Bukan seperti weekend biasanya, Alvaro nampak sangat rapi dengan pakaian santainya. Sangat berbeda dengan Kakek Wijaya yang sangat rapi dengan jas serta kemeja yang selalu melekat di tubuh sehatnya. Meskipun sudah berumur setengah abad, ternyata Kakek Wijaya merupakan sosok yang sangat kuat. Sederajat dengan kekuatan yang Alvaro miliki.
“Harus banget ya Kek, Alva pergi keliling bisnis. Mirip reseller temen-temen di kelas,” keluh Alvaro kesal. Berkali-kali ia menolak ajakan Kakek Wijaya dan berkali-kali pula Kakek Wijaya menentang keras.
Seakan lelaki paruh baya itu menulikan pendengarannya. Hingga Alvaro sendiri merasa sangat pengang mendengar suara keluahannya sendiri yang diabaikan. Suasana masih sangat pagi, bahkan masih ada segelintir orang yang melakukan olahraga pagi di taman. Hal yang sangat laki-laki itu sukai, selain sehat ia bisa mengincar salah satu wanita cantik di sana.
“Kamu itu jajan pakai uang Kakek. Beli ini itu pakai uang Kakek. Giliran di suruh mengantar aja ngeluhnya sehari semalam.” Suara berat itu nampak malas menanggapi perkataan Alvaro.
“Tapi, Kek. Sebagai cucu yang baik, Alva itu harus mengingatkan Pak Tua agar ingat dengan umurnya.”
“Kakek belum renta, Alva. Sampai harus berdiam diri di rumah. Sementara kamu foya-foya di luar. Apa harus Kakek meninggal dulu biar kamu paham?”
Bagai tersambar petir di siang bolong, perkataan Kakek Wijaya sangatlah menakutkan, membuat Alvaro buru-buru menepikan mobilnya. Lalu, menatap wajah sang kakek yang nampak acuh dengan ucapannya sendiri. Seakan tidak terjadi apa-apa, Kakek Wijaya malah membalas tatapan Alvaro dengan alis yang terangkat satu.
“Kakek jangan bicara sembarangan, Alva enggak suka!”
“Makanya jangan mengeluh. Kakek enggak pernah suka sama sifat kamu yang suka mengeluh itu. Belajar tegar, Alva. Kalau sikap kamu seperti ini, bagaimana bisa kamu menjadi kepala rumah tangga esok? Kakek mau kamu tidak seperti Fakhrie.”
Lagi-lagi Kakek Wijaya menyinggung soal Fakhrie yang sedikit membuat Alvaro tidak nyaman. Walaupun papahnya seorang pemain wanita yang fatal, tetapi tidak pernah ada salah satu wanita pun yang mau papahnya nikahi. Karena Alvaro tahu Fakhrie sangat menyayangi mamahnya, Keyara Aryasatya.
Setelah kematian mamahnya, Alvaro memang menjadi sedikit nakal dan tidak teratur. Bahkan ia sempat bermain wanita di salah satu club malam. Namun, berkat Kakek Wijaya yang datang tanpa permisi, lalu menyeret dirinya hingga ke parkiran. Tentu saja hal itu membuat Alvaro naik pitam.
Dan tanpa aba-aba ia meninju sudut bibir kakeknya. Seakan tahu yang ia lakukan itu salah, Alvaro bersujud sambil meminta maaf. Tidak seharusnya ia berperilaku kasar pada kakeknya. Karena kalau bukan Kakek Wijaya yang waktu itu menyeret Alvaro, mungkin sekarang laki-laki itu akan sama saja seperti papahnya. Suka bermain wanita tanpa memerdulikan perasaannya.
“Kek, satu hal yang Alva enggak suka, yaitu kematian. Alva enggak mau orang-orang yang Alva sayang selalu pergi meninggalkan Alva. Sebenarnya, apa salah Alva sampai mereka pergi tanpa pamit? Alva merasa Tuhan itu enggak adil, Kek.” Setetes air mata jatuh di pipi Alvaro. Tanpa sadar ia telah menangisi kematian mamahnya. Padahal bertahun-tahun sudah, tetapi luka dan kenangan itu masih tergambar jelas di benaknya.
Kakek Wijaya menatap Alvaro iba. Dalam hati ia berteriak marah pada keadaan, tapi hanya Alvaro yang bisa membuat dirinya melupakan sedikit masalah. Maka dari itu, sebisa mungkin ia mendidik Alvaro dengan benar. Ia tidak ingin cucu kebanggaannya ini mengalami hal yang sama seperti apa yang telah papahnya lakukan.
“Keyara enggak pernah suka lihat kamu menangis, Alva. Tapi, kalau kamu nangis buat dia, Kakek juga enggak bisa melarangnya.” Kakek Wijaya menepuk bahu Alvaro pelan sambil mengangguk singkat. Ia harus memberi kekuatan pada Alvaro.
Sebuah lengkungan menawan menyambut pandangan Kakek Wijaya. Alvaro memang bukanlah sesosok yang dapat diandalkan, tetapi laki-laki itu patut diberi apresiasi. Karena dengan kesedihannya, ia mampu bangkit dan menuju yang lebih baik lagi. Walaupun dalam hatinya menjerit tidak terima.
“Oh ya, kemarin hari pertama Alva sekolah, enggak ada satu orang pun mengenal Alva sebagai cucu dari pemilik sekolah itu. Pasti Kakek ya yang merencanakan semuanya?” tebak Alvaro membuat Kakek Wijaya mengusap tekuknya sambil tersenyum kecil.
“Katanya mau jadi murid biasa,” balas Kakek Wijaya tidak mau kalah.
“Enggak masalah sih, Kek. Tapi, tetap aja di sekolah Alva di kelilingin perempuan. Padahal Alva merasa tidak nyaman dengan mereka yang terlalu agresif,” ucap Alvaro sambil bergidik ngeri membayangkan betapa histerisnya satu sekolah saat itu sedang memperkenalkan diri kemarin.
Bahkan ada salah satu siswi yang nekat mendatangi kelasnya demi sebuah nama. Memang patut dihindari para perempuan seperti itu.
Wajah Kakek Wijaya berkerut bingung. “Setahu Kakek kamu diantar salah satu siswi, ya.”
Kepala Alvaro mengangguk kuat. “Dan hanya dia Kek yang enggak terpesona melihat wajah Alva ini. Padahal semua perempuan di sana teriak-teriak. Hanya dia, Kek.” sahut Alvaro kesal.
Kakek Wijaya semakin bingung dengan tingkah cucunya. “Kamu kenapa?”
“Alva kesal sekaligus bahagia,” jawab Alvaro tenang.
Kali ini ia memamerkan senyum menawannya. Ia memang terlampau senang kala mengingat kejadian dirinya dengan Akira. Seperti anak SD baru mengenal cinta, Alvaro nampak tersenyum sendiri membuat Kakek Wijaya bertanya-tanya.
“Kayaknya baru kali Kakek kamu enggak marah-marah perihal pindah sekolah.”
“Jelas. Karena Alva suka sama salah satu siswi di sana. Bukan suka sih, tapi tertarik aja. Karena hanya dia Kek yang enggak peduli sama Alva”
“Bagus itu. Kamu jadi enggak narsis banget kalau ketemu perempuan lagi. Siapa tahu perempuan itu bakal cuek dan enggak peduli sama siswi yang kamu maksud.”
“Misterius ya, Kek. Baru kali ini Alva sebegitu penasarannya sama perempuan.”
Lama kelamaan Kakek Wijaya penasaran dengan siswi yang Alvaro maksud. “Emang siapa siswi itu sampai kamu merasa seperti orang gila?”
“Namanya Akira, Kek.”