Pada akhirnya, setelah mendapat ancaman dari Efan, ayah kandung Yumi berjanji tidak akan mengganggu kehidupan anaknya dan tidak akan membuat wanita itu menanggung tanggung jawab yang dibuatnya.
Pada awalnya, ayah Yumi keberatan karena tidak ingin istri barunya tahu jumlah hutang yang dia miliki dan memohon ke Yumi.
"Ayah berjanji akan membayar semua hutang, Ayah transfer ke kamu beserta bunga."
Yumi tidak percaya pada janji palsu ayahnya lagi. "Ibu selalu percaya janji Ayah, tidak denganku. Jadi jangan bermimpi aku akan menanggungnya."
"Aku tidak akan menyuruh kamu menanggungnya, hanya dalam nama saja. Pasti aku bayar."
Yumi mendengus kesal. "Menjalankan janji suci saja tidak becus, mau sok-sokan bayar hutang? Bodoh!"
Ayah Yumi menjadi kesal. "Apakah itu yang diajarkan ibu kamu selama sakit? Memaki ayah kandung sendiri?"
"Kau hanya menyebut diri sendiri Ayah jika menyangkut masalah hutang, tapi hendak memukul aku hanya karena ocehan tidak penting!" Yumi menjadi kesal.
Hasan juga kesal dengan ayah Yumi, gara-gara pria jahat itu, dia hanya makan rumput selama dua hari kejujuran dan satu minggu kebohongan.
Yumi masih mengusap kepalanya yang dipukul Efan, Hasan mengamati diam-diam ayah Yumi sambil menggosok kepalanya dengan kaki depan kanan, sesekali dijilat untuk membersihkan kotoran di kepala, yaitu bekas tangan Efan.
Efan membebaskan Yumi dengan syarat, diantaranya untuk berjanji tidak mengatakan kepada siapapun, siapa dirinya.
Yumi juga terlalu malas ikut campur masalah orang lain sehingga langsung menyetujuinya dan tanda tangan perjanjian.
Masalah perdukunan versus polisi sekaligus hutang ayahnya memang sudah selesai, namun masalah hutang perpinjolan belum selesai sama sekali.
Yumi cepat-cepat pulang ke rumah dengan bantuan mobil polisi dan mengunci semua pintu lalu mencari informasi mengenai pekerjaan sampingan yang membutuhkan uang besar.
Para tetangga yang penasaran, tidak berani mengganggu Yumi.
Tidak lama handphone tit tit Yumi bersuara.
Yumi yang terkejut bergegas mengangkatnya. "Hallo?"
"Anda jangan lari ya, buta mata dan telinga lalu kabur membawa uang perusahaan!"
Yumi bukannya gemetar ketakutan tapi malah semakin emosi. "Heh! Siapa ini?!"
"Anda pura-pura hilang ingatan? Kembalikan uang perusahaan kami!"
Yumi memegang erat handphone. Bukannya dia mau berhutang, namun keadaan yang memaksa. Tidak, mungkin dirinya juga salah karena nekat hutang pinjol.
Yumi memutus sambungan telepon lalu duduk bersandar di tempat tidur ibunya. Merindukan sosok ibu yang sudah tidak ada lagi.
Tidak ada yang peduli pada dirinya lagi,
Tidak ada yang mengingatkan dirinya lagi,
Dan tidak ada yang menemaninya lagi.
Yumi menangis dalam gelap, sengaja tidak menyalakan lampu untuk menghindari tukang pinjol.
Hasan menemani dan tidur di dekat kaki Yumi.
Tidak lama handphone Yumi bergetar.
Yumi melihat nomor penelepon yang dikenalnya lalu diangkat. "Hallo."
"Kamu sibuk nggak malam ini?"
"Ada apa?"
"Ada pemilik kucing minta tolong dicarikan kucingnya yang hilang, masih pakai kalung. Ada saksi yang melihatnya dia masuk ke dalam klub malam."
Yumi menertawakan keunikan si kucing. "Buat apa dia masuk ke dalam sana? Mau mabok?"
"Entah, kamu mau bantu nggak? Bayarannya lumayan lho kalau ketemu."
"Berapa? Satu juta?"
"Sepuluh juta!"
Yumi bangkit. "Serius?"
"Makanya itu kita bagi dua, bagaimana?"
"Mau, mau. Aku mau ikut!"
"Besok bukannya kamu kerja, nggak apa?"
Selama Yumi bisa mendapatkan uang banyak, dia tidak akan masalah tidur jam berapa pun. "Tidak apa, tidak masalah, aku baik-baik saja."
"Oke, aku tunggu jam delapan malam ya. Nanti aku kirim lokasinya ke tempat kamu."
Setelah memutus sambungan telepon, Yumi mendapat pesan dari temannya.
Dia dan Yumi menjalankan bisnis sampingan dengan mencari hewan peliharaan yang menghilang, tentu saja mereka berdua aktif di media sosial untuk melihat hadiah yang ditawarkan.
Yumi menepuk perut gendut Hasan. "Sekarang kamu tidak perlu takut lapar lagi beberapa hari ke depan."
Hasan hanya mengeong pasrah.
------
Jam delapan malam sesuai yang dijanjikan. Yumi turun dari angkot dan berjalan beberapa meter, menemukan klub malam yang dimaksud temannya, Vio.
Mereka berdua bertemu di grup pecinta hewan dan memiliki visi yang sama, yaitu menemukan kesayangan pemilik yang hilang sekaligus mengisi dompet mereka berdua.
Yumi dan Vio saling memberikan tatapan menilai lalu mengangguk puas.
"Untuk masuk di sana, harus membawa kartu identitas, kamu punya?" Tanya Vio ke Yumi.
Yumi mengangguk. "Tentu, tapi siapa yang membayar minuman di dalam?"
Vio menelan saliva. "Aku saja, aku turut berduka cita, maaf tidak bisa datang."
Yumi mengangguk paham. "Tidak apa, tidak masalah."
Yumi dan Vio masuk ke dalam klub lalu sama-sama menunjukkan identitas.
Yumi bertanya kepada Vio, suara musik muncul ketika mereka masuk ke dalam ruangan. "Kau yakin, kucing itu menyusup ke sini?"
Vio mengangguk. "Ya, aku yakin sekali."
Yumi berjalan di belakang Vio dengan khawatir, dia baru pertama kali masuk klub malam. "Kita harus cari mulai dari mana?"
"Berpencar."
"A- apa?" Tanya Yumi dengan panik. "Aku tidak pernah masuk ke klub malam."
Vio mendecak. "Anggap saja pengalaman pertama, jika kita bergerak bersamaan, tidak akan ketemu. Lumayan lho sepuluh juta."
Semangat Yumi kembali bangkit. "Oke, kita berpencar sekarang."
Vio menunjuk arah. "Aku di lantai satu, sementara kamu di lantai dua."
Yumi semakin panik, masalahnya dia tidak punya banyak uang. "Bagaimana bisa aku naik ke lantai atas? Bukankah di sana ada tulisan ruang VIP?"
Vio yang terbiasa dengan gelapnya klub malam, angkat tangan begitu melihat Vera. "Vera!"
Vera yang sedang mengantar minuman, terkejut melihat kedua teman onlinenya datang ke tempat kerja, dia menghampiri mereka berdua dengan cepat. "Kenapa kalian ke sini?"
Vio menjawab dengan jujur. "Kamu tahu bisnis kami berdua, kami mencari kucing yang hilang. Kau lihat?"
Yumi rasanya ingin memukul kepala Vio dengan nampan yang dibawa Vera. "Kau tahu Vera kerja di sini, tapi malah nekat datang?"
Vio berkacak pinggang. "Jika Vera yang menangkap kucing itu, otomatis dia yang akan menangkap hadiah. Kalau kita berdua tangkap, kita bisa kasih separuhnya saja ke dia."
Yumi memutar bola mata dengan kesal.
Vio menunjuk Yumi. "Kau bisa bantu dia naik ke lantai atas, untuk melihat apakah kucingnya ada di atas?"
Vera memeluk nampan di tangannya lalu melirik sekeliling. "Bisa, tapi Yumi juga jangan jauh dariku ya. Meskipun di sana tempat VIP, tetap saja tempatnya orang mata keranjang."
Yumi merasa dirinya tidak menarik, jadi percaya diri saja. "Ya, tidak masalah."
Kemudian, Vera dan Yumi berpisah dengan Vio untuk mencari kucing.
Vera bertanya ke Yumi. "Apakah kau sudah melihat gambar kucing? Handphone kamu kan jadul."
"Aku bawa selebaran di tas." Yumi menepuk tas selempang murahannya.
Vera menjadi sanksi dengan sikap percaya diri Yumi. "Kau yakin bisa melihat? Nanti di sana gelap, masalahnya kan kalau aku sedang melayani tamu, kau jadi sendirian mencari."
Yumi menunjuk kepalanya. "Yang penting aku sudah hafal di luar kepala, tidak perlu khawatir."
Vera dan Vio saling bertukar tatapan lalu menghela napas pasrah.
Yumi menyakinkan kedua temannya untuk tidak perlu khawatir. "Tenang saja, kalian berdua tidak perlu khawatir. Aku bisa jaga diri, kalau ada apa-apa- aku bisa kabur."
Vio menepuk bahu Vera. "Semangat menjaga beban."
Vera mengangguk pasrah.