liar malah memergoki mantan tunangannya berusaha melakukan pesugihan. Dia membaca lagi dokumen yang dibuat anak buahnya, sebelum dijadikan laporan. Untung saja semua bawahannya cerdas, tidak bertanya soal misi ke Yumi, hanya bertanya soal anjing yang diculik. Kalau mereka sampai kebocoran rencana mengenai pengejaran satwa liar, semua yang mereka persiapkan selama dua bulan akan terancam gagal. Efan mau tidak mau harus mencurigai Yumi sebagai tangan kanan para penjahat itu. Sementara di dalam sel, Yumi makan lahap setelah dibelikan ayam geprek oleh polisi baik hati. "Mbak, sebenarnya cantik lho. Tapi sayang sekali kok mau main belajar pesugihan?" tanya polisi yang membelikannya makanan di luar sel. "Yah, mau gimana lagi. Kebutuhan ekonomi buat bayar hutang, gaji juga nggak bakal cukup buat bayar cicilan hutang. Ini saja saya nggak tahu apa bisa pulang ke rumah dengan selamat." "Waduh, parah juga kasusnya mbak." "Pak, kira-kira besok pagi saya bisa keluar?" "Kalau itu saya nggak tahu, tunggu keputusan dari atasan." Yumi menghela napas berat lalu melihat Hasan sudah rebahan pamer lemak perut di lantai, efek kekenyangan. Yah, dua hari kemarin Yumi terpaksa kasih makan rumput karena tidak bisa membelikannya makanan kucing. Benar-benar menyedihkan dan buat heran, dua hari makan rumput, lemak masih available di sana. Apa tetangganya diam-diam kasih makan ke dia? Yumi rebahan di tempat duduk yang terbuat dari semen dan menatap luar sel. "Duh, gimana ya- mau cari pesugihan di mana lagi?" "Di mana-mana kan banyak. Tinggal cari dukun yang amanah saja." "Memangnya ada dukun yang amanah?" Tanya Yumi yang tidak percaya. "Ya, nggak tahu. Saya kan nggak pernah main gituan, atau mbak jadi pk saja. Siapa tahu saweran dapat banyak." "Pak, jangan-jangan sering ke tempat pk ya?" Curiga Yumi. Si polisi nyengir seperti orang tidak berdosa. "Yah, namanya cari hiburan." "Jadi pk itu cantik-cantik sama pakai baju seksi kan?" tanya Yumi yang penasaran. "Iyalah mbak. Kalau nggak gitu, nggak akan ada yang tertarik." "Kalau saya jadi pk, para polisi mau datang ke sana nggak ya?" tanya Yumi yang tanpa sadar berusaha cari pelanggan sebelum terjun ke dunia itu. "Waduh. Jangan-" "Saya undang sebagai peluncuran pertama kali saya jadi pk, kalau beneran sih- dan kalau keterima juga. Saya sendiri nggak pede orangnya." Si polisi menatap heran Yumi. "Sebenarnya saya tidak percaya kalau mbaknya nggak pede, karena kejadian semalam saja kalau bukan orang kepedean. Apa namanya? Orang gila?" "Ei, enak saja menyebut saya gila." "Nah, terus apa?" Yumi mencari jawaban yang pas. "Kreatif?" "Wah, mbak. Saya malah nggak percaya orang kreatif, kreatif itu menghasilkan karya." Yumi menjentikkan jari lentiknya. "Orang melakukan pesugihan menghasilkan apa?" "Duit?" "Duit itu untuk orang kreatif, didapatnya darimana?" "Karya?" Yumi tersenyum penuh kemenangan. "Lihat, sama saja kan? hasil dari pesugihan adalah sebuah karya berupa duit, atau pesugihannya yang karya ya?" Pak polisi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung antara dirinya yang bodoh atau dibodohi Yumi. "Mbak, mendingan kawin saja deh daripada bingung. Nanti calon suaminya saja yang nanggung." "Aiss, masa larinya ke laki? Nggak keren dong. Lagian mana ada juga orang kaya yang mendekat ke saya?" Yumi menggigil begitu teringat dengan Efan yang menyebalkan. "Nah, itu sadar diri." Lama-lama Yumi menjadi kesal sendiri, maksud hati merendah untuk meroket sebagai tanda menghibur diri. Lha ini malah semakin lama semakin menghina dirinya. Ternyata patriarki memang ada, suka merendahkan wanita. "Pak, saya nggak betah disini. Pulangkan saya, lagipula saya tidak bersalah sama sekali." Rengek Yumi. Pak polisi melirik Hasan yang sudah tidur pamer perut karena kekenyangan. "Tapi kucingnya mbak, masih betah tuh." "Hasan ya Hasan, saya ya saya. Hasan mah mau rebahan di rumput juga masih betah. Lha saya?" Tidak lama salah satu utusan Efan datang dan memberi tahu kalau Yumi bisa keluar besok siang. Yumi bersorak kegirangan lalu tertidur lelap sambil memeluk guling hidupnya. ----------- Keesokan hari, Yumi sudah berharap banyak. Tapi tak disangka dia harus berhadapan dengan ayahnya sebagai penjamin. Mungkin karena takut dengan ancaman polisi, makanya beliau mau datang menjamin. Lha, menjamin duit untuk istri sebelumnya yang sudah almarhum saja nggak mau, apalagi bayar hutang. Begitu melihat Yumi datang sambil menggendong Hasan yang menguap beberapa kali, si ayah mendengus keras lalu mengalihkan tatapannya. Yumi berdiri di belakang, tidak berani duduk di samping ayah. Menunduk malu, pasti para polisi sudah menceritakan kelakuannya semalam. Pantas saja para polisi minta nomor handphone wali, ternyata telepon ayah toh. Yumi merutuki kebodohannya di dalam hati. "Tadi malam kami menemukan putri bapak, ada di luar rumah kosong yang menjadi target pengintaian salah satu tim kami. Kami memasukkannya ke dalam sel karena takut, anak Bapak salah satu komplotannya." Polisi mulai menjelaskan. Yumi menatap ngeri polisi yang menjelaskan lalu menggeleng. Polisi itu tersenyum nakal dan menjelaskan lagi. "Kami menemukan beberapa macam alat juga di dekat putri Bapak." Yumi tepuk jidat dan ingin mengatakan sesuatu. Seseorang di belakang Yumi terpaksa menutup mulut dan meletakkan dua tangannya di belakang, Yumi mendongak dan terkejut melihat Efan sudah berdiri di belakang lalu nekat melakukan hal gila, seperti membekap mulut Yumi. "Alat? Dia melakukan apa? Mencuri?" Tanya ayah Yumi. Perhatian Yumi teralihkan dan melotot marah ke punggung ayahnya yang suka berpikir negatif, memaki orang tua terang-terangan memang dosa, makanya dia memaki di dalam hati sambil berteriak hmmp hmmp di dalam bekapan Efan. Yumi mau tidak mau berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena mengizinkan dia memaki pria penyumbang s****a itu tanpa suara jelas, efek dari bekapan mantan tunangan. Polisi itu menghela napas lalu mengeluarkan sapu tangan dan menghapus sesuatu di sudut mata dengan suara terisak. "Anak anda- ah, saya tidak tega saat melihatnya. Sebagai seorang ayah, harusnya Anda perhatikan dengan penuh kasih sayang, tidak perlu melakukan hal nekat seperti itu." Yumi menjadi khawatir jika polisi itu mengungkapkan masalah pesugihan yang dilakukan dirinya. Ayah Yumi menjadi tidak sabar dan tetap pada pendirian buruknya. "Jadi dia memang mencuri di rumah kosong? Dia memang memiliki sifat buruk, sebagai Ayahnya pun saya sudah menyerah untuk mendidik dia." Para polisi di dalam ruangan yang tahu cerita sebenarnya, menatap simpati Yumi. Yumi bukannya terharu tapi malah ketakutan. Polisi yang duduk berhadapan dengan ayah Yumi, menggeleng sedih. "Bukan Pak, ada yang lebih parah dari sekedar mencuri rumah." Sekedar mencuri? Apakah bagi polisi, mencuri adalah hal remeh? Yumi mendengar penjelasan lagi dari polisi tersebut. "Anak anda, berusaha bunuh diri di dalam rumah kosong." Efan semakin erat bekap mulut mantan tunangannya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN