BAB 6 | Hadiah Ulang Tahun

1002 Kata
"Bukan orang yang sama, tapi caramu memperlakukanku mengingatkan aku akan sosok dia."—Andhara Kirana Mahestri. *** Dosen mata kuliah Manajemen Pemasaran mengajar di kelas Aksa. Dana dan Wahyu fokus mendengarkan dan mencatat poin penting yang dijelaskan Pak Hadi. Aksa memandang arah papan tulis, namun pikiran Aksa melayang. "Aksa, jelaskan apa saja ruang lingkup Manajemen Pemasaran," perintah Pak Hadi. Aksa yang memainkan pulpen di tangan, tidak mendengarkan. Wahyu yang duduk di belakang Aksa melempar pulpen. Aksa menoleh ke belakang. Sementara ekspresi wajah Wahyu meringis menunjuk ke depan. "Jika kamu tidak fokus dengan mata kuliah saya, silakan keluar!" Aksa berdecak kesal, menunggu di kedai kopi Sejuk, hingga Dana serta Wahyu keluar dari kelas. Wajah Aksa yang kusut, menjadi perhatian Wahyu dan Dana yang ikut bergabung. "Kecut banget tuh, muka. Kayak jeruk purut," celetuk Dana memanggil salah satu karyawannya untuk memesan minuman. "Lo kenapa enggak fokus Sa? Dikasih nilai D sama Pak Hadi nangis kejer lu," kata Wahyu yang ditoyor oleh Dana. "Eh, lo ngedoain Aksa dapat nilai D?" imbuh Dana. Wahyu menyengir. Aksa mendengkus. Aksa tidak fokus karena memikirkan Ana. Lusa, Ana ulang tahun. Aksa ingin memberikan sesuatu yang menjadi tanda kalau Aksa sangat mencintai Ana. "Hadiah ulang tahun buat cewek biasanya apa?" tanya Aksa tiba-tiba. "Yaelah, Sa. Emangnya, lo enggak tahu? Banyak kali. Boneka, baju, sepatu, tas, jam—" "Kalau itu gue tahu. Gue pengen yang lebih spesial dan berkesan," potong Aksa menyumbat mulut Wahyu dengan kentang goreng. "Lo tadi nanya, giliran gue jawab lo suruh diem," gerutu Wahyu mengunyah kentang goreng dengan kasar. "Minta pendapat Kak Dara aja. Dia kan, cewek?" usul Dana menimpali memandang Aksa dan Wahyu yang kebingungan. Dara? Bukan ide bagus. Gue tanya Mama aja deh, nanti, batin Aksa. *** Aksa mendekati Mama Tyas yang duduk di sofa membaca majalah fashion. Mama Tyas melirik Aksa yang duduk di sampingnya. "Kenapa? Enggak biasanya kamu pulang dari kampus duduk dekat Mama," selidik Mama Tyas. Aksa menggaruk rambutnya. Mama Tyas lebih dulu mengetahui niat Aksa. "Ma, hadiah buat cewek kalau ulang tahun apa selain boneka?" Mama Tyas menutup majalah, lalu menoleh pada Aksa. "Memang kenapa? Hadiah untuk siapa?" cecar Mama Tyas. "Jawab aja deh, Ma." "Kalung, cincin, liontin, tas, pokoknya barang kesukaan perempuan deh," celetuk Mama Tyas. "Itu mah, maunya Mama. Udah ah, Aksa nggak jadi nanya," gerutu Aksa pergi ke kamar. Mama Tyas menggeleng melihat sikap Aksa yang aneh. Aksa menggerutu sepanjang jalan menuju kamar. Aksa mengurungkan niat, ketika melirik pintu kamar Andhara. Aksa mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban. Aksa menyembulkan kepala mengintip. "Aksa?" Dahi Aksa terbentur sandingan dinding. Aksa mengusap dahi, lalu nyelenong pergi karena malu ketahuan dengan Andhara mengintip kamarnya. "Aku dengar, kamu cari hadiah untuk cewek? Hadiah untuk Ana?" Langkah Aksa berhenti, lalu berbalik menghadap Andhara. "Iya, kenapa?" "Mau Dara bantu?" tawar Andhara mengulum bibir. Aksa berpikir sesaat," yaudah, boleh. Gue siap-siap dulu. Lo izin sama Mama," Aksa melanjutkan langkahnya ke kamar. Andhara tersenyum lebar. Akhirnya, setelah sekian lama, dia bisa jalan-jalan dengan Aksa. Setelah mendapat izin serta wejangan dari Mama Tyas, Aksa dan Andhara pergi ke Mall. "Lo punya ide apa hadiah untuk Ana?" "Nanti, Dara kasih tahu." Aksa memutar roda kemudi memasuki parkiran Mall ternama di Jakarta. "Lo jangan jauh-jauh dari gue. Nanti Mama bisa ceramah tujuh hari tujuh malam kalau lo hilang," cerocos Aksa turun dari mobil. Andhara menghela napas. Sikap ketus dan omelan Aksa tidak pernah ketinggalan. "Lo niat enggak sih, bantu gue cari hadiah?" Aksa sangat kesal sudah hampir setengah jam mereka mutar-mutar mencari hadiah untuk Ana namun, tidak ketemu. Andhara memasuki toko aksesoris lucu. Aksa berdecak kesal mengikuti langkah Andhara. Aksa memperhatikan interaksi Andhara dengan pelayan toko. "Aksa, Ana suka pakai aksesoris enggak? Kayak anting, kalung, cincin, gelang?" Andhara memilih aksesoris yang menurutnya cantik tapi simple. "Ana biasanya suka pakai gelang." Andhara mengangguk, memilihkan gelang dengan saksama. Pilihan Andhara jatuh pada gelang perak bracelet Korea seperti tanduk rusa kecil yang di apit dengan batu seperti permata. Ada warna putih, biru dan pink. "Ini kayaknya cocok buat Ana," Andhara memilih gelang dengan batu warna putih. Aksa menilik gelang yang di tunjukkan Andhara. "Kenapa warna putih? Warna biru atau pink lebih manis," komentar Aksa. "Setiap warna memiliki arti masing-masing. Bagi Dara, warna putih itu melambangkan kesucian. Cinta dan kasih sayang untuk pasangan," Andhara memperhatikan gelang di tangannya. Aksa tertegun. Lalu Aksa memanggil pelayan toko. "Mbak, saya ambil ini dua." kata Aksa mengambil gelang dari tangan Andhara. "Baik, Mas," kata pelayan toko membungkus gelang pesanan Aksa. Dahi Andhara mengerut ketika Aksa memesan gelang lebih dari satu. Namun, Andhara hanya berpikir mungkin untuk Karen atau teman Aksa yang lain. "Ayo, pergi," ajak Aksa setelah membayar gelang itu. "Kita enggak langsung pulang?" tanya Andhara bingung ketika Aksa belok ke kanan dari arah pintu masuk toko aksesoris. "Makan dulu." Andhara mengikuti langkah kaki Aksa menuju Cafetarian. Aksa dan Andhara duduk di meja dekat dinding. "Mau makan apa?" "Terserah," sahut Andhara mengelus perutnya yang mulai menonjol. Kehamilan Andhara semakin tampak besar. Itu artinya, selama itu juga Aksa membohongi Ana. Usia kehamilan Andhara yang memasuki empat bulan, terkadang membuat Aksa hilang akal dengan permintaan aneh Andhara. Terkadang, ada rasa menggelitik ketika Aksa memenuhi ngidam Andhara. Aksa selalu membayangkan, jika Andhara itu Ana. "Aksa? Kak Dara?" Mereka menoleh, ketika melihat sepupu Aksa. Aksa pikir, itu Ana. Aksa berucap syukur dalam hati. Andhara menelisik wajah Aksa yang terlihat tegang. Andhara menghela napas, lalu mengalihkan pandangan pada Geara yang memegang banyak tas belanjaan. "Ck, Gea! Lo ngagetin gue!" "Kenapa? Lo takut, gue Ana yang pergoki elo jalan sama Kak Dara, heh?" ejek Geara menenteng tas belanjaan. "Belanja mulu. Bangkrut bokap lo entar," sindir Aksa melirik beberapa kantung belanjaan di tangan Geara. "s****n lo Sa!" Geara mendengkus. Terlintas sebuah ide yang akan membuat Aksa ketar-ketir." Eh, gue tadi ketemu Ana di depan. Lo emang enggak ketemu Sa? Yaudah, kalau gitu gue pesan makanan dulu ya, bye Kak Dara." Geara melambaikan tangan duduk di meja belakang Andhara dan Aksa. Geara tertawa melihat ekspresi wajah Aksa yang ketakutan. Andhara mengulum senyum mengerling pada Geara. Aksa yang mendengar tawa mengejek Geara mengumpat. Geara s****n! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN