“Oke, meeting kita putuskan sampai sini saja. Terima kasih” Setelah mengatakan itu, Dzaky melenggang keluar dari ruangan rapat. Kali ini tujuannya adalah ruangan milik adik sepupunya sendiri, Alvaro. Entah apa yang dikerjakan laki-laki itu sampai tidak ingin memimpin rapat yang jelas-jelas sudah diputuskan minggu lalu. Untung saja ia bisa meng-handle semuanya agar tidak mengecewakan para direktur. Tepat saat Dzaky menuntaskan rapatnya, Jenia langsung bergegas mengikuti lelaki gagah itu. Tujuan mereka sama, yaitu ke ruangan Alvaro. Tanpa aba-aba Dzaky langsung memutar knop pintu tersebut. Dan hampir saja ia menyeburkan amarahnya kalau tidak cepat-cepat di tahan. Alvaro terlihat sangat mengenaskan. Rambut acak-acakkan, kemeja putih yang terlihat kusut, serta jas abu-abu yang singgah di s

