BAB 5 | Bekal Makan Siang

1002 Kata
"Bagaimana pun menolak kenyataan, tak bisa dipungkiri. Jika arah tujuanku sudah berkelok."—Aksa Delvin Orion. *** Andhara menatap rantang mini berwarna pink dan biru di dapur. Selesai memasak, Andhara mencuci peralatan memasak. Andhara tidak sengaja melihat rantangan mini yang terselip di rak lemari. Pikiran Andhara berkelana. Biasanya, Andhara selalu bersemangat ketika selesai memasak. Tapi, kali ini, rasanya semangat Andhara menghilang. Andhara kehilangan semangat hidupnya.  Tepukan di pundak Andhara membuat dia menghapus air matanya yang menetes, menoleh pada Mama Tyas yang tersenyum lebar. "Enggak baik, Ibu hamil melamun. Kepikiran Arkan?" tebak Mama Tyas. Anggukan dari Andhara membuat Mama Tyas kembali tersenyum," Mama tahu, setiap makan siang, kamu selalu antar bekal buat Arkan. Kenapa kamu melamun? Kamu 'kan, bisa antar bekal buat Aksa?"  Andhara merenung. Usulan dari Mama Tyas membuat Andhara ragu. Andhara tidak ingin sia-sia datang ke kampus Aksa, jika Aksa tidak ingin memakan makanan yang dibawa Andhara.  Andhara menatap Mama Tyas," Dara takut, Aksa malu." "Enggak apa-apa sesekali buat Aksa malu di kampus. Toh, biar dia sadar kalau dia udah punya istri. Sekarang, kamu siap-siap gih, biar Mama yang siapin bekalnya," perintah Mama Tyas yang diangguki Andhara. Mama Tyas cekikikan ketika memasukkan makanan ke dalam rantang mini seperti anak TK. Mama Tyas ingin melihat seperti apa reaksi Aksa. Setengah jam berlalu, Andhara menginjakkan kaki di kampus Bunga Bangsa. Andhara menepuk jidat, ketika lupa menanyakan pada Mama Tyas hari ini jadwal kelas Aksa. Andhara bertanya satu per satu pada mahasiswi yang lewat. Mereka mengatakan, jika biasanya sehabis kelas Aksa dan teman-temannya berkumpul di kantin.  "Aksa!"  Aksa melototkan mata melihat Andhara dari kejauhan. Tawa Dana dan Wahyu memudar, ketika melihat Andhara memakai setelan jumpsuit membawa paper bag menuju ke tempat mereka. "Sa, kenapa Kak Dara ke sini?" tanya Wahyu. "Mana gue tahu," cetus Aksa memperhatikan keadaan sekitar. "Mampus lo Sa!" rutuk Dana pura-pura tidak tahu.  Mereka bertiga berbalik arah. Namun, Andhara sudah lebih dulu melihat mereka. "Eh, kalian mau ke mana?" tanya Andhara ketika Dana, Wahyu, serta Aksa pura-pura tidak melihat keberadaan Andhara. "Eh, Kak Dara? Perlu sama Dana ya Kak?" cengir Dana malu-malu yang ditoyor oleh Wahyu. Aksa menggaruk rambutnya, ketika melirik ekspresi wajah mahasiswi yang melewatinya.  "Lo ngapain di sini?"  "Dara bawa bekal buat Aksa," ujar Andhara menunjukkan rantang mini berwarna pink dan biru dari paper bag. Dana dan Wahyu menahan tawa. Mahasiswi yang lewat terang-terangan mengejek Aksa. Ada yang menertawakan Aksa, ada pula yang langsung mencemooh Aksa. Aksa yang geram menarik tangan Andhara mencari tempat yang sunyi. Aksa tidak ingin Ana atau Karen mengetahui jika Andhara datang ke kampus. "Maksud lo apa, bawa bekal kayak gini? Lo pikir gue anak TK hah?" omel Aksa kesal. "Enggak, siapa bilang. Arkan malah senang kok, Dara bawain bekal gini," balas Andhara melirik rantang mini di tangannya.  "Gue Aksa, bukan Arkan. Berapa kali gue bilang? Jangan pernah samakan gue sama Arkan!" ketus Aksa membentak Andhara. Mata Andhara berkaca-kaca. Hormon kehamilan Andhara membuat Andhara cepat sensitif dari biasanya.  "Kalau Aksa enggak mau, bilang baik-baik. Enggak usah ngebentak!"  Andhara menangis. Aksa semakin frustrasi. Aksa membawa Andhara ke ruangan seminar yang jarang dipakai. Andhara meletakkan rantang mini di meja.  "Bisa enggak, berhenti nangis? Kepala gue makin sakit!" Nada bicara Aksa naik dua oktaf. Aksa menyerah, ketika mendengar tangis Andhara semakin keras. Tangisan Andhara seperti bocah yang pernah Aksa temui di taman.  "Dara? Lo dengar gue 'kan? Berhenti nangis oke? Gue bakal ikuti mau lo. Sekarang, hentiin tangisan lo ya?" Nada bicara Aksa yang lembut ampuh menghentikan tangisan Andhara.  Andhara menoleh dengan mata berbinar terang," Beneran?"  "Iya," jawab Aksa memutar netra. Andhara kembali tersenyum lebar, menghapus sisa air matanya dengan tangan.  "Jorok banget sih, lo," protes Aksa mengambil tisu di kantung ransel miliknya.  Andhara tertegun, ketika menatap Aksa yang membersihkan sisa air matanya di pipi. Perlakuan manis Aksa mengingatkan Andhara dengan sikap manis Arkan yang tidak pernah membiarkan Andhara menangis. "Enggak usah ge-er! Kalau ketahuan sama Mama gue bikin lo nangis, gue enggak mau Shareen di kasih sama tuh, bocah nakal," gerutu Aksa mengambil tempat duduk di samping Andhara. Andhara tersentak dari lamunannya, bergegas membuka rantang mini mungil miliknya. Lauk pauk yang dibuat Andhara berhasil membuat Aksa meneteskan air liurnya. Sayur kangkung terasi dengan cumi-cumi saus tiram. Aksa dengan cekatan melahap semua makanan di rantang hingga habis tak tersisa.  "Katanya kayak anak TK bawa bekal. Enggak tahunya, isi rantang ludes semua," sindir Andhara merapikan rantang mini kembali.  "Ngomong liat orangnya. Masakan lo itu, makanan kesukaan gue," sambung Aksa mengambil minum di ransel miliknya.  "Dara belajar masak makanan kesukaan Aksa. Kata Mama, Aksa suka sayur kangkung terasi sama cumi-cumi saus tiram. Makanya, kalau Dara ngomong, dengerin. Main asal nyerocos aja. Untung, nih rantang enggak dibuang. Mubadzir 'kan?" Aksa yang gemas menjawil pipi Andhara." Kecil-kecil cabe rawit lo." Andhara memandang Aksa. Perlakuan kecil seperti ini, mengingatkan Andhara dengan Arkan lagi. Memang sikap keduanya berbeda. Tapi, sisi perhatian dari keduanya yang buat Andhara menyukainya. Aksa memutuskan kontak mata pada Andhara. Meski jarak umur mereka hanya berbeda tiga tahun, Aksa tidak ingin jatuh ke dalam pesona Andhara untuk kedua kalinya.  Aksa bangkit dari kursi, keluar dari ruang seminar tanpa sepatah kata yang diikuti Andhara dibelakang. Andhara menubruk punggung Aksa ketika Aksa menghentikan langkahnya. "Aksa?" "Ish, Aksa! Ke— Ana?"  Andhara melarikan matanya melihat Ana bersama Karen. Tatapan mata Aksa tertuju pada dua makhluk yang berada di belakang Ana dan Karen yang memberi kode dengan tangan, jika mereka tidak tahu apa-apa. Aksa memicingkan mata melirik dua makhluk di belakang Ana dan Karen yang sudah mencak-mencak tak karuan. "Kak Dara, kok, bisa ada di sini?" tanya Ana menilik Andhara yang membawa paper bag berwarna cokelat.  "Ah, itu. Kak Dara anterin buku catatan aku Sayang," bela Aksa. Dahi Ana mengerut. Aksa membawa Ana pergi sebelum sesuatu mencurigakan terjadi. Karen mendekati Andhara melirik isi paper bag. "Kak Dara mau Karen antar ke depan?" tawar Karen. "Boleh."  Karen mengambil posisi di sebelah kiri memastikan rasa penasarannya. Andhara dan Karen melangkah beriringan. Karen mencuri pandang, ketika Andhara menoleh ke arah lain. Rantang? Apa Kak Dara bawain Aksa makan siang? Sebenarnya, mereka ada hubungan apa, sih? batin Karen bertanya-tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN