Entah berapa lama mereka saling menyerang. Keduanya terkapar di lantai dalam keadaan sama-sama memprihatinkan.
"Lepaskan dia! Kau tidak pantas untuk Elif," ujar Alzam pelan sambil meringis dengan wajah yang sudah babak belur.
"Heh. Siapa kau berani memerintahku?" sanggah Ammar dengan kondisi tak kalah mengenaskan.
Wajah keduanya penuh lebam bahkan di beberapa bagian sampai berdarah. Seluruh bagian tubuh terasa nyeri, tapi mulut mereka belum berhenti untuk menghina satu sama lain.
"Aku ... salah satu orang yang menginginkannya dari sekian banyak pria."
Telinga Ammar seketika panas. Ia melirik seseorang yang terkapar tidak jauh darinya dengan ekor mata.
Dalam hati, laki-laki itu bersumpah, jika saja tenaganya masih ada, ia akan menghabisi Alzam saat ini juga.
"Kenapa diam? Kau tidak mencintainya melainkan kebencian yang sudah lama kau tanam untuk menyiksanya. Dia terlalu baik untuk manusia setengah iblis sepertimu," sambung Alzam yang berhasil membuat d**a Ammar berdenyut.
"Ck. Jangan berlagak sok tahu! Mungkin aku memang iblis dan kau malaikat. Tapi, jika Tuhan telah menakdirkan bidadari milik seorang iblis, kau bisa apa?" sergah Ammar.
Kali ini Alzam yang panas, mendengar ucapan sepupunya yang tidak punya hati.
"Heh, egois. Menikahlah dengan Rani! Kalian berdua kelihatan serasi, sama-sama bisa diobral. Lepaskan Elif, aku ingin memperjuangkannya."
"Kurang ajar kau!"
Saat ingin bangkit bermaksud menyerang Alzam, tubuhnya terasa nyeri, Ammar tidak lagi punya tenaga untuk berkelahi.
'Selama ini, setelah berhasil membuatnya menangis, bukannya senang, tapi aku sendiri lebih tersiksa. Aku ingin dia merasakan bagaimana sakitnya diduakan, seperti yang orang tuaku lakukan padaku setelah kehadirannya,' keluh batin Ammar menyesal.
Dalam hatinya, Ammar tidak pernah menduakan Elif dengan wanita manapun. Makanya, laki-laki itu tidak terima saat Alzam secara terus terang menyuruhnya melepaskan Elif.
Ammar menatap nanar langit-langit ruangan dengan pikiran kacau.
Jika tidak bersama Alzam, lalu istriku di mana? Bersama siapa? Apa dia sudah makan? Apa kakinya terluka? Apa semalam dia kehujanan? Apa ... Elif baik-baik saja?
Ada banyak pertanyaan yang kini bersemanyam, namun tak satupun Ammar temukan jawabannya.
Sekelabat rasa takut berhasil meloloskan setetes cairan bening melalui sudut matanya. Buru-buru laki-laki itu menghapus, sebelum Alzam melihatnya.
Kini keduanya terdiam, terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.
Jika Ammar sedang kalut. Berbeda dengan Alzam. Laki-laki itu merasa lega saat tahu wanita yang diam-diam membuatnya terusik kini terlepas dari jerat manusia seperti Ammar.
Alzam mengira, jika Elif pergi dalam keadaan penuh persiapan, punya tujuan, dan sudah mempertimbangkan jauh-jauh hari.
Alzam tidak tahu, jika Elif diusir Ammar dalam keadaan mengenaskan.
Saat sudah merasa sedikti lebih baik, Ammar berusaha bangkit dan berjalan tertatih-tatih sampai ke depan pintu.
Sebelum pergi, ia sempat melirik ke arah Alzam yang masih pada posisi semula dengan tatapan membunuh.
"Ingat! Jangan pernah menyentuh apalagi sampai merebutnya dariku! Atau ... kau akan mati!"
Alzam hanya menatapnya dengan santai sambil tersenyum sinis. Melihat tanggapan sepupunya, harga diri Ammar seperti diremehkan. Emosinya kembali tertantang untuk menyerang Alzam, tapi tenaganya tak tersisa.
Setelah menyadari, jika dirinya sedang berada dalam lingkungan perusahaan. Ammar membanting pintu dengan kasar agar tidak ada yang melihat kondisi ruangan Alzam yang jauh beda seperti biasanya.
Sementara Alzam masih tidak percaya dengan kelakukan laki-laki yang baru saja menghilang di balik pintu.
Lucu. Menurutnya.
Dia yang menyakiti, dia yang tidak mau melepas untuk pergi.
Maunya apa? Apa dia ingin Elif mati di tangannya? Teriak batinnya tidak terima.
Yang Alzam tahu, hanya kebencian yang Ammar persembahkan untuk Elif. Ya, tak hanya Alzam, Ny. Risma pun beranggapan demikian, setelah menyaksikan bagaimana cara Ammar memperlakukan istrinya.
Nyatanya, Ammar menempatkan rasa cinta pada lapisan paling dasar. Sampai siapapun tidak menyadari, termasuk dirinya sendiri.
Ammar lebih mendewakan rasa dendam daripada akal sehat dan hati nurani. Itu juga yang kini membuatnya terjebak dalam rasa sakit penyesalan karena kebodohan yang terlalu telat disadari.
Yang Ammar tahu, selama ini Elif mencintainya. Dan Ammar mengira, seseorang akan memilih sakit demi sesuatu yang dicintai.
Laki-laki itu keliru jika Elif akan bertahan sampai titik terakhir.
Nyatanya Elif pergi. Ketika luka tidak lagi sanggup diobati sendirian.
Jangan lupa, seseorang yang mencintai memang punya hak untuk bertahan, tetap tegar dan memilih menangis dalam diam. Atau beranjak pergi karena merasa memang tak ada lagi yang harus diharapkan, dipertahankan. Dan Elif, telah mengambil pilihan yang menurutnya tepat.
Wanita itu melangkah dengan segudang luka bercampur pilu, perlahan mencabut duri membuang rasa rindu yang tak sepatutnya lagi bersarang dalam diri.
Sudah terlalu lama Elif mengharap empati, atau hanya sekedar kasihani, tapi lagi-lagi hanya luka yang menghampiri. Ammar mengoyak segumpal daging dalam dadanya terlalu dalam, lalu dengan kejam menaburkan air garam.
Padahal, laki-laki itu punya segudang cinta. Tapi, lebih memilih untuk dipendam dan digantinya dengan siksaan kebencian.
Kutegaskan! Ammar sangat bodoh dalam membaca perasaan.
.
Ammar pulang ke apartemen dan membersihkan diri, kemudian mengobati lukanya. Begitu pula dengan Alzam yang memilih ke klinik dokter pribainya.
Setelah terlibat perkelahian antarsaudara, keduanya memilih bolos dari pekerjaan. Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin 'kan melanjutkan pekerjaan dalam kondisi seperti itu.
"Iiishh!"
Sesekali Ammar meringis, saat menyentuh wajahnya. Bayangan Elif kembali muncul, sampai-sampai Ammar membuang kapas dan kotak P3K ke sembarangan arah.
"Pergi! Pergi saja dari hidupku! Bawa bayang-bayangmu, jangan menyiksaku seperti ini," lirih Ammar kembali terisak.
Laki-laki itu kembali meringis saat luka di beberapa bagian wajahnya basah oleh air mata.
Ponselnya yang sedari tadi berdering karena panggilan masuk dari Rani, tidak mengusiknya sama sekali. Ia tak lagi ingin peduli.
Ammar menatap punggung tangannya yang meninggalkan bekas luka lama. Bekas luka ketika Ammar terjatuh dari motor kesayangannya, dan Elif yang mengibatinya.
Laki-laki itu sempat menolak, tapi Elif dulu wanita yang keras kepala. Dia membersihkan luka Ammar dan mengibatinya sambil mengomel, membuat kuping Ammar semakin panas mendengarnya.
'Pulanglah! Aku sedang terluka ... aku butuh obat dan omelanmu,' batinnya tersiksa.
Menit kemudian, bel berbunyi. Ammar sumringah, menganggap semesta mendengar jeritan hatinya.
Gegas laki-laki itu bangkit dari sofa untuk membuka pintu. Mengabaikan tubuh yang lagi sakit, tidak boleh banyak bergerak.
Yang penting Elif sudah pulang. Meski gengsinya untuk mengakui kesalahan baru turun beberapa puluh persen saja.
Ceklek.
Pintu terbuka. Ammar terpaku, begitu pula dengan orang yang berdiri di depannya.
Hei. Sadarlah! Tidak mungkin Elif kembali, apalagi untuk sekedar mengobati lukamu.
"Mama." Ammar menelan ludahnya kasar. Seperti ada badai yang akan menghampirinya. Lebih ngeri dari hujan dan petir yang bersahut-sahutan semalam.
"Di mana Elif? Kenapa kamu di sini?" tanya Ny. Risma tajam. Menatap putranya dengan penuh selidik.
Apa kondisi wajahku tidak membuatnya terganggu? Dia bahkan tidak menanyakan bagaimana kabar anaknya sendiri. Apa mama benar-benar sangat membenciku sekarang? Tanya Ammar dalam hati dalam keadaan membisu.
"Kenapa kau diam? Cepat katakan di mana Elif?!"
"Um, masuk dulu, Ma." Ammar mundur sedikit memberi ruang untuk ny. Risma.
Tanpa peduli dengan Ammar, Ny. Risma bergegas masuk dan mencari Elif ke seluruh penjuru ruangan.
Wanita itu kalang kabut memanggil menantunya, tapi yang di cari tak kunjung datang.
Awalnya Ny. Risma sempat mengira Elif sudah pergi. Tapi, saat tiba di kamar, barang-barang menantunya masih utuh. Termasuk perlengkapan make up dan skin care yang masih tertata di meja rias.
"Ma!" panggil Ammar yang baru muncul.
"Di mana Elif?"
"Elif ... Elif sudah pergi dan aku tidak mengizinkannya membawa apapun," sampai Ammar menahan sesak.
"Apa?!"
Plak!
Perih.
Tangan Ny. Risma mendarat tepat pada luka bekas pukulan Alzam beberapa jam yang lalu.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Ny. Risma sembari mengguncang tubuh gagah anak laki-lakinya.
"Belum cukupkah kau membuatnya menderita? Kenapa? Bukankah aku sudah mengizinkanmu menikahi wanita itu? Lalu, kenapa kau masih saja mengusiknya?! Jawab! Dia sudah pergi dari hidupmu, dia tidak akan mengambil apa yang kau punya lagi. Lalu, untuk apa kau melakukan semua ini?! Jawab aku, anak tidak tahu diri!"
Ny. Risma seketika luruh di lantai sambil menangis sesegukan.
"Ma, maafkan Ammar, ma!"
Ny. Risma menepis tangan putranya saat hendak membantunya untuk bangun.
"Jangan menyentuhku! Kau akan menyesal Ammar. Asal kau tahu, selama ini bukan Elif yang merebut kebahagiaanmu. Tapi kita yang telah merebut kebahagiannya. Mama benar-benar kecewa sama kamu!"
Beliau menghapus air matanya kasar, lalu pergi begitu saja meninggalkan Ammar dalam dengan sejuta rasa penasaran.
.
"El, lo yakin nggak mau ikut?" tanya Hilya saat mendapati sahabatnya masih betah bergulung di bawah selimut.
Semenjak kemarin, Elif hanya menghabiskan waktunya di kamar. Kadang menangis, termenung, bahkan menertawakan diri sendiri yang menurutnya sangat bodoh.
Hilya sampai dibuat khawatir, kalau sahabatnya sampai kenapa-napa. Ya, Hilya sudah tahu semuanya, setelah Elif memutuskan untuk bercerita.
Wanita itu sangat membenci Ammar karena telah memperlakukan sahabatnya dengan tidak manusiawi sekali.
"Iya, Hil. Aku belum siap ketemu mereka."
Aku belum siap untuk tersenyum dan pura-pura baik-baik saja. Aku butuh waktu untuk pulih.
"Jadi, tidak apa-apa aku tinggal? Apa aku tidak usah pergi saja?" tawar Hilya.
"Tidak, Hil. Pergilah! Aku baik-baik saja. Bawakan aku makanan yang banyak. Orang patah hati butuh asupan gizi yang banyak, bukan?" canda Elif agar Hilya percaya, bahwa dirinya tidak masalah untuk ditinggal.
"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu 'kan? Bunuh diri, misalnya." Telisik Hilya memastikan.
"Haha. Ya tidaklah. Untuk apa? Ada-ada saja kamu. Pergilah! Cari gaun yang paling cantik untukku. Ukuran tubuh kita masih sama 'kan?"
"Oke. Aku pergi. Awas kalau sampai kamu kenapa-kenapa."
Setelah memastikan Hilya hilang dari pandangan, di bawah gulungan selimut, mata Elif kembali berembun.
"Baiklah. Aku janji, cuma sampai hari ini aku menangisi sampah sepertinya."
Setelahnya hanya isak tangis yang makin lama makin keras terdengar dalam kamar itu. Meski terkesan bodoh, Elif punya hati dan butuh waktu.
.
Sabtu malam.
Elif tampak begitu cantik dalam balutan gaun model kerah V warna merah menyala. Setelah Hilya memberikan sedikti polesan, sahabatnya itu benar-benar tampak sangat berbeda dari biasanya.
Tentu saja, seminggu ini, Elif terlalu sibuk menata hati hingga lupa dengan tubuh dan penampilannya.
"Kalau kamu seperti ini, aku yakin, Darius akan semakin jatuh cinta," goda Hilya sambil mengedipkan mata.
"Apaaan, sih! Sudah buruan kamu juga siap-siap! Eh, apa penampilanku tidak terlalu berlebihan?"
"Aduh, Elif. Ini sangat wajar untuk menghadiri sebuah pesta mewah. Udah keluar sana, jangan ganggu aku dandan."
.
Bersambung ...