Sementara Jenia yang kewalahan pun hanya bisa pasrah dengan sikap karyawan hotel ini. sebab, kalau ia berteriak pun percuma saja. Karena lantai ini jarang sekali digunakan, bahkan untuk lewat pun rasanya sangat mustahil. Oleh sebab itu, daripada dirinya menghabiskan tenaga hanya untuk hal sia-sia lebih baik pasrah menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Di tengah kerisauan Jenia tiba-tiba terdengar suara bentakan yang amat familiar di telinganya. “Lepasin tangan busuk lo itu dari wanita gue, b*****h!” bentak Dzaky geram. Tatapan lelaki itu menghitam, seakan matanya dipenuhi oleh genjatan-genjatan emosi yang siap ia ledakkan kapanpun. Sedangkan karyawan itu menatap Dzaky ketakutan, lalu berlari meninggalkan keduanya tanpa berani menatap ke belakang. Dzaky menghampiri Jenia yang p

