"Aku tidak ingin melabuhkan hatiku pada dia, yang melabuhkan hatinya pada orang lain."—Andhara Kirana Mahestri.
***
Suasana rumah Aksa sangat ramai. Mengingat, teman-teman serta sepupu Aksa mengunjungi kediaman Aksa melihat baby Arsa. Aksa was-was, ketika melihat senyum yang tersungging dari bibir Geara.
"Kak Dara, Gea mau liat keponakan Gea dong," kata Geara pada Andhara.
Geara datang bersama orang tuanya. Para orang tua berada di ruang tamu, sedangkan para anak muda berkumpul di ruang tengah. Teman-teman Aksa yang lain ikut berkunjung. Andhara tak menyangka kedatangan banyak tamu di rumah Aksa. Untung saja, mereka berdua sudah selesai membersihkan diri pasca kejadian di kolam.
Gea menuju tempat box bayi yang berada di ruang tengah. Atas permintaan Aksa, box bayi tidak hanya berada di kamar, melainkan di ruang tengah. Aksa tidak ingin tidur baby Arsa terganggu tatkala berada di ruang tengah. Kata Aksa, biar enggak capek ke kamar kalau cuma mau nidurin baby Arsa.
"Ya ampun... lucu banget. Cantik kayak Kak Dara," puji Geara mengusap pipi baby Arsa.
"Jangan sentuh pipinya, entar dia kebangun Gea," peringat Aksa bergabung bersama teman-temannya.
Gea tak mempedulikan ucapan Aksa. Gea sibuk dengan baby Arsa.
"Noh, Dan. Geara nganggur. Lo gebet gih," kata Aksa mencomot kue bolu di meja.
"Enggak. Hati gue udah tertanam nama Karen seorang," ucap Dana bangga.
Andhara, Karen dan Wahyu saling melirik. Sementara Ana yang duduk di samping Aksa hanya berdiam diri.
"Kamu dari mana, Sayang? Udah makan?" tanya Aksa menoleh pada Ana.
Ana menatap Aksa yang menyelipkan rambut Ana ke telinga. Pandangan Andhara yang duduk di sofa seberang, memperhatikan interaksi Aksa dan Ana.
"Dari rumah. Tadi, teman-teman kamu jemput aku katanya mau jengukin baby Arsa. Yaudah, aku ikut," terang Ana.
Aksa yang gemas, menjawil pipi Ana. Aksa menyuapkan kue bolu yang tersisa
ditangannya untuk Ana.
"Yaelah, berasa liat telenovela gue," seloroh Dana menggigit kue bolu dengan gemas.
"Makanya, jangan jomlo Dan. Ngenes, 'kan lo," ejek Wahyu menghabiskan minuman jeruk di gelasnya hingga tandas.
"Udah deh, enggak usah ribut. Kalau di dengar Tante, enggak enak," lerai Karen.
Tangisan baby Arsa terdengar. Geara menyengir ketika pasang mata menatap Geara.
"Bukan gue yang bikin baby Arsa nangis."
"Kalau bukan elo, hantu?" sewot Aksa melihat baby Arsa di box bayi.
Andhara ikut mendekati Aksa. Memeriksa kenapa baby Arsa menangis.
"Baby Arsa kenapa Sa?" tanya Andhara melihat Aksa mengambil baby Arsa dari box bayi.
"Enggak tahu, kayaknya haus deh, Dar. Kamu kasih ASI aja ya?"
Aksa memindahkan baby Arsa ke tangan Andhara hati-hati. Pemandangan ini tak luput dari perhatian teman-teman Aksa.
"Mereka udah kayak pasangan suami istri ya," celetuk Geara mengompori.
Geara yang mengambil tempat duduk di samping Ana mengaduh, ketika kaki Wahyu sengaja menendang kaki Geara. Jarak tempat duduk Geara dan Wahyu berdekatan. Geara menatap Wahyu dengan mata memicing.
"Geara kenapa?" tanya Ana melihat ekspresi wajah Geara yang cemberut.
"Ah, ini, kaki gue kayak ada yang nendang."
Geara menjulurkan lidah, Wahyu berdecak kesal. Wahyu dan Geara dekat karena rumah mereka berdua bertetangga. Selain itu, Geara merupakan sepupu Aksa. Hal ini, terkadang membuat Karen cemburu ketika Wahyu sangat akrab dengan Geara.
"Siapa yang nendang kaki Geara?" tanya Ana polos.
Geara menunjuk Wahyu. Wahyu menyengir, lalu melototkan mata pada Geara.
"Enggak sengaja kok, Ana. Mau lurusin kaki tadi. Eh, ketendang kaki Geara."
Ana hanya mengangguk, lalu Aksa ikut bergabung bersama Ana kembali.
"Sengaja apa sengaja," sewot Karen memutar netra malas.
"Duh, pacar—"
Wahyu membekap mulut Geara sebelum Geara melanjutkan ucapannya.
"Ish! Tangan lo bau Wahyu!" ketus Geara menyentak tangan Wahyu.
Dahi Dana mengerut," Pacar? Maksud lo pacar siapa Geara?"
"Omong-omong, kalian ke rumah gue cuma datang bawa tangan kosong doang?" dalih Aksa mengalihkan perhatian.
"Jadi, lo mau kita bawain apa? Bom?" sahut Dana menyeletuk.
"Bawa makanan atau minuman kek, enggak modal banget," cibir Aksa yang mendapat cubitan maut dari Ana.
"Bukan gitu maksudnya Aksa. Tadi, Ana udah mau beli makanan. Tapi, kata Dana tadi enggak usah. 'Kan, di rumah Aksa banyak makanan."
Ucapan polos dari Ana mengundang tawa. Aksa yang gemas merangkul Ana membuat pasang mata memandang iri pada mereka berdua. Tangisan baby Arsa terdengar di telinga Aksa. Aksa yang sigap bergegas menuju kamar Andhara.
"Gue ngikut ah, penasaran baby Arsa kenapa," pancing Geara melirik teman-teman Aksa yang saling pandang.
Geara menyusul langkah Aksa ke kamar. Diam-diam Geara tersenyum licik. Geara kesal, melihat Aksa yang tak kunjung
"Baby Arsa kenapa Dara? Suara tangisannya sampai ke bawah," kata Aksa panik melihat Andhara menimang baby Arsa.
"Aku enggak tahu Aksa. Tiba-tiba baby Arsa nangis kencang pas lagi tidur," balas Andhara panik.
"Coba aku yang gendong."
Aksa meminta Andhara memindahkan baby Arsa ke tangannya. Aksa dengan telaten menimang baby Arsa. Aksa menenangkan baby Arsa.
"Baby Arsa... jangan nangis lagi ya? Ini Papa. Kalau kamu nangis, Papa enggak akan nemani baby Arsa kalau tengah malam nangis lagi. Papa enggak mau nemani Mama lagi."
Papa?
Geara mengikuti teman-teman Aksa yang mengejar Ana. Ana kembali ke tempat duduknya semula dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
"An, lo baik-baik aja?" tanya Karen menatap Ana cemas.
"Apa hubungan Aksa dengan Kak Dara? Kenapa Aksa seolah-olah seperti orang tua yang siaga dengan anaknya?"
Pertanyaan menohok dari Ana membuat mereka bungkam. Ana menatap satu per satu temannya yang tidak berkutik.
"Lo enggak tahu kalau Aksa—"
"Aksa dapat amanat dari Arkan buat jaga baby Arsa."
Ucapan Geara terpotong ketika mendengar suara seseorang mendekati mereka.
"Om-om m***m yang ketemu sama Ana di swalayan 'kan?"
Ucapan polos Ana kembali mengundang tawa terutama Geara. Wajah tegang mereka perlahan mencair akibat melihat ekspresi Marsel yang merengut masam.
"Om Marsel?" goda Geara yang mendapat lemparan bantal sofa dari Marsel.
Alis Ana menukik tajam, ketika melihat keakraban Geara dengan Marsel.
"Gea, jangan deket-deket Om m***m ini! Kemarin, Ana dikejar sama Om ini. Padahal, Ana enggak salah," peringat Ana menjauhkan Geara dari Marsel.
Teman-teman yang lain menahan tawa. Sementara wajah Marsel merah padam menahan malu.
"Gea, kasih tahu temen lo, kalau gue bukan Om-om m***m seperti yang dia bilang," sewot Marsel mengerling sinis pada Ana.
"Loh, 'kan, emang bener. Om udah tua, ngakunya masih muda. Enggak baik, Om, bohong," celoteh Ana memandang raut wajah Marsel yang jengkel.
Marsel yang kesal, ikut bergabung kembali dengan para orang tua. Tawa yang lain pecah melihat kepolosan Ana. Sejenak, Ana melupakam kegusarannya terhadap hubungan Aksa dan Andhara.