Airin melihat ponselnya tergeletak di kursi belakang, ia hendak pindah namun tangannya di tahan oleh Kalix. "Jangan bergerak, kau bisa terjatuh!" tegas Kalix menahan lengan Airin yang hendak beranjak. Ponselnya terus berdering namun ia tak bisa mengangkat karena jarak ponsel tersebut tak bisa diraih dengan tangan, kecuali Airin pindah ke belakang sayangnya Kalix tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Itu pasti Edwin," batinnya. "Apa lagi mau mu! tolong turunkan aku Kalix, Edwin pasti kebingungan mencari keberadaan ku," rengek Airin. Kalix kembali menggeram "Sepertinya yang ada di otakmu cuma pria itu ya," umpat Kalix. Kalix menghempaskan lengan Airin yang ia pegang, mukanya merah padam dan dia terus menggertakkan giginya. Airin tahu kalau suaminya itu benar-benar marah kali

