bc

Lebih dari Sahabat

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
arranged marriage
medieval
like
intro-logo
Uraian

Cara Meera membalas visa membuat sekujur badan merinding. Penghianatan dan keserakahan membuat dia harus

chap-preview
Pratinjau gratis
1
Kejadian di toilet perempuan dua hari lalu, semakin membuktikan bahwa Jovan hanya berhasrat pada Liza. Wanita itu membuatnya bersemangat melakukan aktivitas harian seperti biasa. Sekarang Jovan harus berjuang mendapatkan hati Liza dan keluarganya. Sebelum melakukan itu, tentu saja dia harus memperbaiki diri. Dia harus datang ke hadapan keluarga Liza dengan sosok yang baru. "Bisa jadi mereka masih marah dengan kelakuan kamu pada Liza," ucap Melani di meja makan, usai mendengar putra semata wayangnya akan berkunjung ke rumah Liza sore itu. "Itu sudah pasti, Ma, tapi gak ada salahnya mencoba." Melani menatap Jovan, mengabaikan menu sarapan di meja makan. "Coba bilang sama Mama, apa kamu serius punya perasaan pada Liza?" Sembari mengunyah nasi goreng lezat buatan Melani, Jovan menganggukkan kepala. "Aku sudah membuktikan semuanya dua hari lalu." "Dengan cara apa?" Kali ini Jovan bungkam. Tak mungkin menguraikan kejadian di toilet restoran. Melani akan mengamuk jika tahu putranya kembali bersikap kurang ajar pada Liza. "Aku cemburu waktu Liza makan sama cowok lain," ungkap Jovan. Melani membuang napas pendek. Kalau sudah begini, dia tidak bisa menahan. Melani membiarkan Jovan datang ke rumah keluarga Liza usai pulang bekerja nanti sore. Jovan bersiap pergi kerja, menuntaskan semua kewajibannya. Hingga pukul lima sore, pria itu keluar dari gedung perkantoran. Lebih dulu Jovan mampir ke sebuah toko kue, membawa beberapa buah tangan. Melajukan lagi kendaraan roda empatnya, Jovan membelah jalanan padat merayap untuk tiba di rumah keluarga Liza. "Sore, Tante," sapa Jovan, ketika pintu di depannya terbuka. Soraya menatap lama. Wajahnya terlihat serius. "Ya, ada apa?" "Saya ada urusan di sekitar sini, jadi memutuskan mampir. Ini kue untuk Tante." Jovan menyerahkan buah tangan yang dibawanya. Sedikit berbohong tidaklah buruk. Soraya tertegun, memerhatikan kue yang dibawa Jovan. Apa anak dari sahabatnya ini sedang bercanda? Kenapa dia tiba-tiba datang, setelah masalah di antara mereka mulai mereda? "Tolong diterima, Tante," pinta Jovan. Lamunan Soraya buyar seketika. Kepalanya mengangguk. Kue yang dibawa Jovan akhirnya diterima. Sulit untuk mengucapkan terima kasih, sebab rasa penasaran lebih mendominasi. "Kamu disuruh Mama kamu?" tuduh Soraya. Nada suaranya tidak terdengar ramah. Tidak dapat dipungkiri, Soraya masih sebal setengah mati pada Jovan. Gara-gara pria muda di depannya, masa depan Liza jadi terhambat, terlebih soal mendapatkan pasangan yang tulus. "Nggak, Tante. Mama memang tau aku ke sini, tapi bukan Mama yang nyuruh," jawab Jovan sejujurnya. "Oke, kuenya Tante terima," ucap Soraya. "Ada lagi yang mau kamu katakan?" Jovan menggeleng, segera berpamitan. Ya, hanya sampai sana. Jovan masih tidak berani melakukan apa-apa. Atau lebih tepatnya, dia segan pada Soraya, dan paham betul bagaimana pandangan wanita paruh baya itu terhadapnya. Akan tetapi, setelah kedatangannya sore itu, semangat Jovan makin membuncah. Dia selalu kembali tiap ada kesempatan, hanya memberikan kue, atau bunga yang dirangkai Melani sepenuh hati. Perlahan tapi pasti, perasaan Soraya dan suaminya luluh. Mereka tak dapat menolak kebaikan Jovan, yang terang-terangan ingin mengeratkan lagi hubungan yang sempat merenggang. Sejak saat itulah, pintu rumah Soraya selalu terbuka untuk Jovan. Sayangnya, Jovan tak pernah bisa bicara banyak dengan Liza. Wanita itu terang-terangan menghindarinya. *** "Sikapnya membingungkan," ucap Liza melihat Jovan datang lagi ke rumahnya. Liza hanya mengintip dari celah pintu, tidak berminat bergabung dengan percakapan seru di ruang tamu. Orang tuanya benar-benar mudah memaafkan, padahal dulu, mereka adalah orang yang paling lantang membicarakan betapa brengseknya seorang Jovan. "Entah bagaimana Melani dan suaminya membesarkan Jovan, sampai anak semata wayang mereka tumbuh jadi laki-laki penyuka seks!" Suara Soraya satu bulan lalu terngiang di telinga. Harusnya, Liza merekamnya, kemudian memutar rekaman itu saat Jovan datang ke rumahnya. Ya, agar Jovan merasa malu dan sadar diri. "Apa dia mau membujuk Mama dan Papa, supaya bisa berteman denganku?" Liza menunjuk diri sendiri, sesaat kemudian langsung berdecih. "Aku harus melakukan sesuatu," tambahnya lagi. Ya, Liza memang harus melakukan sesuatu, untuk membuktikan apakah Jovan sudah benar-benar berubah atau tidak. Liza pun bersiap, sengaja menunggu Jovan pulang. Tepat pukul dua siang, pria itu terdengar berpamitan pada kedua orang tuanya. Liza mengendap-endap menuju ruang belakang, masuk ke garasi. Dari tempatnya, dia melihat Jovan dan kedua orang tuanya di teras rumah. Karena tubuhnya yang mungil, Liza dengan mudah menyelinap ke mobil Jovan, menunggu di kursi belakang. Lehernya memanjang, lantas kembali menunduk saat Jovan masuk ke dalam mobil. Pria itu benar-benar berpamitan. Kendaraan roda empat milik Jovan melaju, meninggalkan rumah keluarga Liza. Usai melewati pagar menjulang tinggi, barulah Liza keluar. "Astaga!" pekik Jovan terkejut bukan main, melihat seseorang muncul di kursi tengah mobilnya. Dia menoleh, tercengang mendapati Liza. "Kamu ngapain?" tanyanya sembari mengusap d**a. Rasa terkejut itu nyata adanya. Mobil telah berhenti. Alih-alih menjawab, Liza berpindah ke kursi depan. Cukup susah payah, karena dia harus memanfaatkan celah yang ada. Duduk di kursi samping kemudi, wajahnya masih datar, berbeda dengan d**a yang mulai bergemuruh hebat. "Ada apa?" Jovan bertanya lagi. "Mau memastikan sesuatu," jawab Liza, mirip perkataan Jovan di toilet restoran. Mobil masih belum melaju di tengah kebingungan itu. Jovan menatap Liza, yang tampaknya ragu-ragu ketika ingin melakukan sesuatu. Lantas bola matanya melebar melihat wanita di sebelahnya mendekat, kemudian menundukkan kepala. "Liza!" hardik Jovan merasakan sentuhan di pahanya. Liza tidak terpengaruh dengan hardikan itu. Sentuhan tetap mendarat di paha Jovan, bergerak ke atas. Jovan menahan napas, menyaksikan jemari lentik Liza berusaha menurunkan resleting celananya. "Kamu sadar bahwa ini salah?" Jovan menahan tangan Liza, tapi wanita itu menepisnya. Liza tidak mau dihalangi. Pelajaran untuk Jovan harus tetap berlangsung. Dia ingin menjadikan pria itu nelangsa setengah mati. "Sadar, Liz, nanti kamu menyesal!" Lagi-lagi tak ada jawaban. Tangan Liza menyelinap masuk, meremas gundukan milik Jovan. Bulu kemaluan di dalam sana membuatnya merinding. Liza semakin nakal, mencari celah agar jemarinya bisa menyentuh langsung kulit p***s Jovan. Akhirnya berhasil! "Ah!" Jovan merapatkan kedua kaki. Ini sungguh gila, apalagi saat Liza berpindah ke atas pangkuannya, tidak peduli bahwa bisa saja seseorang memergoki aksinya di luar sana. Bibir Jovan disambar, digigit dan ditarik. Akal sehat masih dipertahankan sebaik mungkin. Jovan ingin Liza kembali ke tempat duduknya, tapi rasanya sulit. Lehernya dipeluk erat. Liza memiringkan kepala, menyedot leher Jovan sekuat tenaga. Suara menggairahkan terdengar nyaring. "Liz!" panggil Jovan dengan wajah memerah padam. Siapa yang tidak akan tergoda dengan kelakuan Liza saat ini? Jovan frustasi setengah mati. Suaranya keluar pelan, serupa geraman kuat, bersamaan dengan kedua tangan mengepal. Dia tegang, mulai berpikir apakah Liza akan melakukan sesuatu yang liar, persis seperti di mimpinya waktu itu?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.3K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
74.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook