BAB 15 | Terjerat Pesonamu

1053 Kata
"Aku tidak tahu, perasaan asing apa yang menyelusup di hatiku saat bersamamu."—Aksa Delvin Orion. *** Bagi seorang Ibu—Andhara—hal yang paling dinantikan adalah kelahiran buah hati yang selama sembilan bulan dalam kandungan lahir ke dunia. Andhara sangat bahagia, sekaligus merasa sedih karena ayah kandung bayinya sudah meninggal. Namun, Andhara berharap kebahagiaan kembali padanya. Andhara memandangi Arsa yang menggeliat di bawah sinar matahari pagi. Wajah Arsa memerah. Andhara masih memakai baju tidur ikut berjemur bersama Arsa di depan rumah. Hari Minggu, merupakan hari santai yang dimanfaatkan Aksa merenggangkan otot-ototnya yang kurang tidur karena menjaga baby Arsa yang rewel di tengah malam. Andhara dan Aksa bergantian menjaga baby Arsa. Lebih tepatnya, Aksa yang menjaga baby Arsa. Sedangkan Andhara, masih bisa tidur meski sekejap ketika baby Arsa ingin ASI. "Kalian di sini? Pantesan, aku cari di kamar enggak ada," kata Aksa menguap lebar menilik wajah baby Arsa yang memerah. "Baby Arsa harus dijemur kata Mama. Biar enggak mudah terserang penyakit. Lagian, berjemur pagi bikin kita sehat 'kan?" Aksa mengalihkan pandangan ke cakrawala. Matahari mulai bergeser, dan menyengat kulit. "Dari jam berapa kamu jemur baby Arsa?" "Jam tujuh." "Tadi aku bangun jam delapan lewat, udah hampir satu jam setengah kamu berjemur Dara? Kasian baby Arsa! Udahan jemurnya. Besok 'kan, masih bisa," omel Aksa menggiring mereka masuk ke rumah. "Liat tuh, wajahnya udah memerah. Kamu enggak kasian? Tidurnya jadi enggak nyenyak," cerocos Aksa mengomel seperti Ibu-Ibu yang memarahi anaknya. "Aksa, Dara ada apa?" tanya Mama Tyas yang mendengar keributan di ruang tengah. "Ini Ma. Dara kelamaan jemur baby Arsa. Entar, kalau baby Arsa sakit gimana?" Mama Tyas menghela napas," Mama kira ada apa. Wajib berjemur kalau bayi Arsa. Kamu 'kan bisa kasih tahu Dara baik-baik, enggak usah ngomel," celoteh Mama Tyas mendelik pada Aksa, lalu mengalihkan pandangan menatap Andhara," besok, kalau jemur baby Arsa jangan lama-lama Dara. Cukup setengah jam aja. Kasian dia kepanasan kalau lama-lama." Andhara mengangguk," iya, Ma. Yaudah, Dara bawa baby Arsa ke kamar ya," ujar Andhara yang diikuti Aksa. "Eits, kamu mau ke mana?" Mama Tyas menarik kerah kaos belakang Aksa. "Nyusul Dara lah, mau ke mana lagi Ma?" protes Aksa. Mama Tyas mengedikkan dagu ke arah kolam renang." Bersihkan kolam. Pak Ujang enggak masuk hari ini." "Hah? Masa Aksa disuruh bersihkan kolam? Aksa enggak mau. Aksa mau nemani baby Arsa," tolak Aksa menggerutu jengkel. Raut wajah Mama Tyas tersenyum licik. Mama Tyas mendekati telepon rumah mendial nomor seseorang. "Marsel, bisa ke rumah sekarang? Bantu Tante bersihkan kolam renang. Aksa enggak mau. Katanya, kamu mau belajar jadi mantu Tante yang baik?" Mama Tyas melirik ekspresi wajah Aksa yang masam. Aksa merengut, mendekati Mama Tyas. "Ngancam terus! Anak Mama Marsel apa Aksa sih?" gerutu Aksa menuruti perintah Mama Tyas. Mama Tyas memandang punggung Aksa menuju kolam renang. Setelahnya Mama Tyas cekikikan menuju kamar Andhara. Papa Ardian yang tengah santai di tepi kolam renang merasa terusik, ketika Aksa membersihkan sampah-sampah dedaunan yang bertebaran. "Ck, Aksa! Bisa enggak, kamu bersihkan kolam selesai Papa berenang?" "Enggak bisa Pa. Nanti siang panas. Aksa mau lanjut tidur," ketus Aksa melanjutkan kegiatannya. Papa Ardian mendengkus. Semakin lama, sikap menjengkelkan Marsel pindah pada Aksa. Setengah jam berlalu, Andhara selesai mengurus baby Arsa. Andhara merenggangkan otot-ototnya. Mama Tyas yang membantu Andhara, melirik baby Arsa yang tidur nyenyak. "Dara, kamu rilekskan diri sana. Biar Mama jaga baby Arsa. Kamu udah lama enggak santai di kolam berenang 'kan? Kebetulan Aksa lagi bersihkan kolam tuh," perintah Mama Tyas. Sekujur tubuh Andhara remuk. Memang, sejak mengandung baby Arsa, Andhara tidak pernah berenang lagi. Andhara hanya mencelupkan kakinya ke kolam. Ide Mama Tyas tidak buruk, pikir Andhara. "Yaudah, Ma. Dara mau ganti baju dulu," putus Andhara menuju lemari. Mama Tyas tersenyum memandang baby Arsa. Senyum Mama Tyas seperti senyuman merencanakan sesuatu. Andhara memakai baju handuk menelisik seluruh kolam yang sepi. Andhara mencari keberadaan Aksa, namun Aksa tidak ada. Andhara membuka baju handuk, meletakkan di kursi malas lalu masuk ke kolam. Andhara memakai baju tanktop dengan celana hot pans. Air kolam yang beriak, membuat Aksa mengerutkan dahi. "Pasti Papa yang berenang. Kolam udah bersih, seenaknya aja dikotorin lagi," gerutu Aksa menuju kolam renang. Mata Aksa membulat ketika melihat Andhara tampil seksi. Aksa menelan saliva melirik Andhara yang berenang. "s**t!" Rutuk Aksa. Aksa kalang kabut, antara ingin mendekati Andhara atau tidak. Pasalnya, Marsel selalu saja datang tiba-tiba. Aksa takut, Marsel memanfaatkan situasi. Aksa ikut menceburkan diri ke kolam. "Aksa? Kamu ngapain?" tanya Andhara ketika Aksa mendekat ke tengah kolam. "Kamu tanya aku ngapain? Siapa suruh kamu berenang pakai baju kayak gini? Kalau Marsel liat gimana?" cerocos Aksa. "Enggak ada Marsel. Enggak mungkin aku berenang pakai kebaya 'kan? Biasanya juga aku berenang kayak gini." Andhara tidak mempedulikan Aksa dan tetap melanjutkan kegiatannya. Aksa yang mulai kesal menarik Andhara untuk menepi. "Aksa! Lepas!" ronta Andhara ketika air kolam mulai menenggelamkan Andhara. Kolam sedalam dua meter, membuat Andhara tidak bisa menyeimbangi tubuhnya karena tarikan dari Aksa. Aksa memegangi Andhara, menariknya ke atas. Napas Andhara memburu ketika Andhara mengalungkan tangan di leher Aksa. Jarak wajah keduanya sangat dekat. "Kalau aku tenggelam gimana, hah?" sentak Andhara. " 'Kan, ada aku." "Lain kali, narik yang bener. Jangan asal main tarik Sa," gerutu Andhara mengatur napasnya. Pandangan Aksa tak lepas dari wajah Andhara yang cantik. Pandangan Aksa beralih pada bibir mungil tipis milik Andhara. Jakun Aksa naik turun ketika Andhara banyak bergerak. "Dara, kamu jangan banyak gerak bisa?" "Gimana enggak banyak gerak? Kita masih ditengah kolam Aksa! Kamu dari tadi— Mata Andhara membulat ketika benda kenyal menubruk bibirnya. Andhara mengedipkan mata sejenak. Rangkulan tangan Andhara semakin erat di leher Aksa, ketika Andhara ikut terbawa suasana mengikuti permainan Aksa. Beberapa saat, bibir keduanya saling bertautan. Andhara menjauhkan wajahnya dari Aksa. Napas Andhara memburu. Begitu juga dengan Aksa yang menyatukan dahi mereka berdua. "I'm so sorry Dara. Aku terbawa suasana." Andhara diam tanpa menjawab. Mata Andhara menyorot manik mata Aksa. Tergambar jelas, jika Aksa menyesal telah mencium Andhara. Grasak-grusuk dari tepi kolam membuat keduanya mengalihkan pandangan. Andhara mengalihkan pandangan ke arah lain. Wajah Andhara merah padam memandang dua makhluk yang sama-sama berarti bagi Andhara. "Jiwa jomlo gue meronta-ronta, liatin kalian! Pakai acara live di depan mata gue lagi," gerutu Marsel dramatis. "Makanya jangan jomlo. Liat nih, meski Om udah tua, udah laku. Enggak kayak kamu, masih muda tapi enggak laku-laku," cibir Papa Ardian. "Tante Tyas! Om Ardian ngebully Marsel!" adu Marsel seperti bocah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN