Baru saja Ulya hendak menjawab, tiba-tiba sebuah papan nama mengalihkan perhatiannya. Itu adalah nama sekolah Akira. Tanpa pikir panjang Ulya pun menepikan mobilnya. “Udah nyampe, Ra,” kata Ulya sambil menunjuk ke arah luar. Sesaat Akira mengumpati situasi yang tidak tepat. Ia berharap bahwa sekolahnya lebih jauh daripada harus menahan rasa penasarannya. Namun, mau tak mau ia harus segera turun dari mobil. Karena jam sudah berdentingan mengalihkan perhatiannya. “Makasih. Gue pergi dulu,” pamit Akira sambil membuka pintu mobil. “Yoi, hati-hati,” ucap Ulya yang mendapatkan lambaian tangan dari Akira. Dan tanpa menunggu lama lagi, Ulya pun meninggalkan pekarangan sekolah itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tidak ingin ketinggalan penerbangan hari ini. Bertemu dengan Akira menjadik

