"Aku bahagia, ketika mendengar suaranya yang mungil seolah memanggilku untuk mendekapnya erat."—Andhara Kirana Mahestri.
***
Hubungan Aksa dan Ana semakin lengket bak lem seperti perangko kata Dana. Sejak dinner waktu lalu yang direncanakan teman-temannya, hubungan mereka perlahan membaik. Kini, hubungan Aksa dan Andhara yang sedang tidak baik-baik saja. Andhara menjaga jarak dengan Aksa sejak sikap Aksa berubah. Penantian yang di tunggu Aksa sejak lama membuat Aksa sangat bahagia melihat bayi mungil dalam box bayi menggeliat. Andhara yang keluar dari toilet, menatap Aksa yang mengganggu Arsa.
"Jangan diganggu, nanti baby Arsa bangun, Aksa," peringat Andhara melangkah pelan menuju kasur.
"Aku mau dengar suaranya Dara. Suara cemprengnya kayak kamu," kata Aksa masih mengganggu baby Arsa.
"Aksa—"
Andhara menghela napas. Aksa tersenyum girang mengambil baby Arsa dari box bayi. Aksa belajar menggendong bayi dari Mama Tyas. Dan, Mama Tyas juga mengajarkan Aksa bagaimana menenangkan baby Arsa ketika menangis. Aksa membawa baby Arsa ke pangkuan Andhara. Andhara berbalik, memunggungi Aksa memberi baby Arsa ASI.
"Dara, kamu udah nemu kepanjangan baby Arsa belum?" tanya Aksa yang memunggungi Andhara.
"Belum."
"Gimana kalau namanya Adara Fredella Arsa Orion. Artinya, perempuan cantik dan periang yang membawa kedamaian bagi semua orang."
Baby Arsa kembali terlelap ketika Andhara menyudahi memberi baby Arsa ASI. Andhara menenangkan baby Arsa yang kembali menggeliat.
"Makasih Aksa. Selama ini, kamu udah memperlakukan kami dengan sangat baik," tutur Andhara mengusap pipi baby Arsa yang cuby.
Dahi Aksa mengerut," Maksud kamu? Semua ini udah jadi tanggung jawab aku sebagai suami kamu."
Andhara memindahkan baby Arsa kembali ke box bayi yang diikuti Aksa.
"Baby Arsa pasti senang liat Papa sambungnya sangat menyayanginya."
"Dara, kamu kenapa? Omongan kamu jadi ngaco kayak gini?" Aksa memegang lengan Andhara menghadapnya.
Andhara menatap Aksa lekat. Sejujurnya, Andhara sangat merindukan kebersamaan mereka. Namun, Andhara menyadari. Jika, Aksa bukan miliknya. Andhara melepaskan tangan Aksa berbalik memunggungi Aksa. Bulir air mata mengalir di pipinya.
"Aku enggak apa-apa Aksa. Mungkin, karena capek ngurus baby Arsa," dalih Andhara.
"Aku balik ke kamar. Kalau kamu butuh sesuatu, panggil aku aja," pesan Aksa yang diangguki Andhara.
Andhara menutup pintu kamar, lalu tubuhnya merosot lemas di badan pintu. Andhara menutup mulut menahan tangis.
Adzan subuh yang berkumandang, membangunkan tidur lelap Andhara. Andhara tidak mendengar tangisan baby Arsa sejak semalam. Andhara bangkit dari kasur, menuju box bayi. Baby Arsa tidak ada. Andhara panik, lalu keluar dari kamar menuju kamar Aksa.
Andhara menyelenong masuk tanpa permisi. Andhara terkejut, lalu membalikkan badan ketika melihat Aksa t*******g d**a.
"Dara? Kamu kenapa enggak ketuk pintu dulu?"
Aksa mengambil kaos di lemari, lalu memakainya. Andhara menggigit bibir menahan malu.
"Aku panik cari baby Arsa. Makanya aku langsung masuk ke kamar kamu."
Ide jahil terlintas di benak Aksa. Aksa mendekati Andhara yang masih memunggungi Aksa.
"Yakin, enggak mau liat?" bisik Aksa di telinga Andhara.
"Ih, Aksa," ucap Andhara mendorong wajah Aksa dari telinganya.
Aksa menangkap tangan Andhara yang mendorong Aksa. Andhara dan Aksa saling menyelami tatapan masing-masing. Jantung Andhara memompa cepat. Sedangkan Aksa tak bedanya dengan Andhara. Sedikit perasaan asing menyelusup di hati Aksa. Aksa tidak tahu perasaan apa yang dia punya untuk Andhara.
"Aksa, baby Arsa—"
Ucapan Mama Tyas terputus ketika melihat Andhara dan Aksa saling tatap. Mama Tyas berdehem di depan pintu. Mereka berdua merasa canggung satu sama lain.
"Ma? Baby Arsa kenapa? Kenapa dia enggak ada nangis?" cecar Andhara memperhatikan seluruh tubuh baby Arsa.
Mama Tyas berdecak," baby Arsa baik-baik aja Dara. Semalam, dia nangis. Mama liat kamu tidurnya lelap banget. Jadi, Aksa minta Mama buat nenangin baby Arsa sementara kasih s**u formula biar kamu bisa istirahat. Mama tahu, kamu kelelahan jaga baby Arsa."
"Dara enggak akan lelah Ma, kalau untuk baby Arsa," tutur Andhara mengusap pipi baby Arsa yang menggeliat.
"Bentar lagi pasti nangis tu, Ma," sahut Aksa.
Mama Tyas terkekeh, memberikan baby Arsa pada Andhara yang ikut tersenyum simpul. Andhara mencium gemas baby Arsa yang ketika Andhara sentuh, pasti menangis. Baby Arsa sangat peka dengan Ibunya.
Suasana di rumah Aksa sangat ramai hanya karena kedatangan tamu yang tak diundang kata Aksa yang selalu mengganggu baby Arsa.
"Jangan ganggu baby Arsa Sel," tegur Aksa pada Marsel yang usil memegang pipi baby Arsa.
Marsel memiting Aksa diketiaknya karena kesal. Aksa selalu saja memanggilnya dengan sebutan nama. Andhara memijit pelipis melihat kelakuan Aksa dan Marsel. Baby Arsa tidak tenang ketika tidur.
"Aksa, Marsel. Bisa enggak kalian diam? Kalau enggak, keluar gih," usir Andhara galak.
"Galak bener lo Dar, kayak singa," cibir Marsel.
"Ngapain sih, lo datang pagi-pagi? Mau numpang sarapan?" sewot Aksa.
"Aksaa... panggil yang sopan. Bang Marsel. Gue lebih tua dari pada elu bocah," balas Marsel tidak terima.
Papa Ardian mendekati Aksa dan Marsel. Keduanya mengaduh kesakitan ketika Papa Ardian menjewer telinga mereka berdua hingga memerah. Raut wajah keduanya merengut.
"Kalian berdua kayak bocah. Liat tuh, Dara dari tadi susah kerja karena kalian berdua ribut terus," omel Papa Ardian.
Andhara menggendong baby Arsa yang sejak tadi tidak mau diam. Ketika Andhara meletakkannya, baby Arsa menangis. Andhara khawatir ketika selesai mandi baby Arsa tidak mau tidue seperti biasanya setelah diberi ASI.
"Biar aku coba gendong Dara," pinta Aksa.
Andhara memberikan baby Arsa pada Aksa dengan hati-hati. Rengekannya perlahan berhenti ketika Aksa mengajaknya berbicara. Seolah mengerti, baby Arsa diam menutup mata. Semua mata melirik Aksa yang sudah seperti Papa kandung baby Arsa.
"Dara, sepertinya baby Arsa merasakan kasih sayang seorang ayah dari Aksa," ujar Mama Tyas menatap cara Aksa menimang baby Arsa.
Andhara ikut memperhatikan interaksi Aksa dan baby Arsa. Sedangkan Marsel, mengusap punggung tangan Andhara.
"Biarkan baby Arsa mengenal sosok ayahnya Dara. Meski, Aksa hanya Papa sambungnya sementara. Karena, Marsel yang akan menjadi Papa sambung selamanya baby Arsa."
"Papa sambung selamanya, ndasmu!" sewot Papa Ardian.
Marsel, Andhara dan Mama Tyas tersenyum simpul, melihat raut wajah kesal Papa Ardian. Marsel sangat senang menggoda Papa Ardian. Kadang, itu Marsel lakukan hanya untuk mencairkan suasana. Marsel tahu, dari sorot mata Andhara yang terlihat sendu, menatap Aksa dan baby Arsa ketika mereka bersama. Marsel memang sudah menjalin keakraban dengan keluarga Arkan dan keluarga Andhara sejak Arkan masih hidup. Tidak heran, jika Marsel selalu usil mengganggu mereka. Selain itu, orang tua Marsel juga menjalin kerja sama dengan perusahaan mereka. Hanya saja, Marsel betah menjomlo, hingga Marsel melarikan diri ke Indonesia karena tidak ingin dijodohkan oleh orang tuanya.