Bab 10 Bertemu di Pesta

2500 Kata
Darius yang sedang bersandar di pintu mobil terpaku, ketika Elif melangkah menghampirinya. Dari balkon, tampak Hilya mengangkat tangan sebagai tanda penyemangat untuk Darius yang sempat menatap ke atas sana. 'Dia benar-benar sempurna dalam balutan gaun pilihanku,' batin Darius puas saat Elif sudah semakin dekat. Apapun yang melekat di tubuh Elif sekarang, adalah pilihan Darius. Sesuai selera laki-laki itu. Sementara hatinya, sibuk bermain-main, ketar ketir, selalu seperti itu ketika berpapasan dengan Elif, dari dulu. Ah, Elif tidak sadar sama sekali, tengah terjebak dalam permainan dua sahabatnya. Malam ini, mereka berlima akan menghadiri undangan pesta ulang tahun sepupu laki-laki Bima. Tapi, menurut penuturan Hilya pada Elif, mereka tidak bisa pergi bersama. Karena Elena akan mengajak gebetan baru, Bima dengan tunangannya dan Hilya sendiri bersama kekasihnya. Hanya Darius dan Elif yang tersisa. Mereka sama-sama tidak punya pasangan. Padahal, ini rencana licik Hilya untuk membantu kedua sahabat yang telah dianggap seperti saudara. Membantu Darius dalam artian memberi privasi untuknya bersama Elif. Membantu Elif dengan maksud mencoba melepasnya dari bayang-bayang laki-laki b*jing*n seperti Ammar. Hati kecil Hilya mengaku itu salah. Apa yang sudah ia rencanakan, sangat bertentangan dengan nilai moral dan agama. Elif masihlah istri orang. Tapi, logika Hilya sudah bertekad membantu Elif bangkit dengan caranya sendiri. Juga Darius, yang awalnya sempat keberatan untuk kembali meraih sesuatu yang telah dilepas. Setelah mengetahui suatu kebenaran, rasa cinta dan amarah membuat laki-laki itu bertekad menanggung dosa. Beberapa hari yang lalu, Hilya mengajak Darius ketika mencari gaun yang Elif titipkan. Saat wanita itu masih sibuk menyembuhkan hatinya. Saat itu Hilya yang tidak tahan dengan pertanyaan Darius yang seperti pemaksaan, menceritakan semuanya. Termasuk, ketika Elif pergi dari rumah dalam kondisi yang bagaimana. Darius yang diam-diam mencintai (sudah menjadi rahasia umum dalam ikatan persahabatan mereka, kecuali Elif yang tidak peka sama sekali) sangat murka, mengetahui bagaimana suami Elif memperlakukan wanita yang selama ini bersemanyam dalam relung hatinya. "Maaf, membuatmu lama menunggu!" ucap Elif saat sudah berdiri tepat di hadapan Darius. 'Ini tidak seberapa. Aku bahkan memiliki pengalaman menunggu yang lebih dahsyat dari ini, lima tahun hanya untukmu.' "Bukankah perempuan ahlinya membuat kaum laki-laki belajar menunggu?" canda Darius mewakili isi hati. "Hehe, benarkah? Kalau begitu aku minta maaf sekali lagi!" "Kau tidak romantis sekali. Ucapkan dengan benar, tambahkan sebutan 'Sayang' misalnya." "Ishh. Dasar ganjen." "Auh, sakit tahu!" Darius meringis ketika Elif mencubit lengannya yang tesembunyi dalam balutan jas warna hitam. Keduanya tampak serasi, tampan dan cantik, meski Elif hanya setinggi d**a laki-laki itu. "Ayo berangkat! Hampir pukul delapan malam," ujar Darius melirik arloji di pergelangan tangan. "Yuk," jawab Elif berjalan mengitari mobil. "Hei tunggu! Biar kubukakan pintu untukmu!" Elif yang mendengarnya tergelak, Darius berjalan tergesa menyusul wanita itu sebelum membuka pintu. "Haha, kau ini seperti sedang sama siapa saja." "Tentu saja kita harus bersikap romantis, apalagi saat tiba di pesta. Kau harus bisa menutupi statusku yang jomblo ini. Silahkan masuk, Tuan Putri!" Elif yang masih geli dengan tingkah sahabatnya, sempat melirik sebelum Dariua menutup pintu mobil dengan rapat. "Makanya cepat cari pasangan! Jangan hanya sibuk bekerja," cibir Elif. "Ada yang sedang kuperjuangkan. Doakan saja! Jika sudah selesai mengomel, akan kututup pintunya." Darius sedikit membungkuk, mensejajarkan diri dengan Elif yang berada di dalam mobil mewah miliknya. "Kuaminkan ya. Iya sudah selesai. Cepat tutup! Aku tidak sabar ingin segera tiba. Sudah lama aku tidak ke pesta." "Iya-iya. Dasar cerewet." Setelah memastikan pintu tertutup dengan rapat. Darius sedikit berlari mengitari mobil menyusul Elif. Lagu romantis milik Ed Sheeran menemani perjalanan mereka. Selebihnya, dua manusia itu terlibat beberapa percakapan ringan. Darius kadang sengaja memancing, meski berusaha ditutupi, sesekali Elif juga keceplosan mengenai hubungannya dengan laki-laki yang masih bergelar suami hingga saat ini. Laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu. Darius masih bisa menangkap sisa-sisa kesedihan dalam manik wanita di sampingnya. Dan itu ... menyesakkan. "Apa Hilya belum berangkat?" tanya Darius mengalihkan pembicaraan setelah mendapati gelagat tidak nyaman dari Elif. "Mungkin di belakang kita. Tadi, katanya pacarnya sedang dalam perjalanan ke rumah. Elena dan Bima bagaimana?" "Elena mungkin sedang di jalan. Sedangkan Bima, sudah tiba dari tadi," jawab Darius yang sedang fokus mengemudi. "Ngomong-ngomong sepupu Bima yang ulang tahun itu laki-laki atau perempuan?" tanya Elif penasaran. "Laki-laki. Aku kenal, pernah ketemu, usianya sudah kepala tiga tapi belum menikah. Kata Bima dia terlalu gila kerja. Namanya Arga, sangat terkenal dalam dunia bisnis." "Ooo." Elif ber oh riya. Para sahabatnya memang berasal dari keluarga berada. Hanya Elif yang berbeda. Meski kondisinya tidak jauh berbeda dengan mereka setelah Elif menjadi bagian dari keluarga Ammar. Tapi, Elif tetap menceritakan siapa dan dari mana sebenarnya dia berasal. Elif tidak ingin bersembunyi di balik status palsu yang didapatkan dari keluarga tuan Rasyid. Ia lebih nyaman menjadi diri sendiri. Dan para sahabatnya, juga menerima dengan tulus. Beda dengan Ammar, yang selalu mencaci dan menyebut Elif tidak tahu diri. Saat mereka tiba di tempat pesta yang tidak lain adalah rumah Arga, sepupu laki-laki Bima. Suasananya sudah tampak ramai. Setelah memarkirkan kendaraan do tempat yang sudah tersedia, Darius sedikit berlari membuka pintu mobil untuk Elif. "Pegang tanganku! Mari kita lupakan masalah apapun yang terjadi dan saatnya berpesta! Ada banyak makanan enak di sana, aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Kau ingatkan, dulu kita berlima sering lupa diri saat berhadapan dengan hidangan enak meski di tempat ramai. Aku rindu mengulanginya, meski hanya kita berdua. Aku yakin, Hilya, Elena dan Bima akan jaim karena sedang bersama pasangan mereka," tutur Darius panjang lebar. Mengingatkan Elif pada momen-momen seru mereka saat masih kuliah dulu. Dalam hati Elif membenarkan ucapan sahabatnya. Masalah harus dilupakan, tidak ada salahnya sesekali menyenangkan diri. Tapi, rasa sakit yang wanita itu telan sudah over load. Elif bahkan sudah lupa bagaimana cara berpesta. Meski saran Darius barusan terdengar menggiurkan, meski ada yang kurang tanpa Bima, Ele dan Hilya. "Tapi, ini 'kan pesta orang penting. Pasti banyak orang-orang kelas atas yang hadir. Apa tidak apa-apa jika kita bertingkah memalukan. Sadarlah Darius, kita bukan lagi anak muda jangan bersikap ugal-ugalan," bantah Elif. Aku hanya sedang mencari cara untuk membahagiakanmu. Tidak masalah meski harus menanggung malu. Di dalam sana aku juga yakin, ada banyak orang-orang penting yang mengenalku. Tapi, wanita rapuh di sampingku kini, jauh lebih penting dari segalanya. Aku memang aneh, memperjuangkan kebahagian demi istri laki-laki lain yang bahkan disakiti oleh suaminya sendiri. Tapi, caraku membuktikan cinta memang seperti ini. Darius menjawab dalam hati. Laki-laki itu menyelam ke dalam mata Elif, di mana dirinya tengah bermain-main di sana. "Katakan saja apa kau ingin melakukan kegilaan itu bersamaku. Maka aku akan mencari cara," tegas Darius. Meski hanya keseriusan yang Elif temukan. Tapi, wanita itu masih ragu. "Eum ... aku mau. Tapi, bagaimana caranya?" "Hehe. Tenang! Serahkan pada ahlinya. Bima sudah menyiapkan area pribadi untuk kita berlima. Tapi, karena yang lain tidak bisa bergabung. Jadi, kita berdua yang akan menyelesaikannya. Tapi, kita harus menyapa kak Arga terlebih dulu dan temani aku bertemu beberapa orang penting. Setelahnya, mari berpesta, kau harus makan yang banyak, aku ingin melihatmu berubah gendut saat kita pulang. Kau tampak kurus akhir-akhir ini." Darius masih betah pura-pura tidak tahu dengan apa yang menimpa Elif, entah nanti. Ia menunggu Elif sendiri yang menceritakan semuanya. Tapi, nihil. Wanita itu malah mencoba menutup rapat-rapat hingga saat ini. "Benarkah? Apa aku terlihat sangat kurus?" Elif berusaha menelusuri seluruh tubuhnya yang terbalut gaun seksi. "Iya. Seperti tiang jemuran. Ayo masuk! Barusan aku melihat Elena sudah ke dalam dengan gandengan barunya." "Benarkah! Kenapa dia tidak menghampiri kita?" tanya Elif begong. "Dia pura-pura tidak melihat kita. Takut kita introgasi, mungkin. Ayo, apit lenganku." Darius memberi koda agar Elif segera mengapit lengannya. Awalnya wanita itu terlihat ragu, tapi, tatapan tajam Darius berhasil menghapus keraguan itu. Mereka berjalan bersisian masuk ke dalam, di mana pesta ulang tahun akan berlangsung sebentar lagi. Elif yang merasa sedikit grogi tidak pernah melepas genggamannya di lengan Darius. Sementara sebelah tangan laki-laki itu menggenggam kado ulang tahun milik mereka untuk diberikan pada empunya acara nantinya. Di pojok sana, Hilya tampak bersorak dalam hati, melihat dua manusia yang tampak sangat serasi. Sementara di sisi lain, ada seseorang yang sedang berusaha menetralisir emosi saat sepasang matanya secara tidak sengaja menangkap sesuatu yang membuat darahnya mendidih seketika. Ya, itu Ammar. Menghadiri pesta rekan bisnisnya dengan terpaksa demi menjaga keharmonisan hubungan kerja antarperusahaan, malah menemukan apa yang ia cari-cari selama ini. Seminggu lebih Ammar mencoba menemukan Elif. Tapi, kini wanita itu malah muncul di depannya sudah dalam genggaman laki-laki lain. Ketika semua tamu sedang fokus pada Arga sedang berbicara di depan sana. Ammar malah tidak mengalihkan pandangannya dari tubuh mungil itu. Ada rasa rindu yang sedikit terobati. Tapi rasa sakit lebih mendominasi. Tangan Elif tidak pernah lepas dari lengan laki-laki yang tidak pernah Ammar ketahui. Sakit 'kah? Bukankah dunia memang berputar? Semesta sedang memainkan peran. Hukum alam selalu berjalan. Tanya dan jawab, sebab akibat akan selalu berpasangan meski tidak dalam waktu yang sama. Ammar sedang berdiri di mana Elif berdiri dulu. 'Siapa laki-laki itu? Apa dia tidak tahu itu istri orang?' keluh batinnya kesal. Tangannya terkepal erat, ingin sekali menghampiri, menghajar Darius dan membawa istrinya pergi. Tapi, akal sehat berhasil menahannya. Sangat tidak elok, mengacaukan acara penting orang lain karena urusan pribadi. Ammar menarik nafas dalam-dalam, dadanya berdenyut nyeri menyaksikan Elif tertawa lepas bersama laki-laki lain. Sesuatu yang mustahil untuk terjadi jika Elif masih bersamanya. Setelah acara potong kue selesai, para tamu mulai ke depan untuk menyapa pemilik acara juga menyerahkan hadiah. Saat itulah mata Elif menangkap Ammar yang juga sedang menatap tajam ke arahnya. Elif tidak sadar, jika Ammar sudah merasa gerah dari tadi. Maksudnya, ada seorang suami yang mati-matian menahan rindu bercampur cemburu sejak tadi. Darius menoleh saat merasakan genggaman Elif semakin erat di lengannya. "Apa yang terjadi? Kau butuh sesuatu?" Laki-laki itu mengusap punggung tangan Elif yang terasa dingin tiba-tiba. Sesuatu yang normal terjadi ketika seseorang dilanda rasa takut berlebihan. "Ak–u ... aku ta–kut. Bagaimana ini?" tanya Elif terbata. Matanya tidak pernah lepas dari Ammar. Darius yang bingung dengan gelagat sahabatnya ikut melihat ke arah tatapan Elif. Darius yang sangat kenal dengan laki-laki yang sedang berdiri beberapa meter dari tempat mereka juga ikut gerah seketika. Ingin sekali menghampiri dan menghajarnya sampai mati, seperti yang sempat Ammar rencanakan untuknya tadi. Tapi, lagi-lagi logika menentang. "Jangan takut! Tetap seperti ini, jangan lepaskan tanganmu! Aku ingin membuat seseorang cemburu," bisik Darius sembari mengusap pucuk kepala Elif. "Hah, ap–a maksud, kamu?" Elif bingung sekaligus khawatir mendengar ucapan Darius. 'Apa jangan-jangan ....' "Ya. Aku tahu semuanya. Semua yang tidak pernah ingin kau ceritakan padaku. Aku bahkan ragu, apakah aku benar-benar sahabatmu?" ujar Darius merasa kesal. Menurutnya, Elif tidak menganggapnya ada selama ini. "Maafkan aku! Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ...." "Hanya apa? Hanya tidak ingin merepotkan? Aku tidak tahu bagaimana nasibmu jika saja Hilya tidak di sana waktu itu." Darius menghele nafas kasar. Sementara Elif tidak berniat melanjutkan, takut memperburuk suasana. Elif tahu sekali sifat Darius kalau sudah mengomel tidak akan ada habisnya. Saat Elif menoleh ke tempat Ammar berdiri tadi. Laki-laki itu sudah tidak ada di sana. Tapi, rasa takut tetap masih menghantui, banyak kenangan pahit yang kembali menghadirkan rasa nyeri ketika Elif bertemu muka dengan suaminya. "Dia sudah tidak ada. Tenanglah! Aku akan selalu melindungimu," bujuk Darius sungguh-sungguh. "Manis," sambungnya saat Elif tersenyum untuk menanggapi. "Hah?" Elif memalingkan muka saat menyadari kedua pipinya tampak merona. Menurutnya, akan sangat memalukan jika Darius melihat kondisi wajahnya saat ini. 'Kenapa aku mesti ge-er karena Darius? Menyebalkan,' batin Elif. 'Kenapa jantungku harus berdebar seperti ini melihatnya merona? Issh, jangan sampai Elif mendengarnya.' Keduanya tampak salah tingkah, mencoba meyembunyikan rahasia masing-masing. Seketika Elif melupakan ketakutannya karena melihat Ammar barusan. "Eum, aku ambil minum dulu ya? Kamu pasti haus 'kan? Atau sekarang saja kita berpesta seperti konsep yang kutawarkan tadi. Ruangannya ada di sana, kata Bima yang lainnya mungkin akan menyusul juga nanti. Tapi, belum pasti." Darius memperlihatkan layar ponsel pada Elif yang berisi pesan dari Bima dan Hilya di grup w******p mereka yang diberi nama 'We are Family'. "Nanti saja. Aku ingin menikmati acaranya sebentar lagi." "Ya sudah, tapi setidaknya kamu minum dulu. Aku ambilkan ya!" "Aku ikut! Aku tidak mau ditinggal." Tatapan memohon Elif membuat Darius mengerti. Ammar–lah penyebab itu semua. "Ya. Tentu saja. Kamu akan ikut kemanapun aku pergi." 'Harusnya memang seperti itu Elif. Selalu dan selamanya,' sambung Darius dalam hati. "Ayo!" "Maaf merepotkan!" "Tidak sama sekali." Kembali mereka berjalan bersisian hanya untuk menuju meja yang terdapat aneka minuman yang sebenarnya tidak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya. Setelahnya, Darius membawa Elif menuju sofa di pojok ruangan yang memang disediakan untuk yang ingin bersantai dengan nyaman. Sementara Hilya, Elena dan Bima tampak sedang sibuk mengobrol dengan pasangan mereka masing-masing, sesekali menyapa orang-orang yang mereka kenal. Tak terkecuali Darius dan Elif. "Bro!" panggil laki-laki yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka sedang bersantai. "Eh, hai Rom. Apa kabar?" balas Darius ketika laki-laki bernama Romi menghampirinya. "Baik bro. Lo gimana? Makin keren aja gue lihat." "Biasa-lah. Eh kenalin, ini Elif sahabat gue!" "Romi." "Elif." Mereka saling berjabat tangan, kemudian Romi ikut bergabung dan terlibat percakapan ringan. Setelah beberapa saat, Elif merasa perlu ke toilet. Meski takut pergi sendiri, tidak mungkin Elif meminta Darius menemaninya sementara Romi masih di sana. Darius yang awalnya keberatan jika Elif pergi sendiri karena teringat dengan kemunculan Ammar beberapa waktu yang lalu, akhirnya pasrah setelah Elif mencoba menyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja. Melihat tingkah dua orang di depannya, Romi mulai bingung dan mengira Darius dan Elif memiliki hubungan yang tidak biasa. Diam-diam Romi menyimpulkan jika Darius sangat possesif, beda dari biasanya yang terkesan tidak acuh dengan wanita. 'Ke toilet saja tidak boleh sendiri? Ngeri si Darius.' "Lo beda ya sekarang," goda Romi setelah Elif pergi. "Apanya?" balas Darius cuek. Padahal, dalam hati laki-laki itu mulai mengaktifkan alarm waspada. Dia pasti akan menjadi bulan-bulanan Romi setelah ini. "Gue nggak yakin cewek cantik tadi, hanya teman lo." "Terus kalau bukan teman gue, siapa?" tanya Darius dengan tampang kesal. Romi malah tidak menganggapnya sama sekali. "Yakin? Kalau gitu buat gue aja, gimana?" "Gelas ini sepertinya ingin terbang." Tunjuk Darius dengan ekor mata pada gelas di atas meja. Seketika Romi terdiam. Sementara Elif terus berjalan ke toilet dengan perasaan was-was. Entahlah, dirinya merasa tidak nyaman setelah melihat Ammar di pesta. Elif terus bertanya dalam hati. Apakah dirinya ada salah, sampai Ammar menatapnya dengan tatapan membunuh, tadi. 'Bukankah aku sudah pergi dari kehidupannya seperti yang dia inginkan? Lalu, tadi Mas Ammar tampak sangat marah? Aku sudah mengembalikan semuanya, kenapa dia masih membenciku?' Dada Elif terasa sesak. Di sini ia susah payah menentang hatinya agar nama Ammar tak lagi bertahta. Sedangkan, Ammar malah tidak perlu bersusah payah melakukan apapun, selain menanam kebencian yang semakin dalam. Menurut Elif. 'Tidak apa-apa. Perlahan aku pasti bisa melewati semuanya.' Elif menguatkan hati-hati yang terkadang kembali rapuh seperti saat ini. Tapi, saat Elif keluar dari toilet ceritanya mulai berbeda lagi. Tubuhnya membeku menyadari siapa yang kini berdiri sambil menyilangkan tangan di d**a di depan sana. Beberapa meter dari tempatnya berdiri. Sebelum akhirnya sosok itu memangkas jarak dengan menghampiri. "Terima kasih ... karena tetap baik-baik saja, wanita keras kepala." Elif mencoba melepas kedua tangan Ammar dari bahunya. . Bersambung ... Please lihat catatan penulis ya, teman-teman ??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN