“Tadi gue ketemu Akira, Al,” celetuk Dzaky. “Di mana?” tanya Alvaro cepat. “Taman.” Dzaky menatap Alvaro intens. Sejenak Alvaro menyandarkan tubuhnya sambil berpikir bahwa apa yang dikatan Dzaky itu tidak benar. Mengapa Dzaky selalu mengatakan bahwa ia bertemu Akira di taman, padahal jelas-jelas rumah perempuan mungil itu bukanlah di sini, melainkan jauh dari apa yang dirinya duga. Namun, Dzaky takkan mempermainkan dirinya hingga mengada-ada seperti ini. Apalagi ia telah mengatakan bahwa bertemu Akira sebanyak dua kali. Hal yang sebenarnya bukan sebuah kebetulan semata. “Masa sih, Bang?” balas Alvaro sambil mengerutkan dahinya bingung. Dzaky mengangguk singkat. “Emangnya waktu itu lo nganterin Akira ke mana?” “Yang jelas bukan perumahan ini, Bang.” Alvaro tetap bersikeras bahwa Akir

