8. Hostile Situation

655 Kata
Sinar mentari mengintip malu-malu melalui celah jendela. Mengaburkan setiap bayangan yang mengelilinginya. Tirai-tirai seakan berteriak marah kepada perempuan mungil yang tidak kunjung membuka mata. Terlelap dalam mimpi yang penuh ilusi, seakan ia tak rela membuyarkannya.   Bi Mar yang sejak tadi berlalu lalang pun enggan untuk membangunkan Akira, meski pintu kamar itu terbuka lebar. Menyelimuti seisi ruangan dengan sinar mentari yang masuk melalui tingkap jendela yang sengaja dibuka.   Kornea mata coklat terang itu nampak sangat persis dengan milik Akira. Menatap sendu seakan ia dalam keadaan hati bersedih. Hingga sebuah suara tiba-tiba membuat ia terkejut. Itu adalah tepukan di bahunya dari Khansa. Seorang wanita anggung yang sejak tadi malam di tunggu-tunggu kehadirannya.   “Papah, kenapa duduk di sini? Khansa pikir hari ini Papah pulang,” ucap Khansa dengan sedikit tidak bersahabat.   “Apa peduli kamu,” balas Kakek Hasbi tak peduli sambil memalingkan wajahnya malas.   Mulut mungil dengan sedikit berisi itu nampak menipis. Menahan kesal yang bergemuruh di hati. Khansa melenggang pergi sambil mendengus kesal, melihat betapa acuhnya Kakek Hasbi hari ini. Ia pikir setelah tadi malam datang, Kakek Hasbi tidak akan marah seperti ini. Tetapi, dugaannya salah.   Lagi-lagi Kakek Hasbi menahan rasa kesal akibat ulah putrinya sendiri. Sudah cukup lama ia memendam semua ini, namun semua hanya sia-sia. Tidak ada sikap Khansa yang bersahabat seperti dulu. Hanya ketus dan nampak tidak peduli. Kalau bukan permintaan Akira untuk menginap, ia tidak akan sudi tinggal di rumah ini barang semalam saja.   Sementara di kamar dengan penuh nuansa biru langit, nampak Akira mengerjapkan matanya sambil bergumam kesal. Ia memusuhi orang yang membuka jendelanya pagi ini. Bagaimana bisa sang pemilik kamar saja belum terbangun, tapi jendelanya sudah terbuka lebar-lebar hendak melahap Akira dengan sangat ganas.   Akira mulai merenggangkan tubuhnya, lalu beranjak ke arah kamar mandi. Sepertinya hari ini ia akan menghabiskan waktu banyak dengan kakeknya. Ngomong-ngomong soal kakek, ia baru teringat bahwa hari ini Kakek Hasbi menginap. Semoga saja kakeknya itu masih ada di sini, sebab Akira ingin mengunjungi mansion. Sudah lama ia tidak ke sana.   Dengan gerakan cepat Akira mulai membersihkan tubuh, tak lupa ia mandi sekaligus berendam. Rasa sejuk mulai memanjakan tubuh Akira. Rasa nyaman menyusup tanpa permisi membuat perempuan mungil itu mendadak ingin melanjutkan tidurnya. Tetapi, ia masih sangat waras jika harus kehabisan napas akibat kecerobohannya.   Merasa lebih baik Akira mulai menuntaskan mandinya. Dan bergerak cepat menyusul Kakek Hasbi. Ia takut kakeknya itu kabur lagi dan tanpa permisi kepadanya.   Dengan rambut tercepol asal serta kaus yang terlihat kebesaran, Akira mulai menuruni anak tangga di rumahnya satu per satu. Suara benturan antara sandal jepit dengan lantai membuat suara menjadi sangat nyaring.   “Bi Mar, Kakek di mana?” tanya Akira pada Bi Mar yang tengah sibuk menyapu halaman.   Bi Mar menoleh sambil tersenyum ramah. “Tuan Besar ada di garasi, Non. Bibi kira Tuan Besar mau pulang bersama Nona.”   “Kakek pulang? Kok enggak ngajak Akira,” keluh Akira sambil berlari kecil menuju garasi rumahnya.   Dan benar saja sebuah mobil sedan hitam terparkir cantik di dekat pagar, di sebelahnya ada Kakek Hasbi yang sibuk memeriksa mobilnya. Akira baru tersadar bahwa kakeknya ini pecinta mobil.   “Kakek!” panggil Akira lantang. Ia tersenyum lebar sambil berlari kecil membuat kunciran rambutnya sedikit mengendur dan bergoyang pelan.   “Udah bangun ternyata Miss Kebo ini,” canda Kakek Hasbi tertawa kecil melihat betapa segarnya wajah Akira hari ini.   Akira memegang lengan Kakek Hasbi sambil mengerucut lucu. “Kakek jahat mau ninggalin Akira.”   “Salah siapa kamu tidur terus. Tadi rencananya Kakek mau gendong kamu, tapi enggak jadi. Karena sekarang kamu udah berdiri di depan Kakek.”   “Iyalah. Kan Akira enggak mau tertinggal.”   “Berangkat sekarang atau sarapan dulu. Tadi Bi Mar bilang sarapan udah siap.”   Akira menggeleng pelan sambil tersenyum. “Sekarang aja, Kek.”   Demi menuruti permintaan Akira, Kakek Hasbi pun mulai menjalankan mobilnya. Tidak perlu berpamitan lagi, sebab ekor matanya tanpa sengaja menangkap Khansa tengah memperhatikan dirinya dan Akira dengan tatapan yang sulit di artikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN