"Menyakitimu bukan inginku. Harus ku akui, bahwa aku bukan laki-laki yang baik."—Aksa Delvin Orion.
***
Hubungan Andhara dan Aksa semakin membaik setelah baby Arsa semakin tumbuh besar. Andhara sangat gugup ketika Aksa mengajak Andhara dinner. Andhara sangat senang. Karena, untuk pertama kalinya, Aksa bersikap sangat manis pada Andhara. Andhara memakai dress panjang model sabrina berwarna putih dengan renda di d**a serta tali pita di pinggang Andhara. Rambut Andhara di gelung ke atas, menyisakan helaian anak rambutnya di kiri dan di kanan. Penampilan Aksa tak jauh beda. Aksa memakai kaos dalaman berwarna putih dilapisi blazer berwarna cokelat. Setelah berpamitan pada orang tua Aksa, mereka menuju tempat dinner yang masih dirahasiakan Aksa.
"Aksa, kita mau ke mana?" tanya Andhara ketika menyadari jalan yang mereka lalui menuju apartemen Sky Garden.
Aksa yang mengemudikan mobil, menoleh sekilas," dinner."
Dahi Andhara mengerut, ketika mobil Aksa memasuki basement apartemen. Aksa menggandeng tangan Andhara menuju lift. Andhara melirik Aksa yang lebih pendiam malam ini. Bunyi denting lift terbuka, menyentak lamunan Andhara. Aksa memakaikan penutup mata pada Andhara sebelum memasuki apartemen Aksa.
"Biar surprise," kata Aksa menuntun Andhara menuju balkon apartemen.
Aksa membuka kain penutup mata Andhara. Andhara tersenyum lebar menatap meja yang telah di tata sedemikian rupa. Aksa menarik kursi untuk Andhara.
"Kamu nyiapin semua ini untuk kita dinner?"
"Iya. Aku mau buat kejutan spesial yang enggak akan bisa kamu lupakan," balas Aksa melempar senyum.
Andhara mengulum senyum. Aksa menuang anggur merah di gelas memperhatikan Andhara lekat. Andhara salah tingkah, ketika Aksa mencuri pandang ketika mereka makan malam.
Selesai makan malam, Aksa memutar musik dansa di speaker blutooth. Aksa mengajak Andhara berdansa layaknya pasangan yang bahagia. Sebelumnya, Aksa menghabiskan anggur merah di botol yang tersisa. Tatapan mata Aksa menggelap. Andhara melonggarkan pegangan tangan Aksa di pinggangnya ketika merasakan sorot mata Aksa menatapnya tajam.
"A-Aksa," ucap Andhara terbata-bata.
"Kenapa Andhara? Kamu takut?" tanya Aksa tersenyum miring.
Andhara menelan saliva, lalu mundur dua langkah. Senyum Aksa membuat bulu kuduk Andhara meremang.
"Aksa, lebih baik kita pulang. Perasaan aku enggak enak," ajak Andhara menarik tangan Aksa.
Aksa memegang tangan Andhara, lalu menarik Andhara masuk ke pelukannya.
"Kenapa Dara? Bukannya ini yang kamu inginkan?"
Andhara mendorong d**a Aksa menjauh, namun tenaga Aksa lebih kuat membuat Andhara semakin dekat dengan Aksa.
"Aksa! Lepas! Kamu mabuk!"
Aksa tertawa," aku enggak mabuk Dara. Aku cuma mau mengikuti keinginan kamu."
"Keinginan apa Aksa? Maksud kamu apa? Aku enggak ngerti!"
Andhara meronta dari pelukan Aksa. Wajah Andhara pias. Andhara tidak ingin, Aksa melakukan sesuatu hal buruk padanya.
"Keinginan kamu?"
Aksa memegang kepala Andhara, lalu mencecap bibir Andhara dengan paksa. Andhara meronta, mendorong Aksa menjauh sekuat tenaga. Andhara melayangkan tangannya ke pipi Aksa. Aksa memegang pipinya yang terasa perih, lalu menyeringai.
"Enggak usah munafik Dara. Aku tahu, keinginan kamu lebih dari ini 'kan?"
Air mata menetes di pipi Andhara. Andhara kembali melayangkan tangannya ke pipi Aksa.
"Ayolah, Dara. Bukannya kamu menginginkannya?"
Lagi. Untuk ketiga kalinya, Andhara kembali melayangkan tangannya, namun di tahan Aksa. Aksa menghempas kasar tangan Andhara.
"Dasar cewek munafik! Gue enggak nyangka lo sejahat ini Dara!" Nada bicara Aksa naik dua oktaf.
"Maksud kamu apa? Aku enggak ngerti."
Napas Andhara naik turun menahan amarah. Wajah Andhara mulai pias.
Aksa tertawa ringan," lo yang udah kasih tahu Ana kalau gue udah nikahin lo!"
Air mata Andhara kembali menetes membasahi pipinya." Kamu nuduh aku tanpa bertanya Aksa?"
"Siapa lagi kalau bukan lo yang kasih tahu Ana! Cuma lo yang egois menginginkan gue selamanya jadi milik lo!"
Nada bicara Aksa naik dua oktaf. Tangan Andhara terkepal di sisi tubuhnya menatap bengis Aksa.
"Aku memang memiliki perasaan sama kamu Aksa. Tapi, aku tahu diri. Kehadiran kamu di hidup aku hanya karena baby Arsa. Aku enggak ada niat buat hubungan kamu sama Ana berantakan," aku Dara menghapus air matanya.
"Gara-gara lo, Ana putusin gue! Dan, gara-gara lo juga keluarga Ana enggak ngebolehin gue berhubungan dengan Ana lagi. Itu semua karena lo Andhara!"
Andhara kembali melayangkan tangan ke pipi Aksa. Wajah Andhara basah karena tangis Andhara pecah. Amarah Aksa memuncak. Andhara memundurkan langkahnya ketika tatapan Aksa semakin menggelap.
"Gue bakal bikin lo bayar semuanya Andhara. Kalau gue menderita, lo juga harus menderita!" kecam Aksa menarik tangan Andhara secara kasar masuk ke kamar. Andhara meronta ketika Aksa melempar Andhara ke kasur. Andhara menggeleng, lalu menjauh dari Aksa.
"Aksa please... kamu lagi mabuk. Jangan lalukan hal yang akan buat aku benci sama kamu, Sa," pinta Andhara memohon ketika Aksa membuka blazer serta kaos dalamannya.
Andhara beringsut menjauhi Aksa menuju pintu kamar. Ketika mendapat celah, Andhara melarikan diri. Aksa dengan sigap mengejar Andhara. Aksa menyeret Andhara kembali masuk ke kamar. Air mata Andhara sudah membanjiri wajahnya.
"Bukannya ini yang lo inginkan Andhara? Kenapa sekarang lo nolak, heh?" Aksa tertawa seperti psikopat membuat Andhara ketakutan.
Andhara mencegah Aksa mendekatinya dengan melempar barang-barang yang ada di sekitar kamar.
"Aksa, sadar! Apa yang kamu lakukan ini enggak akan menyelesaikan masalah!" jerit Andhara menghindar dari Aksa yang ingin menangkap Andhara.
Amarah Aksa yang semakin memuncak, membuat Aksa membanting tubuh Andhara kasar ke kasur. Andhara yang ingin melarikan diri, kalah cepat dari Aksa yang mengungkung Andhara di atasnya.
"Kamu enggak akan pernah melupakan malam ini Andhara ...."
Aksa menyeringai, Andhara menggelengkan kepala ketika Aksa mulai melakukan aksi tak bermoralnya pada Andhara. Bahkan, tangisan Andhara tak di pedulikan oleh Aksa. Andhara tidak bisa berkutik. Hanya air mata yang mengalir menjadi tanda kekecewaan Andhara pada Aksa.
Tangis Andhara teredam oleh guyuran air shower. Seluruh tubuh Andhara basah. Selama beberapa menit, Andhara membiarkan tubuhnya di sirami air shower. Sakit yang Andhara rasakan tidak sebanding dengan sakit yang ada dihatinya. Andhara sangat membenci Aksa. Sangat. Andhara menyudahi aktivitasnya, ketika terlintas bayangan baby Arsa yang menangis. Andhara mencari baju ganti di lemari. Andhara mengambil asal baju kaos dan celana panjang. Andhara tidak peduli meski malam semakin mencekam. Yang Andhara pedulikan hanya keadaan baby Arsa. Andhara tidak ingin merepotkan mertuanya dengan rewelan Aksa yang membutuhkan ASI Andhara. Andhara memerlukan bantuan seseorang. Dia mencari ponsel, lalu mendial nomor seseorang untuk menjemputnya. Suara omelan di seberang, tidak membuat Andhara mengurungkan niatnya meminta pertolongan.
"Jemput Dara sekarang!"
Andhara mengabaikan u*****n dan makian dari suara seberang telepon yang telah mengganggu waktu istirahatnya. Andhara mengirimkan tempat lokasinya berada.