Ketukkan tak beraturan itu menimbulkan suara yang bergerumuh. Hampir saja pintu dengan berbahan kayu jati itu rusak akibat ketukkan Alvaro yang terlalu keras. Jemari tangan kanannya memerah kala terus menerus mengetuknya. “Ini orang ke mana, sih!” kata Alvaro sambil menendang pintu tersebut dengan ujung sepatunya. Berkali-kali ia menelpon serta memanggil-manggil Dzaky, tak ada satu pun sahutan yang membuat dirinya lega. Sepupunya ini memang suka sekali merepotkan saat keadaan genting. Hampir saja Alvaro mendobrak pintu tersebut kalau saja Dzaky tidak buru-buru mencegahnya. “Woy, Alva! Baru aja rumah gue tinggal sebentar, tapi udah mau lo hancurin. Senang lo lihat gue menderita?” sungut Dzaky menarik lengan Alvaro untuk menjauhkan laki-laki itu dari pintu rumahnya. “Gue

