Akira semakin tidak mengerti akan cerita Ulya. Namun, hatinya mengatakan bahwa ini adalah jawaban dari semua pertanyaan yang ada di benaknya. Dengan sabar Akira pun mendengarkan cerita panjang yang Ulya ceritakan. Sampai dirinya merasa bahwa arah jalan ke sekolah semakin lama semakin jauh. Padahal biasanya ia hanya menghabiskan lima belas menit, itu pun karena busnya berhenti di setiap halte, tidak melaju dengan kecepatan rata-rata menggunakan mobil pribadi. “Sepeninggalnya dari bandara yang mengakibatkan seluruh anggota keluarganya pergi tanpa pamit, anak perempuan itu menjadi murung. Berkali-kali ia dinasehati agar tidak terlalu memikirkan keluarganya. Tidak sedikit anak-anak di panti asuhan itu mengajak dirinya bermain. Kalau dulu anak perempuan itu memang sangat menginginkan sebuah te

