Polisi itu kembali menjelaskan sebuah kebohongan untuk Yumi. "Dia berteriak kesetanan seolah kesurupan."
Akhirnya Yumi paham, polisi yang menjelaskan adalah polisi yang kesurupan karena ulahnya di rumah kosong, dia tidak berani melawan Efan ataupun polisi lainnya lagi. Sepertinya memaang terindikasi balas dendam.
"Dia juga tidak makan hampir satu minggu bersama dengan kucingnya, lihat- bahkan kucingnya hanya makan rumput dan mengorek sampah."
Semua orang di dalan ruangan, kecuali Efan melihat penampilan Yumi dan Hasan.
Yumi dibekap Efan dan tidak berdaya namun terlihat semok, sementara Hasan-
Semua orang tidak percaya jika kucing kampung bertubuh bulat itu hanya makan rumput selama satu minggu, lemaknya pindah ke mana?
Yumi menurunkan tangan Efan, dan berkelit. "Aku tahu Ayah pasti tidak akan percaya, tapi aku menderita stres berlebih hingga hampir gila dan mengalihkannya ke makanan.. maksudnya tidak nafsu makan. Ibu meninggal, dan yang bisa aku lakukan hanya makan, tidak... mau makan."
Seolah Hasan paham dengan ucapan Yumi, dia mengeong keras sambil menggoyangkan ekor.
"Bukannya kau punya tunangan? Kau baru pulang dari rumahnya kan?" Tanya ayah Yumi yang penasaran. "Si miskin itu tidak mau bantu kau?"
Yumi yang tadinya memasang wajah sedih, sekarang berubah marah. "Pak polisi mau bantu saya, bukan? Gara-gara kalian semua, saya tidak bisa membayar semua hutang."
Para polisi di dalam ruangan, menatap heran Yumi.
Yumi mengangkat dagu dengan angkuh meskipun kedua tangannya dipegang ke belakang oleh Efan sementara si Hasan mendesis marah ke arah ayah Yumi, seolah paham dengan emosi babunya. Majikan akan marah jika babu disenggol.
Entah kenapa para polisi yang melihat mereka berdua, bukannya marah ataupun takut tapi malah lucu dan hampir tertawa.
Yumi berusaha berontak dari Efan. "Lepaskan aku!"
Efan bertanya. "Mau ke mana?"
Yumi berusaha menahan amarahnya. "Mau ambil handphone."
Efan melepas kedua tangan Yumi.
Yumi memutar badan lalu berdiri berhadapan dengan Efan yang tinggi dan tegap lalu mulai memarahinya. "Apakah Anda tidak bisa bersikap baik terhadap wanita stres dan akan bunuh diri? Saya mendapatkan makanan dari bantuan tetangga, ayah saya yang duduk di sana, sibuk dengan keluarga barunya. Menurut anda, apa yang harus saya lakukan begitu dia datang sebagai penjamin? Menangis karena terharu?"
Efan menghela napas panjang. "Bukannya akan marah?"
"Mana handphone tit tit saya?"
Efan menaikan salah satu alis lalu mengeluarkan handphone dari saku baju seragam dan menyerahkannya ke Yumi. "Ini."
Yumi balik badan lalu menunjuk ayahnya. "Saya juga ingin membuat tuntutan untuk pria penyumbang s****a itu, dia berhutang banyak terhadap adik-adiknya dan saya tidak mau menjual rumah warisan ibu! Enak saja kuliah sudah dibiayai susah payah oleh ibu, malah hutang sana sini demi wanita lain!"
Ayah Yumi bangkit dari kursi lalu hendak menampar Yumi.
Efan yang sigap, menarik Yumi ke dalam pelukannya lalu menahan tangan ayah Yumi.
Semua polisi yang ada di dalam ruangan menjadi tegang sekaligus takjub, suasana yang tadinya haru sekaligus menggemaskan, berubah menjadi tegang ala drama Korea.
Jantung Yumi berdebar kencang, punggungnya menempel d**a bidang dan keras, sambil dipeluk dengan satu tangan oleh Efan.
Hasan merasa tidak nyaman karena telinganya terhimpit tangan Efan sehingga menggigitnya.
Efan tetap tidak bergeming, menatap marah pria yang hendak memukul seorang wanita lemah yang juga mantan tunangannya. "Jangan pernah memukul orang tidak bersalah."
"Tidak bersalah? Dia jelas-jelas menghina aku!" Teriak ayah Yumi. "Dia bilang aku hanya penyumbang s****a! Aku Ayah kandungnya!"
"Kamu buka Ayah kandung aku!" Teriak Yumi dengan marah. "Lebih baik aku ma- hmmph!"
Hasan capek menggigit tangan Efan yang keras lalu mengalihkan kemarahannya ke ayah Yumi dan menggeram marah sambil mengucapkan. "Auuuoowooo... auuuooo.. wowooo.."
Efan terpaksa menarik tangan, menutup mulut kucing gembrot itu. Untung saja kukunya tidak terlalu tajam.
Para polisi mengeluarkan handphone dan memotret kejadian langka itu, seorang kepala polisi yang terkenal tegas dan suka seenaknya sendiri, menutup mulut babu garong dan majikan sinting.
Efan bicara ke ayah Yumi dengan nada tegas dan mulai mengancam. "Kami memanggil Anda karena ayah kandung wanita ini dan harus bertanggung jawab, jika Anda tidak bisa bertanggung jawab, silahkan tanda tangan surat perjanjian bahwa Anda tidak akan mengganggu kehidupan wanita stres ini lagi. Dosanya berlipat jika membunuh anak kandung dan hewan peliharaannya."
Ayah Yumi menatap marah Efan. "Jangan pernah ikut campur masalah orang lain, apakah polisi tidak pernah dididik?"
"Saya kepala polisi di tempat ini dan saya bertanggung jawab menjaga keamanan warga saya," balas Efan dengan tenang.
Ayah Yumi kembali duduk. "Mana yang harus saya tanda tangani?"
Polisi yang sedari tadi duduk berhadapan dengan ayah Yumi mengeluarkan dua berkas. "Ini ada dua berkas yang harus anda tanda tangani. Satu untuk melepas anak Anda dari penjara, satu untuk perjanjian tidak akan mendekati putri Anda, termasuk beban hutang."
Yumi terkejut lalu menoleh ke belakang untuk menatap Efan.
Efan menunduk dan menaikkan salah satu alis. "Kau kira aku tidak tahu apa pun?"
Yumi menurunkan tangan Efan dan membalas. "Hanya berbekal mengintip handphone orang lain, bangga?"
Efan tidak bisa berkata-kata begitu mendengar ejekan Yumi.
Yumi menjulurkan lidah.
Ayah Yumi tidak mau tanda tangan kedua dokumen. "Yumi adalah anak kandung saya, saya bekerja keras untuk membayar biaya pengobatan ibunya. Tentu saja dia harus menanggung hutang."
Perhatian Yumi teralihkan lalu menatap marah punggung ayahnya. "Aku yang menutup biaya kesehatan Ibu, Ayah tidak mau mengeluarkan uang sama sekali dan bahkan menyuruh adik-adik Ayah minta uang ke aku. Bukankah Ayah sudah menikah dengan janda kaya?"
Ayah Yumi membalas perkataan Yumi tanpa menoleh ke belakang. "Kamu memang anak yang tidak tahu terima kasih, yang ada di pikiran kamu hanyalah uang dan balas jasa."
Yumi terkejut dengan perkataan ayahnya.
"Kuliahku memang dibayar Ibu kau, lantas apa? Kamu dan Ibu kau yang sudah mati, ingin minta uang balas jasa?"
Efan menahan tangan Yumi supaya tidak mendekati pria b******k itu. "Baik, jika Aanda tidak mau- saya bisa mengajukan tuntutan. Yumi, kamu punya banyak bukti di handphone, bukan? Aku sudah copy semua pesan. Kamu tidak perlu khawatir, hakim pasti bisa baca semua bukti."
Yumi tidak tahu kenapa para polisi mau membantunya, tanpa sadar dia menyuarakan isi hati. "Bukankah kalian ingin uang? Aku harus bayar berapa? Aku tidak punya uang banyak."
Tanpa sadar, Yumi menuduh para polisi yang baik hati itu ingin melakukan korupsi.
Efan memukul kepala Yumi yang keras.
Yumi mengeluh kesakitan dan mengusapnya dengan lembut. "Sakiiit-"
Efan juga melakukan hal sama ke majikan gembul yang mendesis ke arahnya.
Hasan mengeong keras seolah ingin bertengkar dan menggoyangkan kaki depan, seolah ingin bertarung. Untung saja terhalang gendongan depan pet milik Yumi.