REFAN

1026 Kata
Yumi buka mata, berdiri di ruang yang sangat gelap, bahkan tidak bisa melihat tangannya sendiri. "Ini di mana?" tanyanya dengan bingung. "Hallo, ini masih di rumah?" Seingat Yumi, dirinya di rumah dan baca buku, kenapa malah tiba-tiba di sini? Tiba-tiba dia merasakan panik dan sesak di d**a. Oh, tidak... apa aku akan mati? Yumi duduk di lantai sambil memegang dadanya yang sesak. "Aku tidak ingin mati, aku masih punya anak yang tidak bisa cari makan sendiri, aku juga ikhlas merawat meskipun tubuhnya gembrot. Aku ingin hidup." Tubuhnya semakin sesak dan tidak nyaman. "Apa aku dapat hukuman?" Keringat mulai muncul di kening. Tidak... Tidak... "AKU MASIH INGIN HIDUP!" teriak Yumi sambil buka mata dan tanpa sengaja menatap dua mata tajam. Yumi masih mencerna situasi yang dihadapinya sekarang, lalu sadar kalau tadi hanya mimpi. "Ah, Hasan." Hasan mengeong lembut. Yumi menghela napas lega meski agak sesak karena Hasan duduk santai di dadanya. Yumi mengambil handphone di atas nakas lalu mencari arti mimpi. "Benar-benar menakutkan tadi, buat apa mimpi seperti itu?" Hasan menguap lebar sambil menggoyangkan ekor dengan bosan. Yumi yang peka, menjawab dengan santai. "Sabar, aku harus cari arti mimpi tadi.. siapa tahu artinya buruk, aku harus hati-hati hari ini... oh, ketemu." Yumi menemukan arti mimpi tadi dan membacanya, supaya didengar Hasan. "Aku tadi mimpi tiba-tiba di tempat gelap dan sesak, yang bagian sesak, aku paham, itu ulahmu, artinya... rasa takut, kekhawatiran dan ketidak pastian yang tidak diketahui. Wah, menyebalkan sekali..." Yumi paling benci kejutan, dia taruh handphone di atas nakas lalu menutup mata dengan punggung tangan. Hasan yang melihat itu, bersuara keras. "Biarkan aku tidur lima menit." Hasan yang tidak sabar, berlarian di dalam kamar, menjadikan tubuh Yumi sebagai pijakan. Yumi segera bangun dan mengomel. "Iya, iya... aku bangun nih, astaga... punya anak satu berasa sepuluh." Hasan menghentikan aksinya dan duduk manis di dekat tempat tidur, menunggu Yumi turun dari tempat tidur. Yumi mau tidak mau turun dari tempat tidur. "Belajar dari mana sih kau?" Hasan mengikuti Yumi dengan gembira. *** "Apa?" Yumi menerima bekal dari penjaga sekolah. "Bekal lagi?" Penjaga sekolah mengangguk. Yumi menggaruk kepalanya dengan canggung. "Dari ketua yayasan?" "Siapa lagi yang bisa menyuruh saya ke sini?" tanya kepala penjaga dengan kesal. "Oh, begitu. Terima kasih, Pak." Penjaga sekolah mengangguk lagi lalu melirik Nadine yang diam-diam melirik dirinya. Nadine yang merasa bersalah, menyapa kakeknya dengan anggukan sekilas. Penjaga sekolah mengangguk sekilas lalu keluar dari ruangan, Ayumi yang masuk ke ruang guru, melirik sinis, pria tua itu. "Kenapa dia di sini?" "Ayumi, kenapa kau di sini?" tegur Nadine. Ayumi melirik Nadine sekilas lalu mengabaikannya, bicara pada Yumi. "Ada yang antar bekal lagi? Boleh makan bersama?" Nadine mengerutkan kening tidak suka. "Ini ruang guru, bukan tempat rekreasi." Ayumi menaikkan kedua alis, melihat semangkok bakso atau mie ayam di beberapa meja guru. "Beritahu saya perbedaannya, jelaskan secara masuk akal." Nadine hendak menjelaskan, namun seorang guru wanita yang duduk di sebelahnya memotong perdebatan mereka. "Ayumi boleh makan di sini, tidak perlu khawatir." Ayumi mendengus, lalu keluar dari ruang guru. Yumi yang hendak menyusul, mengurungkan niatnya ketika melihat muridnya masuk sambil mendorong kursi. Ayumi tersenyum. "Bu guru, kursi aku, taruh di sini ya." Yumi jadi bingung. "Sejak kapan kau..." "Yah, aku memutuskan makan siang bersama bu guru. Jauh lebih menyenangkan bersama guru yang merangkul daripada hanya berkomentar tidak penting." Nadine membalas ucapan Ayumi. "Guru di sini sangat peduli pada murid, maka dari itu kalian bisa bicarakan keluhannya pada kami." Ayumi tertawa sinis, sambil menarik Yumi untuk duduk. "Aku pernah mengadu, ada anak perempuan yang melukai aku hanya karena pacarnya melihatku lewat. Guru pebimbing malah berkomentar kenakalan anak zaman sekarang, wajar lalu guru itu malah menyebarkan masalah aku di ruangan ini sambil tertawa." Yumi terbelalak. "Ada kejadian seperti itu?" "Waktu awal aku masuk, bekal hari ini apa?" Yumi meletakkan tas bekal di meja lalu membukanya. "Oh, nasi goreng." "Masakan khas ya." Ayumi cekikikan. Yumi merasa tidak nyaman. "Ayumi, kau bisa tunggu di sini sebentar? Aku mau telepon dan bicara ke seseorag." "Yah, bilang terima kasih dengan kasih sayang mendalam." Ayumi mengibaskan tangan dan mulai mengeluarkan camilan dari kresek yang dibawanya. Yumi segera menjauh dari ruangan sambil menghubungi rumah. "Selamat siang." Yumi tersenyum begitu mendengar suara yang dikenalnya. "Kepala pelayan." "Nona, ada yang bisa saya bantu?" Yumi mengeratkan genggamannya. "Itu... aku... apa kakek ada?" "Tuan besar keluar siang ini." "Begitu." "Nona, Anda bisa menghubungi tuan..." "Tidak, aku tidak ingin mengganggu." "Ada yang ingin Anda sampaikan?" "Aku cuma ingin mengucapkan terima kasih sudah mengirim bekal dua hari berturut-turut... tapi, kalau kakek sibuk, sebaiknya tidak perlu." "Nona, yang buat makanan itu tuan muda Efan, kenapa Anda tidak menyampaikan langsung?" "Jadi, benar dia yang masak? Demi apa?" "Saya tidak tahu, Anda bisa tanya langsung." Yumi menggigit bibir bawah dengan bimbang. "Tidak, aku tidak bisa menghubunginya." "Tuan muda buat makanan, bukankah lebih baik Anda bicara langsung dan mengucapkan terima kasih?" "Akan aku pikirkan, terima kasih sarannya." "Saya tunggu kabar baiknya." Yumi menaikkan kedua alis dengan bingung, lalu menutup sambungan telepon sebelum basa-basi sebentar. "Kabar apa?" gumamnya, lalu menggeleng dan kembali ke ruang kerjanya. Dia melihat Ayumi sudah makan camilan sambil melihat film di handphone. "Camilan di sekolah memang buatan sendiri, tapi... tidakkah kau bisa makan yang bergizi?" "Nasi?" tanya Ayumi tanpa memalingkan wajahnya. "Salah satunya itu." Yumi mulai buka bekal. Ayumi mengintip dan tertawa kecil. "Oh, bekalnya lucu juga." Yumi mengambil sosis bentuk gurita dengan garpu kecil yang ujungnya berbentuk kepala kucing berwarna putih. "Wow." "Ah, aku iri. Rasanya ingin ada yang membuatkan bekal untukku." Ayumi tertawa. "Oh, jadi ini bekal buatan kakak?" Ayumi dan Yumi mendongak, melihat Refan berdiri di belakang mereka sambil tersenyum kecil. "Ketua osis?" Ayumi terkejut. Yumi juga tidak kalah terkejut. "Kau sekolah?" Refan tersenyum sedih. "Aku sudah bukan ketua osis lagi, waktu itu juga hanya menjabat sementara." Dia melirik Yumi. "Boleh gabung makan siang? Lama tidak masuk sekolah, rupanya aku belum mendapat teman." Ayumi mendengus keras begitu mendengar kebohongan Refan. Refan melempar tatapan peringatan ke Ayumi. Nadine yang melihat sosok Refan muncul, menawarkan diri. "Refan, kalau kau mau... bisa di sini, gabung dengan kami." Refan mengerutkan kening lalu menarik salah satu kursi guru yang tidak dipakai, duduk di sebelah kiri Yumi. "Di sini lebih nyaman." Sekarang Yumi duduk diapit dua remaja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN