"Hanya kata maaf yang bisa terucap, ketika kebohongan kembali mengambil kendali."—Aksa Delvin Arion.
***
Tidak ada hadiah spesial yang Aksa berikan, seperti kejutan romantis ala sinetron. Kue tart, bunga, cokelat dan sejenisnya. Aksa hanya membawa Ana nongkrong di warung tenda payung pinggir jalan. Itu semua karena kesederhanaan seorang Rana Wulandari.
"Aksa, makasih ya, udah ingat ulang tahun Ana."
Ana melempar senyum pada Aksa duduk di bangku santai.
"Kamu kenapa mau dibawa ke sini? Kenapa enggak di kedai kopi Sejuk aja?"
"Mau beda suasana aja Aksa. Sesekali, kasih rezeki untuk para pedagang yang membutuhkan."
Aksa memandang Ana yang menggigit tusuk sate miliknya. Ana memakai baju turtle neck di lapisi jaket denim. Rambut panjangnya diikat seperti ekor kuda. Kesederhanaan seorang Rana Wulandari membuat Aksa jatuh hati. Hal inilah, yang membuat Aksa bisa membuka hati untuk Ana.
"Kamu lapar? Makannya pelan-pelan, Sayang," ucap Aksa melihat cara makan Ana yang seperti bocah berantakan di bibir.
Aksa menghapus sisa noda di bibir Ana menggunakan ibu jari. Ana tertegun menatap Aksa dari dekat. Jantung Ana jumpalitan, ketika wajah Aksa semakin dekat.
"Ah, ada nyamuk," kata Ana menepuk pipi Aksa.
Aksa meringis, Ana mengulum senyum. Ana hanya ingin mengerjai Aksa. Raut wajah Aksa yang kesal, sangat di sukai Ana.
Aksa tersenyum masam, mengusap pipinya. Aksa merogoh saku jaket jin, mengambil kotak warna hitam. "Hadiah buat kamu," Aksa menyodorkan kotak hitam itu pada Ana.
"Isinya apa?" Ana membuka kotak hitam itu.
"Kamu suka?"
"Gelangnya bagus banget, Ana suka ...." Mata Ana berbinar-binar menilik gelang bracelet Korea di tangannya.
Aksa mengambil gelang itu dari tangan Ana memakaikannya di tangan sebelah kiri.
"Gelang ini, sengaja aku pilih batu permatanya warna putih, karena warna ini melambangkan kesucian, sebagai tanda kasih sayang," terang Aksa.
"Ana suka. Omong-omong, kenapa Aksa bisa dapat gelang secantik ini?" Ana memperhatikan gelang di tangannya.
"Oh, itu, Kak Dara yang pilihkan."
"Kamu pergi sama Kak Dara?" tanya Ana memandang Aksa.
"Iya, karena aku nggak tahu hadiah yang bagus buat cewek." Aksa menggaruk tengkuk.
"Oh ...." Ana tersenyum memandangi gelang di tangannya.
Aksa mengembuskan napas, melihat Ana yang sangat bahagia menerima hadiah kecil dari dirinya. Wajah cantik Ana yang polos, membuat hati kecil Aksa tercubit. Aksa tidak tega membohongi Ana lagi.
"Aksa, gelang ini kamu beli hanya untuk Ana kan?"
Dering ponsel Aksa memecah percakapan. Aksa menggulir layar ponsel menjawab.
"Kamu di mana Aksa?"
Suara Andhara di seberang telepon terlihat gelisah.
"Ada apa?"
"Kamu bisa pulang enggak? Papa, Mama makan malam di rumah."
"Gue enggak bisa." Aksa melirik Ana yang mengerutkan dahi menatap Aksa.
"Aksa, please ... kali ini aja."
"Gue bilang, enggak ya enggak." Aksa mematikan ponsel secara sepihak.
"Siapa?"
"Kak Dara."
"Kok, kamu panggil gue, lo sama Kak Dara?" selidik Ana.
"Ah, itu, beda umur kan, bukan jadi penghalang buat nama panggilan. Biar lebih akrab aja," dalih Aksa.
"Oh ....". Ana mengangguk, menyeruput jus alpukat di meja.
Dering ponsel Aksa kembali berbunyi. Aksa menggulir layar ponsel menjawab.
"Apalagi, sih, Dara? Gue udah bilang, kalau gue enggak mau pulang!" Nada suara Aksa naik dua oktaf.
"Berani kamu hardik Mama, Aksa?"
Suara di seberang telepon membuat Aksa terkejut. Aksa menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Maaf, Ma, Aksa kira Dara." Aksa melirik Ana kembali, menjauh dari tempat duduknya.
"Jadi, gini cara bicara kamu sama Dara?"
"Enggak, Ma. Bukan gitu." Aksa mengusap wajah gusar.
"Bukan gitu gimana? Mama enggak mau tahu, pokoknya sekarang kamu pulang!"
"Tapi, Ma, Aksa—"
"Pulang atau Shareen Mama titipkan di penitipan kucing."
Aksa berdecak ketika Mama Tyas menutup telepon. Aksa kembali ke tempat duduknya.
"Ada apa Aksa?" tanya Ana menilik raut wajah Aksa yang kesal.
"Mama suruh aku pulang."
"Kenapa wajah kamu keliatan kesal?"
"Kita baru aja ketemu, masa udah pulang aja?"
"Aksa, kalau tante Tyas nyuruh pulang, yaudah pulang. Siapa tahu ada sesuatu yang penting kan? Kan, di kampus kita masih bisa ketemu." Ana tersenyum menenangkan kegelisahan Aksa.
Ana, kalau aja kamu tahu, kenapa aku di suruh pulang sama Mama.
"Kamu enggak apa-apa? Ini hari spesial ulang tahun kamu."
"Enggak apa-apa. Yuk, pulang, nanti Mama kamu marah lagi," ajak Ana beranjak dari duduknya.
Sebenarnya, Ana masih ingin menikmati waktu bersama Aksa, tapi, yaudahlah, batin Ana.
"Maafin, aku, ya." Aksa mengusap rambut Ana yang di angguki Ana.
***
"Ma, kalau Aksa mikir Dara yang nyuruh Mama nelepon gimana?"
"Kamu takut? Dara, sebagai seorang istri itu udah kewajiban tahu kemana suami pergi," kata Mama Tyas mengembalikan ponsel pada Dara.
"Tapi, Ma—"
Denting bel berbunyi memotong ucapan Andhara.
"Enggak usah kebanyakan mikir. Yuk, sambut kedatangan orang tua kamu. Mereka udah di depan tuh," ajak Mama Tyas menuju pintu utama.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam, Reana, Mas Fajri," balas Mama Tyas tersenyum.
"Papa, Mama." Andhara bergantian memeluk orang tuanya.
"Kamu udah lama enggak jenguk Mama sama Papa," kata Mama Reana mengusap pipi Andhara lalu perut Andhara.
"Maaf, Ma, Pa. Dara suka lelah, dan mudah ngantuk sekarang sejak bertambahnya usia kandungan Dara," dalih Andhara.
"Andhara, pernikahan kamu baik-baik saja, bukan?" imbuh Papa Fajri.
"Baik, Pa. Masuk, yuk, Dara sama Mama Tyas udah siapin makan malam," ajak Andhara mengalihkan perhatian orang tuanya.
"Selamat malam, Pak Fajri," sapa Papa Ardian yang menyambut kedatangan Mama Reana dan Papa Fajri.
"Selamat malam, Pak Ardian."
"Ayo, mari duduk," ajak Mama Tyas.
"Dara, suami kamu ke mana?" tanya Papa Fajri tidak melihat tanda-tanda keberadaan Aksa.
"Hum, Aksa keluar Pa, tadi belikan pesanan Dara yang ngidam," bela Andhara.
"Oh, Papa kira keluyuran. 'Kan, biasanya anak muda zaman sekarang seperti itu, bisanya cuma keluyuran," cerocos Fajri.
"Assalammualaikum."
Mereka menoleh, melihat kedatangan Aksa yang menyelenong masuk.
"Waalaikumsalam."
Aksa menyalami tangan mertuanya.
"Aksa, kata Dara kamu beli pesanan ngidam Dara? Sekarang, mana pesanannya?" Fajri menilik Aksa yang tidak membawa apa pun di tangannya.
"Ah, iya, Dara minta martabak telur, tapi kosong, Pa. Jadi, Dara enggak mau kalau Aksa beliin martabak telur selain langganan Dara," dalih Aksa.
"Yaudah, Aksa duduk," perintah Mama Tyas.
Aksa duduk di samping Andhara. Mereka mulai makan malam. Andhara menyiapkan nasi, lauk pauk, sayuran ke piring Aksa seperti layaknya istri sesungguhnya.
"Lo udah makan?" tanya Aksa menatap Andhara tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
"LO?" Reana dan Papa Fajri serentak berbicara.
Mama Tyas dan Papa Ardian meringis.
"Kalian suami istri, kenapa panggil pakai bahasa anak gaul?" cecar Papa Fajri.
"Hm, Pa, ini karena umur Dara sama Aksa nggak beda jauh, makanya panggil kayak gitu," bela Andhara.
"Seharusnya panggil nama aja, Dara, Aksa. Jangan seperti itu. Nanti, anak kalian lahir ikut panggilan kayak gitu gimana?" Mama Reana ikut menyahut.
Aksa terdiam. Anak kalian? Lahir?
"Maaf, Pa, Ma. Aksa enggak akan panggil pakai bahasa gaul lagi kok. Ya, 'kan, Dara?" Aksa menatap Andhara.
Andhara mengangguk. Andhara kembali duduk, namun Andhara meringis memegang perutnya.
"Dara, kamu enggak apa-apa?" Aksa tanpa sadar mengusap perut Andhara.
"Aku enggak apa-apa kok."
"Wah, si baby kayaknya mau dielus tuh, sama Papanya," celetuk Papa Fajri menggoda.
"Kayak Mama dulu ya, Pa," sambung Mama Reana menggoda.
Mama Tyas dan Papa Ardian terkekeh ikut menggoda Aksa dan Dara yang terlihat canggung satu sama lain.