Ammar menepikan mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi. Pikirannya semakin kalut saat melirik jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dari sore hari dia berkeliling mencari Elif ke sana ke mari. Menelusuri setiap jengkal yang mungkin dilewati wanita itu. Menurutnya. Tapi, nihil. Elif lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
"Apa jangan-jangan ... tidak. Itu tidak mungkin ...." Ammar menggeleng-geleng kepala, lalu meremas rambutnya dengan kasar.
Entah apa yang terbesit dalam kepalanya, hingga berakhir dengan membenamkan wajah pada setir.
Lumayan lama Ammar menelungkup. Hingga dering ponsel membangunkannya. Matanya berbinar, kala menatap nama siapa yang muncul di layar panggilan.
Berharap ada kabar baik yang akan diterima.
"Ya," ujar Ammar ketika panggilan tersambung.
...
"Baiklah. Hentikan dulu pencarian! Tunggu sampai aku memberi perintah, besok!" jawab Ammar lesu.
Tut.
Tidak ada kabar baik sama sekali. Orang-orang suruhan Ammar tidak berhasil menemukan wanita keras kepala itu.
"Apa dia bersama Alzam? s**t!"
"Tapi, setidaknya itu lebih baik, daripada Elif dibawa preman atau orang-orang jahat," monolog Ammar merinding.
Ya, yang Ammar tahu, satu-satunya orang yang dekat dengan Elif selama ini adalah sepupunya, selain ny. Risma.
Soal para sahabat Elif, mungkin terlewat dari kepalanya. Mengingat, mereka hanya hadir di hari pernikahan. Ammar bahkan tidak berhasil mengingat bagaimana wajah mereka.
Dengan siapapun Elif berinteraksi selama ini, Ammar tidak peduli. Kecuali, Alzam. Sebab, sepupunya itu suka sekali ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
Dan ... selama ini Ammar hanya pura-pura tuli dan buta. Jika Alzam Elfata menyimpan sebuah rasa untuk istrinya.
Tapi, kondisi saat ini membuatnya memohon dalam hati, berharap sang istri benar-benar sedang bersama Alzam kala menatap ke luar melalui kaca mobilnya.
Malam semakin larut, ngeri sekali membayangkan jika istrinya masih terluntang lantung di jalanan. Tanpa apapun untuk melindungi, selain tubuh yang mulai ringkih karena siksaan batin yang diberikannya setiap hari.
Kali ini Ammar memilih kalah dengan ego dan rasa benci. Biarpun, laki-laki itu tidak terima jika Alzam menjadi pahlawan untuk istrinya. Tapi, lubuk hatinya sibuk berbisik, keselamatan Elif lebih penting ketimbang apapun, termasuk raca cemburu yang belum diakui laki-laki itu.
Menyesal?
Atau merasa bersalah?
Kedua kata itu mulai mengganggu nuraninya, tapi Ammar masih belum ingin mengakui. Cinta masih kalah menyala dengan rasa benci.
"Tuhan, tolong lindungi wanita keras kepala itu. Aku ... membencinya."
Setetes air mata jatuh mengenai layar ponsel yang tengah menyala di tangannya, di mana foto seorang wanita yang sedang tersenyum menjadi objek yang akan betah ditatap lama-lama mulai saat ini.
"Dasar menyebalkan! Kalau tidak pulang, aku akan semakin membencimu. Kau tahu!" ucapnya sembari mengusap layar benda pipih itu.
Karena tak juga menemukan keberadaan Elif, Ammar memutuskan untuk pulang ke rumah. Tapi, mobil yang dikendarai laki-laki itu kini malah menuju ke apartemen di mana Elif tinggal dua hari yang lalu.
Entah apalagi yang terbesit dalam pikiran laki-laki itu. Setelah memarkirkan mobil, tubuh jangkungnya melewati lobi dengan lesu.
"Sial. Untuk apa aku kemari?" tanyanya dengan bodoh pada diri sendiri.
Tiba-tiba Ammar teringat dengan mamanya dan mengambil ponsel yang tersembunyi dalam saku celana bermaksud mengabari wanita yang sangat penting dalam hidupnya.
"Untuk apa aku menghubunginya? Bukankah semenjak kehadiran Elif, aku tidak lagi menjadi prioritasnya? Dasar serakah! Setelah mengambil keluargaku, kini kau juga mengusik hatiku," tunjuknya geram pada foto seorang wanita yang entah sejak kapan menjadi wallpaper ponselnya.
Pasalnya, beberapa waktu yang lalu, Ammar masih memandang foto itu di galeri. Ya, saat dalam mobil tadi. Ketika hati dan pikiran sibuk mengkhawatirkan seseorang yang telah didorong untuk pergi.
Di apartemen, Ammar langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri. Sangat melelahkan hari ini. Otaknya sibuk menerka-nerka di mana Elif berada.
Matanya tak kunjung terpejam, padahal waktu sudah lewat tengah malam. Hatinya semakin tak karuan, kala hujan turun dengan lebat mengguyur bumi seperti semalam.
Ammar bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jendela kemudian menyibak tirai. Persis seperti yang Elif lakukan semalam.
Lumayan lama berdiri di sana dengan tatapan kian sendu dan lesu. Ketika kakinya terasa tak kuat lagi untuk berdiri. Tubuh Ammar mesorot ke lantai. Laki-laki itu terduduk dengan kedua tangan yang memeluk kaki dan wajah terbenam diantara kedua lututnya.
Ah, mungkin semesta sedang memainkan peran. Punggung tegap Ammar kini tampak terguncang, suara isakan sesekali terdengar lirih ketika tak lagi mampu ditahan.
Ya, malam ini pertama kali Ammar menangis dalam diam untuk seseorang yang ia benci. Ada rasa takut yang menjalar, dan semakin menjadi-jadi ketika suara petir terdengar menggelegar.
Satu hal yang Ammar tahu tentang isterinya. Wanita manja dan menyebalkan itu, sangat takut dengan suara petir.
"Tuhan, tolong lindungi dia. Kumohon lindungi istriku."
"Tolong jaga dia untukku. Aku membencinya, sungguh aku, aku ... mencintainya."
.
Entah berapa lama Ammar menangis semalam. Pagi ini, ia terbangun dalam keadaan pusing dan sangat berat membuka mata.
Ingin absen ke kantor, tapi ada hal penting yang memaksanya untuk ke sana hari ini. Setelah menghubungi pak Kidar, sekretaris pribadinya selama Ammar menjabat sebagai CEO untuk menyiapkan pakaian dan membawanya ke lokasi yang Ammar kirim, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bayangan Elif, jangan ditanya? Sejak kemarin sore tidak pernah sedetikpun pergi dari pikirannya.
Berharap saat guyuran air membasahi tubuh, semua hal tentang Elif juga akan mengalir perlahan hingga tak lagi berbekas, tapi rasa bersalah luka penyesalan malah semakin lekat menempel dalam rongga d**a. Bak terpahat paku, jiwanya berbisik kian mendayu tentang Elif Sabrina.
Entah apa yang begitu memberatkan Ammar untuk mengalah dengan perasaannya. Padahal, semalam tanpa sadar laki-laki itu mengakui, ada cinta untuk wanita itu. Elif punya tahta di hatinya.
Hah, lagi-lagi kebencian yang tidak masuk akal yang menjadi penghalang. Yang juga semakin menyiksa, saat rasa rindu dan khawatir ikut menyerang.
Bel berbunyi beriringan dengan Ammar yang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pada bagian bawah tubuhnya.
Pak Kidar sudah berdiri di luar saat Ammar membuka pintu. Lalu, menyerahkan paper bag berisi pakaian laki-laki itu.
"Terimakasih. Pak Kidar duluan sajak ke kantor! Nanti saya menyusul."
"Baik, Pak. Saya permisi!"
.
Saat hendak berangkat, Ammar menggeram mendapati pesan dari Rani.
"Sayang, jemput aku ya. Aku kangen."
Isi pesan wanita itu yang diakhiri emot ciuman.
'Ck. Murahan.' Batin Ammar menahan mual. Lalu, pergi begitu saja.
Kenapa lagi?
Bukankah sampai kemarin hubungan mereka masih baik-baik saja. Walaupun tidak sehangat ketika Elif masih bisa melihat interaksi keduanya dengan berlinang air mata.
Hei, Ammar kenapa?
Kenapa laki-laki itu pergi ke kantor tanpa menjemput kekasihnya? Apa mereka sedang marahan?
Atau semesta mulai berbalik menyiksa?
Tiba-tiba di kantor, bukannya menuju lantai 15 di mana ruangannya berada. Tapi, Ammar menuju lantai 10, lantai yang dikhususkan untuk ruangan para manager perusahaan.
Ammar menuju ruangan di ujung koridor dengan langkah lebar dan rahang mengeras.
Bruak!
Alzam yang sedang sibuk dengan banyak dokumen, terkejut saat pintu ruangannya dibuka secara kasar.
Lalu, menatap nyalang saat menyadari siapa yang muncul di baliknya.
"Apa kau tidak tahu sopan santun?!" cerca Alzam ketika Ammar sudah berdiri di hadapannya.
Bukannya menjawab, Ammar malah menarik kerah baju Alzam, hingga membuat sepupunya terpaksa berdiri.
"Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau gila?!" bentak Alzam tidak terima sambil berusaha melepas tangan Ammar dari tubuhnya.
Sementara yang dibentak hanya diam, hanya menunjukkan tatapan amarah yang semakin menggila.
Nafas laki-laki itu terdengar tidak beraturan, dadanya naik turun membuat Alzam seketika bingung dengan tingkah laki-laki menyebalkan di depannya.
"Di mana istriku?" tanya Ammar dengan suara bergetar.
"Ck, dasar gila. Lepas!"
Alzam mendorong Ammar, hingga laki-laki itu terhuyung ke belakang.
"Apa aku tidak salah dengar? Suami macam apa yang menanyakan istrinya pada laki-laki lain. Heh?" Alzam menatapnya dengan remeh.
Membuat harga diri Ammar terusik.
"Aku tidak punya banyak waktu. Sebelum kau menyesal, cepat katakan di mana kau sembunyikan Elif!"
"Hahaha. Apa kau pikir aku sebejat itu menyembunyikan wanita bersuami."
"Tidak perlu menutupi kebusukanmu. Apa kau pikir aku tidak tahu, jika kau mencintai istriku, b******k!"
"Waw, kupikir kau tidur selama ini. Kalau iya kenapa hah?! Aku memang mencintai Elif dan akan merebutnya dari laki-laki b******n sepertimu. Tapi, bukan dengan cara bodoh seperti tuduhanmu. Aku bukan laki-laki pengecut."
"Dan apa Elif sudah pergi dari hidupmu? Mendengarnya aku sangat bersyukur sekali, akhirnya wanita sebaik Elif terlepas dari iblis sepertimu," sambung Alzam yang membuat darah Ammar semakin mendidih.
"Kurang ajar."
Bugh!
Bugh!
"Di mana istriku, b******k?!"
Alzam meraba rahangnya yang terasa nyeri akibat pukulan Ammar.
Bugh!
Kini kepalan tangan Alzam yang mendarat di wajah sepupunya.
"Apa kau tahu, jika pun aku tahu di mana Elif sekarang. Aku tidak akan pernah memberitahumu!"
"Kau iblis. Tidak pantas memilikinya. Dia selalu menangis karena manusia tidak berguna sepertimu!"
Bugh!
Mendengar ucapan Alzam, Ammar yang sudah terkapar di lantai mulai putus asa. Dari ucapan laki-laki itu Ammar menyadari jika Elif memang tidak bersama sepupunya.
"Kau benar, aku memang iblis. Tapi, Elif adalah istriku, dan hanya akan menjadi milikku. Siapapun yang ingin merebutnya, tunggu sampai aku mati."
Tatapan mengejek dari Ammar membuat Alzam semakin emosi.
"Ck, kalau begitu akan kubuat kau mati sekarang!"
Bugh!
Selanjutnya, dua bersaudara itu saling menyerang satu sama lain.
Bersambung ...