47. Unseen Sadness

724 Kata

Alvaro yang baru saja menyelesaikan cucian motornya pun menghampiri Dzaky yang terlihat senang. Wajahnya berseri-seri seakan cahaya matahari hanya menyinari dirinya. “Kenapa lo?” tanya Alvaro penasaran. Dzaky menggeleng singkat sambil melenggang pergi meninggalkan Alvaro yang dilanda kebingungan. Melihat kakak sepupunya yang sangat berbeda, Alvaro pun tidak ingin menyerah. Lelaki yang hanya beda beberapa tahun dengan Dzaky itu pun mulai menyusulnya. “Lo kenapa sih, Bang?” Kali ini wajah Alvaro terlihat sangat penasaran. Bahkan ia pun memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa senti saja. “Gue lapar. Lo masak dong,” pinta Dzaky sambil melepaskan jasnya. Alvaro mendengus kesal. “Baru aja gue mau delivery, Bang. Songong banget sih lo.” Dzaky tertawa singkat sambil menepuk-nepuk bahu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN