BAB 13 | Pertemuan Aksa & Ana

1058 Kata
"Janji akan selalu teringkari, ketika satu per satu kebohongan mengambil alih kendali."—Aksa Delvin Orion. *** Selama beberapa minggu, Aksa dan Ana saling menghindar ketika bertemu di kampus. Hal ini, membuat Karen, Wahyu dan Dana bingung. Ketika mereka menanyakan pada Ana atau Aksa, jawaban mereka sama. Hubungan mereka baik-baik saja. Karen, Dana dan Wahyu mengatur siasat agar hubungan Ana dan Aksa menjadi dekat kembali.  "Karen, kita mau ke mana?"  "Kita ke suatu tempat yang bakal bikin senyum lo balik lagi," balas Karen mengerling sekilas pada Ana. Untuk pertama kalinya, Karen membawa mobil menjemput Ana. Ana mengerutkan kening ketika mobil yang di kendarai Karen melewati jalan yang sangat Ana kenali.  "Taman?"  Karen mengangguk. Ana semakin bingung menatap senyum misterius dari bibir Karen yang fokus menyetir.  Ana menolak, ketika Karen memintanya menutup mata dengain kain hitam. Namun, Karen meyakinkan Ana untuk menuntun Ana ke tempat yang mereka tuju. Karen memberi kode pada Wahyu dan Dana yang sama-sama membawa Aksa dengan menutup mata.  "Karen, Ana udah boleh buka mata 'kan?"  Suara Ana membuat Aksa membuka penutup kain hitam di matanya. Ana terkejut, ketika melihat Aksa yang berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri setelah membuka kain penutup di matanya.  "Aksa," lirih Ana melangkah mendekati Aksa. Pertemuan mereka sangat mendebarkan hati Wahyu, Dana dan Karen. Mereka takut, jika rencana mereka gagal menyatukan hubungan Aksa dan Ana. Karen membuka aplikasi video di ponselnya merekam momen pertemuan Aksa dan Ana. "KAMU—" Ana mengulum senyum, begitu juga dengan Aksa. Mereka terlihat canggung satu sama lain. "Ladies first," kata Aksa. "Kamu yang rencanain ini semua?" tanya Ana. Aksa melirik suasana taman yang disulap menjadi tempat untuk makan malam romantis. Lampu-lampu kecil yang menghiasi meja tempat makan berbentuk love. Aksa tersenyum simpul, begitu juga dengan Ana. "PASTI MEREKA!" Lagi, ucapan keduanya membuat mereka tertawa canggung. Aksa menatap Ana lekat. Ana mengalihkan pandangan karena gugup.  "Ana, bisakah aku mendapat kesempatan lagi untuk mengisi hati kamu?" tanya Aksa memegang tangan Ana. Ana menatap mata Aksa. Pancaran netra hitam Aksa terlihat tulus. Ana menggigit bibir, terlihat berpikir. "Kamu bisa janji, enggak akan bohong lagi?" Aksa mengangguk," trust me." Anggukan dari Ana membuat Aksa melebarkan senyum. Aksa memeluk Ana dengan erat. Senyum bahagia dari keduanya terpancar jelas. Aksa mengurai pelukannya membingkai wajah Ana. "May I?" tanya Aksa mengusap bibir tipis Ana.  Ana mengedip-ngedipkan matanya. Wajah Aksa mendekat. Ana menutup mata hingga merasakan benda kenyal menubruk bibirnya.  "Anak dibawah umur, dilarang liat," kata Dana menutup mata Karen. "Apaan sih, lo Dan! Gue udah dewasa. Lo aja kali yang tutup mata! Lo 'kan jomlo," cibir Karen menyudahi aktivitas merekamnya.  "Cih, gaya lo Dana! Emang elo udah pernah kissing?" imbuh Wahyu. "Pernah! Dalam mimpi," cengir Dana mengusap kepala belakang. Wahyu menempeleng pipi Dana yang diikuti Karen. Mata Dana membulat, ketika Karen menyentuh pipinya. "Ayang Karen nyentuh pipi Aa' Dana?"  Karen memutar netra malas mendengar ucapan Dana yang mode lebay. Wahyu yang geram, mengusap wajah Dana dengan tangannya. "Mamam tuh, tangan!" sewot Wahyu. "Njirr! Tangan lo bau terasi!" umpat Dana berlagak muntah. Karen tertawa," nasib jomlo begini." "Emang situ kagak jomlo?" sindir Dana mendelik pada Karen. "Enggak lah b**o! Udah jelas Karen tuna—" Karen melototkan mata, menendang kaki Wahyu refleks. Dahi Dana mengerut. "Tuna? Tunangan maksudnya? Tunangan siapa?" *** Andhara mengusap perutnya yang sudah semakin membesar. Andhara duduk di ayunan sofa samping rumah. Pandangan Andhara menerawang.  "Sayang? Kok, kamu masih di luar?" "Ah, Mama. Dara pengen cari udara segar Ma." Mama Tyas ikut duduk di samping Andhara, lalu mengusap perut Andhara. "Perut kamu udah gede aja Sayang. Enggak sadar, sebentar lagi kamu lahiran." Andhara menoleh," iya Ma. Dara juga enggak sabar nunggu baby Arsa lahir," Andhara mengalihkan perhatian ke perutnya. "Aksa ke mana Dara?"  "Pergi sama Dana, Wahyu katanya Ma," balas Andhara memperbaiki posisi duduknya agar nyaman. "Kamu sadar enggak sih, Dara. Selama kehamilan kamu makin besar, Aksa berubah?"  "Berubah gimana maksud Mama?" Mama Tyas tersenyum mengusap punggung tangan Andhara," jadi lebih perhatian dan sangat over protektif sama kamu." Mama salah. Prioritas Aksa itu baby Arsa Ma, bukan Dara. Andhara tersenyum tipis," wajar 'kan, Ma? Aksa enggak sabar baby Arsa lahir dan main sama dia." Mama Tyas terkekeh, mengingat kilasan masa lalu saat Aksa tidak setuju ketika Mama Tyas ingin memberi Aksa adik. Aksa mengatakan, jika Aksa punya adik bayi, dia tidak akan disayang lagi. "Kalau ingat waktu kecil, Aksa marah banget waktu Mama bilang kalau dia mau punya adik lagi. Dia takut enggak disayang lagi karena seluruh perhatian dipusatkan sama adik bayi. Makanya, sampai sekarang, Aksa enggak suka sama anak kecil. Tapi, perlakuan Aksa berbeda dengan baby Arsa. Mama harap, setelah baby Arsa lahir, Aksa akan menyayangi baby Arsa seperti anak kandungnya sendiri."  "Aamiin Ma, semoga." Andhara tersenyum, lalu Mama Tyas membantu Andhara masuk ke rumah. Suara klakson mobil di luar pagar memekakkan telinga. Papa Ardian sangat jengkel hingga mendekati asal suara. Andhara dan Mama Tyas ikut menyusul Papa Ardian. "Heh! Bocah gendeng! Enggak tahu ini udah malam?" hardik Papa Ardian pada pemilik mobil BMW berwarna hitam. "Siapa bilang masih siang, Om?"  Papa Ardian semakin kesal melihat laki-laki memakai pakaian casual keluar dari mobil. Andhara dan Mama Tyas hanya menggelengkan kepala. "Marsel," tegur Mama Tyas. "Masih hidup kamu ternyata," cibir Papa Ardian mendelik. "Masih dong, Om. Marsel 'kan, awet muda. Nah, Om udah awet tua," kekeh Marsel menatap ekspresi wajah Papa Ardian yang memerah. Marsel mengalihkan pandangan menatap Mama Tyas," Tante, bukain pagarnya lebar-lebar dong. Marsel mau masuk ke dalam. Kalau boleh ke kamar Andhara sekalian," kelakar Marsel membuat Papa Ardian ingin mencabik-cabik Marsel detik ini juga. "Pa, bukain pagarnya," perintah Mama Tyas. "Tapi, Ma—" Mama Tyas melototkan mata pada Papa Ardian. Mama Tyas selalu mengancam Papa Ardian tidur di luar peluk guling mati. Marsel tertawa puas meledek Papa Ardian. "Awas kamu!" Papa Ardian mendengkus, membuka pagar lebar-lebar.  Andhara dan Mama Tyas masuk lebih dulu ke rumah. Papa Ardian mengomel ketika menutup pagar. "Om Ardian! Marsel numpang tidur di kamar Andhara! Eh, mau tidur bareng Andhara!" jerit Marsel membuat Papa Ardian semakin jengkel. "MARSEL!" Marsel cekikikan ketika berhasil menggoda Papa Ardian yang sangat sensitif padanya. Marsel merupakan sahabat karib Arkan sejak kecil. Tak jarang, perlakuan Marsel yang selalu membuat Papa Ardian naik darah karena orang tua Marsel juga merupakan rekan bisnis Papa Arkan. Tingkah Marsel yang usil sejak dulu, tak pernah berubah menggoda Papa Ardian. Bahkan, Marsel selalu merongrong Mama Tyas hingga membuat Papa Ardian semakin frustrasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN