“Bi, Mamah sama Papah belum pulang?” tanya Akira menghampiri salah satu asisten rumah tangganya. Ia adalah Bi Marsiah atau biasa dipanggil Bi Mar.
Melihat kedatangan Akira, Bi Mar tersenyum kecil. “Nona ketinggalan bus, ya?”
“Iya, Bi. Tapi, tadi Akira diantar kakak kelas. Jadi, agak malam banget.”
“Nyonya sama Tuan pulang malam, Nona mau apa?”
“Enggak, Bi. Aku udah makan di luar.”
“Ya sudah. Sekarang Nona mandi habis itu temani Bibi buat kue.”
Alis tebal hampir menyatu itu menukik ke atas dengan ujung yang sedikit naik. “Kue? Kue untuk apa?”
“Nyonya sama Tuan kan mau merayakan ulang tahun Kakek Hasbi. Nona lupa, ya.”
Seketika Akira menepuk dahinya pelan. “Untung Bibi mengingatkan.”
“Jadi, Nona harus mandi dulu, sekalian Bibi mencari bahan-bahannya di minimarket.”
“Ok, Bi.”
Akira pun meluncur ke lantai atas di mana tempat kamarnya berada. Sekilas ia melihat ruangan yang nampak gelap. Sepertinya Bi Mar lupa menyalakan lampu, ia pun memutuskan untuk menyalakan lampu. Akan tetapi, ada sebuah amplop yang menarik perhatiannya. Merasa sangat penasaran, Akira pun melangkah masuk. Ini adalah ruang kerja sekaligus ruang pribadi orang tuanya.
Hospital Center. Begitulah kop yang ada di atas amplop berwarna hijau. Tidak ada nama lagi selain nama rumah sakit serta alamat yang tidak jauh dari tempat Akira bersekolah. Namun, ia tidak ingin mengambil pusing dan segera pergi dari ruangan tersebut. Ia harus bergegas mandi sebelum Bi Mar kembali.
Air dingin menyerap pori-pori kulit Akira. Meninggalkan rasa dingin yang menyejukkan. Cermin di hadapannya beruap. Ini pasti ulahnya tadi ketika menyalakan air panas sekaligus air dingin secara bersamaan.
Tangan kiri Akira terulur untuk mengusap, sekilas ia bisa melihat wajahnya sendiri yang dipenuhi bulir-bulir air. Tangannya yang usil membentuk angka 2020 di pojok cermin. Entah apa maksud dari angka tersebut.
Setelah selesai dengan segala hal termasuk memberi makan pada Pushy, kucing kesayangannya. Akira menuruni tangga satu per satu. Pandangannya tertuju pada dapur yang nampak belum ada tanda-tanda Bi Mar. Sepertinya wanita paruh baya itu belum kembali. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi taman kecil. Akira penasaran bagaimana tumbuhnya tanaman anggrek milik Romi, papahnya.
Siapa tahu yang tahu kalau Romi ini sangat gemar sekali mengoleksi berbagai jenis anggrek. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Tanpa sadar Akira tersenyum melihat tanaman yang awalnya kecil sudah menjadi lumayan besar. Sampai tiba-tiba ponsel Akira berdering nyaring, membuat perempuan mungil itu merogoh saku kaus selututnya.
“Teh Echa, tumben nelpon. Ada apa?” sapa Akira sambil melangkah masuk.
“Kamu latihan kapan? Teteh ada waktu luang sekitar kamu berangkat jurnas.”
“Enggak tahu, Teh. Aku masih bimbang soal latihan.” Akira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu sekilas menatap keadaan di dalam rumahnya.
“Masalah pelatihan di dojo tenang aja. Teteh udah usulin dari cabang dan mereka sanggup gantiin kamu sementara waktu. Tapi, tinggal kamunya aja mau gimana.”
“Oke, Teh. Akira ikut.”
“Besok malam mulai latihan gimana? Kalau sekarang Teteh takut kamu ada perlu.”
“Siap, Teh.”
Tepat setelah telpon Akira berakhir terdengar suara seseorang masuk dari arah depan, sepertinya itu suara kedua orang tuanya. Tidak ramai hanya terdengar gemuruh langkah kaki yang tak beraturan. Akira pun melenggang keluar, ia ingin menyambut kedua orang tuanya.
Senyuman Akira terukir lebar, tangannya terkepal senang sekaligus bahagia. Ia bahkan hampir saja menjatuhkan diri kala bergegas melangkah keluar. Saking bersemangatnya melihat Khansa dan Romi pulang. Namun, senyum Akira luntur ketika mendapati itu bukanlah kedua orang tuanya, melainkan Bi Mar beserta Kakek Hasbi.
Rasa sesak menyelusup menjadi satu dengan rasa bahagia. Secepat mungkin Akira mengubah air mukanya agar terlihat tidak kecewa.
“Kakek!!!” seru Akira sambil merentangkan tangannya.
Merasa ada seseorang yang memanggilnya, Kakek Hasbi menoleh dan terkejut melihat Akira yang tersenyum sangat lebar. Ia pun membalas pelukan Akira dengan tak kalah erat. “Kakek pikir kamu latihan hari ini.”
Kepala Akira menggeleng pelan. “Mana mau Akira latihan kalau hari ini Hari Spesial Kakek.”
Kakek Hasbi tertawa kecil. “Kata Bi Mar, kamu mau buat kue, ya? Ayo Kakek Bantu, pasti seru.”
“Ayo, Kek.” Akira menarik lengan Kakek Hasbi pelan. Membawanya ke arah dapur yang diikuti Bi Mar dari belakang. Wanita paruh baya itu tersenyum sendu.
-Love is Sweet-
Tanpa sadar malam pun tiba. Namun, tidak ada tanda-tanda kedatangan Khansa dan Romi. Sejujurnya Akira sangat berharap orang tuanya tiba cepat malam ini. Hingga rasa sesak menyelinap masuk di lubuk hati Akira. Matanya berkaca-kaca memandangi kue yang telah siap untuk menjadi pesta kecil-kecilan.
Hingga sebuah tepukan mengejutkan Akira. Itu adalah Kakek Hasbi. Sejak tadi lelaki umur setengah abad itu memandangi Akira dengan tatapan sendu. Ia tahu bahwa Akira tengah memikirkan kedatangan Khansa. Hari ini memang sedikit aneh.
“Jangan melamun,” tegur Kakek Hasbi tersenyum tipis.
“Gimana kue buatan Akira, Kek?” tanya Akira berusaha mengalihkan perhatian. Ia yakin jika tidak cepat-cepat bertanya, sudah pasti Kakek Hasbi akan sedih. Ia tidak ingin memberi beban untuk kakeknya lagi.
Sejenak Kakek Hasbi menatap wajah Akira sendu. Ditatapnya bola mata coklat terang itu di bawah gemerlap cahaya. Seredup langit malam ini, tanpa bintang dan bulan. Bagaikan malam-malam yang lalu. Seakan mendukung suasana hati Akira.
“Bagus, Kakek suka.”
Ketika Akira dan Kakek Hasbi sibuk berbincang tiba-tiba Bi Mar datang sambil tergopoh-gopoh membuat Akira mengerutkan dahinya bingung. Sementara Kakek Hasbi hanya diam dan memperhatikan wanita paruh baya itu menetralkan napasnya yang tidak teratur.
“Bi Mar kenapa?” tanya Akira memegang bahu Bi Mar.
“Enggak, Non. Bibi hanya kelelahan tadi terima telpon sambil buru-buru naik ke lantai atas,” jawab Bi Mar tertawa kecil.
Seketika Akira melepaskan pegangan di bahu Bi Mar. Ia sedikit kesal dipermainkan oleh wanita paruh baya itu. Hampir saja dirinya ingin melempar Bi Mar ke pluto. Biar tidak melihat dirinya lagi. sedangkan Kakek Hasbi tersenyum tipis melihat kekesalan di wajah Akira.
“Telpon dari siapa, Bi?” tanya Kakek Hasbi.
“Fakhrie, Tuan Besar. Dia mencari Nona Khansa,” jawab Bi Mar.
Kakek Hasbi menghela napas pelan sambil melenggang pergi. Akira yang melihat keanehan dari wajah kakeknya hanya diam membisu. Ia tidak ingin mencampuri urusan orang dewasa, walaupun di hatinya merasa sangat penasaran, tetapi lebih baik diam dan menunggu Kakek Hasbi sendiri yang bercerita padanya.