"Ada hati yang harus aku jaga—Dia."— Aksa Delvin Arion.
***
"Kamu enggak ada jadwal kelas hari ini kan, Sa?" tanya Ana duduk di kantin kampus.
"Enggak," jawab Aksa fokus dengan game di ponselnya.
"Yaudah! Ana mau main ke rumah Aksa dong? Ana pengen tahu rumah Aksa. Ana bosan, main ke apartemen terus," rayu Ana manja.
"Boleh. Kapan?"
"Sekarang. Ana udah enggak ada kelas lagi."
Aksa menoleh, menghentikan game yang dia mainkan. Aksa meletakkan ponsel di meja.
"Sekarang? Kok, tiba-tiba?" tanya Aksa gelagapan.
Dahi Ana mengerut," Loh, kamu kok, kayak gugup gitu? Biasanya, juga kamu yang sering ajak Ana. Giliran Ana ada waktu, kamu nolak."
"Iya, maksud aku kenapa mendadak?"
"Nggak cuma Ana kok. Dana, Wahyu, Karen juga ikut."
"Berduaan mulu! Entar ketiganya setan!" sambar Dana ikut bergabung.
"Lo setannya Dan!" tambah Wahyu mengejek.
"Enggak apa-apa gue setan. Selalu tahan ditolak berkali-kali sama Karen," celetuk Dana dramatis memandang Karen—sahabat Ana mengambil tempat duduk di sebelah Ana.
Ekspresi Wahyu mual. Sementara Ana melihat Dana mengedipkan mata melirik Karen." Dana sakit mata?"
Karen menahan tawa. Begitu juga dengan Wahyu. Dana hanya bisa mengelus d**a melihat kepolosan Ana.
"Bukan!" Dana mengalihkan pandangan pada Aksa," Sa, Ana polos banget? Sini, gue polosin!"
Aksa menatap tajam Dana yang menyengir. Wahyu menoyor kepala Dana yang asal menyeletuk.
"Maksud Dana apa?" sahut Ana bingung.
"Enggak ada Ana. Btw, boleh kan, kita ikut main ke rumah lo Sa?" Karen ikut menyahut mengalihkan perhatian Ana yang kepo akut.
Aksa menggaruk pelipis. Aksa menolehkan kepala sekilas pada Dana, dan Wahyu.
"Kalau Aksa enggak bisa, jangan dipaksa," cetus Wahyu yang mengerti situasi Aksa.
"Lo apa-apaan sih, Wahyu? Ana kan, pengen main ke rumah Aksa. Jadi, wajar dong kalau sebagai pacar ketemu calon mertua?" bantah Dana.
Wahyu melototkan mata pada Dana yang tidak mengerti situasi dan kondisi Aksa. Dana mengaduh, ketika kakinya ditendang.
"Tuh, kan. Dana aja setuju. Emang kamu ada kegiatan lain Sa?" tanya Ana lagi.
"Enggak, sih. Cuma aku takut ganggu Dara aja. Dara kan, lagi hamil," dalih Aksa mencari alasan.
"Apa hubungannya kehamilan Kak Dara sama Elo Sa?"
Lagi, Dana ikut menyahut. Aksa yang kesal menendang kaki Dana kembali.
"Awh! Kaki Ana sakit!"
Dana, Wahyu menahan tawa. Karen mengerutkan dahi melihat sikap mereka seperti menyembunyikan sesuatu.
"Enggak ada yang kalian sembunyiin kan? Gelagat kalian kayak ada sesuatu yang enggak boleh ada yang tahu?" imbuh Karen curiga.
"Enggak ada. Yaudah, kita ke rumah aku ya, Sayang." Aksa mengacak rambut Ana.
Wahyu dan Dana berbisik, tak luput dari perhatian Karen. Sementara Aksa dan Ana sibuk memperhatikan kaki Ana yang tak sengaja di tendang oleh Aksa di bawah meja kantin.
Seperti permintaan Ana pada Aksa, mereka akhirnya setuju pergi ke rumah Aksa. Ana dan Karen naik taksi, sedangkan para lelaki naik motor mereka masing-masing.
Rumah bercat kuning gading bertingkat dua menyambut kedatangan sahabat Aksa. Rumah dengan pilar kokoh yang di hiasi tanaman bunga-bunga di samping rumah terlihat asri. Ana dan Karen yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah Aksa berdecak kagum. Selama ini, mereka hanya diperbolehkan Aksa mengunjungi apartemen.
Aksa ragu-ragu menekan bel. Hingga, Dana yang mengambil alih tugas menekan bel berkali-kali.
"Sia—"
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Andhara.
"Halo, Kak Dara," sapa Dana melambaikan tangan sok akrab.
"Siapa ya?"
Pfttt... Karen, Wahyu, Ana menutup mulut menahan tawa. Dana menggaruk rambutnya menahan malu.
"Hahaha! Sok kenal lo Dan. Kak Dara kan baru pertama kali lihat kita," sahut Wahyu mengejek.
"Sahabat gue," sambung Aksa yang melihat ekspresi kebingungan di wajah Andhara.
"GUE?" serentak teman-teman Aksa.
"Maksudnya, Kak Dara," ralat Aksa cepat.
Karen menimpali," Yakin? Tadi di kantin perasaan lo sebut nama doang deh, tadi."
"Salah denger kali lo," bela Wahyu.
"Enggak mungkin salah dengar. Iya kan, Ana?" tanya Karen menatap Ana.
Ana mengingat kembali. Seingat Ana, memang Aksa menyebut nama Andhara dengan nama saja.
"Masuk, yuk," Andhara mengalihkan perhatian.
Mereka mengangguk, mengekori Andhara di belakang.
"Loh, ada tamu?" Mama Tyas yang baru keluar dari kamar melihat kedatangan teman-teman Aksa.
"Ma. Ini Ana, pacar Aksa," ungkap Aksa menautkan jemari di tangan Ana yang memiliki tubuh sintal tersipu malu.
Mama Tyas mengedipkan mata sesaat. Lalu, melirik raut wajah Andhara yang tersenyum kecut.
"Ah, lebih baik kalian duduk dulu," pinta Mama Tyas.
"Dara ke kamar ya, Ma. Perut Dara enggak enakan," pamit Andhara pada Mama Tyas.
Mama Tyas mengangguk. Lalu, menatap Ana serta Aksa bergantian yang duduk di sofa bersebelahan. Tautan tangan mereka yang masih tertaut menjadi perhatian Mama Tyas.
"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Mama Tyas to the point.
"Sejak satu tahun yang lalu, Tante," jawab Ana malu-malu.
Wahyu dan Dana menyelenong ke dapur. Karen yang melihat perilaku keduanya menggelengkan kepala.
"Tante, Wahyu sama Dana sering datang ke sini?" sahut Karen penasaran.
"Iya. Mereka sudah seperti anak Tante sejak Aksa selalu mengajak mereka main ke sini," jawab Mama Tyas tersenyum.
"Oh, pantesan. Kelakuan mereka enggak sopan," gerutu Karen.
"Ma, Aksa ganti baju dulu." Pamit Aksa menuju kamar.
Mama Tyas mengangguk. Mama Tyas kembali menginterogasi Ana. Sementara dahi Karen mengerut ketika pertanyaan dari Mama Tyas tidak seperti pertanyaan orang tua dari anak pacarnya.
Aksa mengerling sekilas. Pintu kamar Andhara sedikit terbuka. Aksa penasaran mendekati kamar Andhara. Aksa mengintip dari celah pintu. Andhara mengusap figura foto. Ketukan pintu mengalihkan perhatian Andhara.
"Lo baik-baik aja?" tanya Aksa melihat sisa air mata di pipi Andhara.
"Baik. Dara cuma kangen Arkan," kata Andhara menunduk mengusap foto Arkan.
Aksa hanya diam, lalu keluar dari kamar Andhara.
"Aksa," panggil Andhara.
Aksa berbalik, ketika Andhara mendekati Aksa di depan pintu.
"Kenapa Aksa nikahi Dara? Sementara Aksa punya pacar?"
"Gue menikahi lo, karena amanat dari bang Arkan. Cukup jaga kandungan lo baik-baik."
Tangan Aksa terkepal di sisi tubuhnya, keluar dari kamar Andhara. Aksa hanya menjaga agar perasaan yang sudah lama dia kubur dalam-dalam tidak kembali lagi. Ya, Aksa diam-diam mencintai Andhara sejak Arkan mengenalkan Andhara sebagai calon istri. Aksa bertemu pertama kali dengan Andhara saat Andhara menolong Aksa yang terjatuh dari motor. Sejak itu, Aksa jatuh cinta pandangan pertama pada Andhara. Namun, Aksa terluka ketika dia tahu jika Andhara akan menjadi kakak iparnya.
"Selama pacaran, Ana sama Aksa udah ngapain aja?" tanya Mama Tyas to the point.
"Hah?"
Wahyu dan Dana yang menyantap kue bolu di meja tersedak. Mereka buru-buru minum air putih di meja yang mereka bawa dari dapur. Sementara Karen menunduk menghindari tatapan Mama Tyas.
"Mama! Jangan nanya yang aneh-aneh," protes Aksa yang mendengar pertanyaan Mama Tyas dari anak tangga.
Mereka menoleh, ketika hentakan kaki Aksa bergegas mendekati tempat duduk mereka.
"Loh, ekspresi wajah kalian kenapa? Wajar kan, kalau Tante tanya? Apalagi Aksa kan—"
"Ma," potong Aksa memberi pelototan pada Mama Tyas yang dibalas Mama Tyas dengan mata memicing.
"Aksa apa Tante?" sambung Ana penasaran.
Karen menyenggol lengan Ana. Ana menoleh pada Karen yang melototkan mata.
"Enggak ada apa-apa," kata Mama Tyas mengalihkan pandangan ke Andhara yang mendekati mereka," Sayang? Kamu baik-baik aja? Kok, wajah kamu merah?"
Andhara tersenyum," Dara baik-baik aja Ma. Maaf ya Ma, Dara enggak bikinin mereka minum."
"Iya, Dana sama Wahyu bisa sendiri kok. Beneran kamu enggak apa-apa?"
Mama Tyas memindai seluruh tubuh Andhara, lalu memperhatikan bekas sisa air mata yang masih tercetak jelas. Mama Tyas mengusap pipi Andhara.
"Kalian udah makan siang?" dalih Andhara menatap teman-teman Aksa.
"Belum Kak. Perut Dana meronta dari tadi," celetuk Dana menyengir.
"Makan sama-sama yuk? Kakak tadi udah masak," ajak Andhara.
Dana menarik tangan Wahyu menuju dapur dengan perdebatan yang biasa terjadi pada mereka. Sedangkan raut wajah Karen dan Ana terbaca jelas ketika Andhara melirik gelagat mereka.
"Ana, Karen? Ayo. Biar lebih ramai."
"Ah, iya Kak," balas Ana menarik tangan Karen menuju dapur.
Aksa mengusap pundak Ana." Nanti, aku nyusul."
Ana mengangguk, lalu berpamitan pada Andhara. Mama Tyas melangkah lebih dulu yang diikuti oleh Karen dan Ana.
Andhara menoleh, ketika lengannya di tarik Aksa." Ada apa Aksa?"
"Lo enggak usah pura-pura akrab. Niat lo apa?"
"Dara enggak ada niat apa-apa. Kamu kenapa sih, Aksa? Setiap apa yang Dara lakukan, selalu salah," protes Andhara kesal.
"Gue minta, lo rahasiakan semua ini dari Ana."
"Tapi, kenapa Aksa? Daripada Ana tahu sendiri dari orang lain, hal ini akan sangat menyakiti Ana," bantah Andhara.
"Itu bukan urusan lo. Gue cuma minta lo bersikap seperti biasa dan anggap gue bukan suami lo. Tapi, adik ipar."
Aksa pergi meninggalkan Andhara menyusul teman-temannya. Andhara terduduk di sofa dengan hati yang remuk. Jantungnya seakan di remas kuat. Mengapa dirinya harus menjalani pernikahan hanya karena nyawa di rahimnya seperti ini?