"Sikap dan tindakanmu bertolak belakang—Andhara Kirana Mahestri.
***
Aksa menunduk di kolong meja makan, di bawah meja ruang tamu, dan di tempat yang memungkinkan Shareen bisa sembunyi. Namun, Shareen tak di temukan oleh Aksa.
"Kamu cari apa, Aksa?" Andhara yang keluar kamar ingin mengambil minum melihat Aksa mencari sesuatu.
"Shareen."
Dahi Andhara mengerut. Bukannya kata Mama Tyas sudah minta izin pada Aksa untuk memberikan pada Andi, bocah nakal kata Aksa yang selalu buat Aksa jengkel.
"Shareen? Bukannya Mama udah kasih Andi tadi pagi," tutur Andhara.
"MAMA!" teriakan Aksa mengundang perhatian Mama Tyas dan Papa Ardian di kamar.
"Aksa, jangan teriak. Nanti, teriakan kamu ganggu tetangga," peringat Andhara.
Aksa menatap nyalang Andhara," lo udah tahu Shareen dikasih sama bocah nakal itu. Kenapa lo enggak larang?"
Aksa berdecak kesal menunggu Mama dan Papanya keluar dari kamar. Mama Tyas dan Papa Ardian melangkah tergesa-gesa mendekati Aksa dan Andhara.
"Kenapa kamu teriak-teriak, Aksa?" tanya Mama Tyas.
"Ma, Shareen di kasih sama Andi? Kenapa Ma? Mama 'kan tahu, Shareen kucing kesayangan Aksa. Aksa nggak bisa tidur tanpa Shareen!" sentak Aksa menyugar rambut ke belakang.
"Mama—"
Bunyi bel memotong ucapan Mama Tyas yang ingin menjawab. Mama Tyas menuju pintu yang diikuti Papa Ardian, dan Andhara.
"Assalammualaikum, Bu Tyas, maaf mengganggu malam begini," sahut Sania—Mama Andi.
"Waalaikumsalam, Bu Sania. Ada apa ya?" Mama Tyas melirik Andi yang bersembunyi di belakang punggung Bu Sania.
"Ini Bu. Andi terbangun dari tidurnya, ganggu Shareen yang lagi tidur. Jadi enggak tahu kenapa, Shareen tiba-tiba gigit dan cakar tangan Andi. Andi refleks pukul Shareen."
Aksa yang ingin melihat tamu yang datang mendengar ucapan Mama Andi membuat amarah Aksa memuncak.
"Shareen-nya mana Tante?" tanya Andhara.
Andi keluar dari tempat persembunyiannya membawa Shareen dalam kardus. Aksa menyentak kardus, lalu memeriksa keadaan Shareen. Shareen mengeong panjang ketika dielus Aksa.
"Lo apain Shareen?" tukas Aksa menatap nyalang Andi yang ketakutan memeluk Mamanya.
"Andi Sayang... Shareen tadi di pukul di mana?" tanya Andhara lembut.
"A-Andi nggak sengaja," cicitnya sembunyi di balik punggung Mamanya.
"Tante, kalau terjadi sesuatu sama Shareen, Aksa enggak akan tinggal diam," ancam Aksa.
"Aksa!" tegur Papa Ardian menatap nyalang Aksa.
Aksa kembali memangku Shareen di tangannya. Shareen selalu mengeong panjang ketika Aksa mengelus punggungnya.
"Sebentar ya," kata Andhara masuk ke rumah mengambil kotak P3K.
"Ah, maafkan Aksa Bu Sania. Andi, jangan takut ya. Luka Andi enggak apa-apa?" sahut Mama Tyas lembut.
Andi menggeleng semakin takut. Mama Andi membujuk Andi untuk bertatap muka dengan Mama Tyas dan juga Papa Ardian serta Aksa.
"Baiklah, saya permisi Bu, maaf sekali lagi." Mama Andi pamit pulang membawa Andi.
"Tunggu." Andhara mendekati Andi memegang punggung tangannya yang terluka.
"Tangan Andi harus di obatin. Kalau enggak, nanti infeksi. Sebentar ya, Tante obatin," kata Andhara mengambil kapas dan betadine.
"Makasih, Tante cantik."
"Sama-sama, Sayang, cepat sembuh ya." Andhara mengusap kepala Andi.
Aksa mendengkus membawa Shareen masuk ke rumah. Shareen merupakan kucing kesayangan Aksa. Bukan karena Aksa lebay, tapi, kucing itu merupakan pemberian dari Arkan untuk Aksa. Kata Arkan, biar Aksa enggak jomlo.
Andi dan Mamanya pulang. Mama Tyas, Papa Ardian serta Andhara mengikuti Aksa yang duduk di sofa memperhatikan keadaan Shareen.
"Aksa, Shareen hanya binatang, kamu sampai segitunya sama Andi," tegur Mama Tyas.
"Ma, dari kecil Shareen Aksa rawat, sampai sebesar ini, Aksa enggak pernah pukul dia." Aksa mengelus bulu kecoklatan Shareen. Shareen mengeong seperti merasa kesakitan di bagian punggungnya.
"Aksa, hanya karena Shareen kamu sampai seperti ini? Bagaimana seandainya anak kamu yang diperlakukan Shareen kayak Andi? Apa kamu tega memarahi Andi, sedang anak kamu terluka?" cecar Ardian.
"Pa, Andi bukan anak Aksa. Itu berbeda," bantah Aksa.
"Enggak seharusnya kamu bicara seperti itu dengan Andi. Andi masih kecil Aksa," imbuh Andhara memperingatkan.
"Lo nggak usah ikut campur. Lo cuma kakak ipar gue, nggak lebih," cetus Aksa.
"AKSA!" Mama Tyas menatap tajam Aksa.
Aksa tak mempedulikan repetan orang tuanya. Tatapan Aksa fokus pada Shareen di pangkuannya.
"Jadi, kalau anak yang ada di kandungan Andhara nanti lahir, apa kamu memperlakukan sama seperti Andi hanya karena Shareen?" tebak Papa Ardian.
"Papa tahu jawabannya." Aksa pergi membawa Shareen ke kamarnya.
Papa Ardian naik pitam melihat perilaku Aksa. Mereka pikir, permintaan mereka untuk menikahi Andhara akan membuat Aksa menjadi lebih dewasa dan berpikir panjang, nyatanya sebaliknya.
"Papa, Mama, udah ya, sebaiknya kita istirahat. Dara enggak apa-apa kok," sahut Andhara mengalihkan perhatian Papa Ardian dan Mama Tyas.
"Tapi, Dara—"
"Dara ke kamar duluan ya, Ma," potong Andhara pergi ke kamar menghapus air matanya yang menetes.
***
Semburat pagi dengan sayup-sayup suara kicau burung menyapa Aksa. Pandangan Aksa mengabur, meraba sisi kasurnya mencari keberadaan Shareen. Aksa membuka mata. Shareen tidak ada. Aksa menyibak selimut menyentuh lantai ubin mencari keberadaan Shareen sekitar kamar. Aksa gelisah keluar dari kamar.
"Lo apain Shareen?" Aksa melihat Shareen di gendongan Andhara di depan pintu kamarnya.
"Aku obati Shareen. Shareen udah baikan kok."
"Lo masuk kamar gue?" Siapa yang izinin lo?" sarkas Aksa.
"Ma-maaf, Dara enggak sengaja."
"Yaudah, sini, Shareen," pinta Aksa mendekat mengambil Shareen di gendongan Andhara.
Shareen melompat tiba-tiba ketika Aksa ingin menggendongnya. Refleks, Andhara yang terkejut, limbung. Aksa menopang Andhara yang meringis.
"Lo baik-baik aja?" tanya Aksa memegang tangan Andhara.
Anggukan dari Andhara membuat Aksa bernapas lega. Aksa melepaskan tangannya ketika Andhara sudah berdiri tegak. Tiba-tiba, Andhara menginginkan sesuatu. Sikap Andhara ketika menginginkan sesuatu sangat mudah ditebak oleh Aksa. Andhara sangat suka menggigit bibir, memilin ujung bajunya.
"Lo ngidam apa lagi?"
Senyum Andhara tersungging lebar." Boleh enggak, Dara minta ke rumah Andi?"
Aksa mendengkus," yaelah. Tinggal ke rumah tu bocah. Apa urusannya sama gue?"
"Ada. Dara mau Aksa temani Dara."
"Pergi sendiri aja. Gue masih banyak urusan," tolak Aksa membawa Shareen ke kamar.
"Dara bilang Mama, biar Shareen dikasih sama Andi," ancam Andhara membuat langkah Aksa terhenti.
"Udah berani ngancem ya lo? Awas aja, hidup lo enggak bakal tenang!" gertak Aksa membanting pintu kamarnya.
Andhara mengelus d**a, lalu mengelus perutnya," Astagfirullah Nak, kelakuan kamu jangan sampai nanti kayak Papa Aksa ya? Kita pergi ke rumah Om Andi sendiri aja ya, Sayang," gumam Andhara riang menapaki anak tangga.
Dari balik pintu, samar-samar Aksa mendengarkan ucapan Andhara. Papa Aksa?