Kuda Poni

1132 Kata
Bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Seperti itu pula yang kini dirasakan Paul, tangan kanan sang Perdana Menteri Edward. Mencari jejak setelah 18 tahun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun tidak ada hasil yang mengkhianatiku usahanya, dia menemukan secercah harapan. "Apa itu?" Edward memandang amplop besar yang kini dibawa Paul saat menemuinya di ruang kerja. Paul menyerahkan amplop itu kepada Edward. Akhirnya pencariannya selama ini mendapatkan secercah harapan. "Saya menemukan titik terang atas misteri kematian Nona Margareth," jelas Paul. Edward dengan cepat membuka amplop itu, terdapat foto yang sepertinya berasal dari rekaman CCTV.  "Itu mobil yang terekam kamera cctv rumah sakit tempat Margareth dirawat, di hari yang sama saat Nona Margareth melahirkan." Paul menunjuk pada gambar mobil di sana. "Siapa yang membawa Margaret?" tanya Edward dipenuhi rasa penasaran. Paul mengambil selembar berkas yang ada dalam amplop. Menyerahkannya kepada Pangeran Edward. "Mobil itu dibeli oleh Pengusaha asal Indonesia, Frederick Carollino," jelasnya. Edwar menyipitkan matanya, Frederick Carollino? "Sehebat apa dia Paul hingga delapan belas tahun bisa menyembunyikan informasi tentang Margareth?" Sehebat apa lelaki itu? Sekuasa apa dia hingga Edward tidak mampu mencari kabar tentang Margareth dan kandungannya. Edward bersumpah akan menemukan lelaki itu. "Dia pemilik Perusahaan Agen Detektif Swasta terbesar di Asia. Dia memperlebar sayapnya karena memiliki koneksi dari keluarga istrinya, Valeria Roseandra Corlyn." Edward meremas berkas dihadapannya. Keluarga Corlyn, dia tahu bagaimana hebatnya sepak terjang keluarga Corlyn yang sudah mempengaruhi perekonomian dunia sejak 10 dekade yang lalu. "Apakah kau sudah menemukan kabar tentang anakku Paul?" tanya Edward. "Saya tidak yakin, tapi mereka mempunyai anak perempuan yang kini berusia delapan belas tahun," jawab Paul setengah ragu. "Maksudmu dia putriku?" Edward menatap Paul penuh tanya. "Saya tidak bisa menemukan informasi apapun tentang mereka. Bisa saja itu memang putri mereka," sesal Paul. Edward melempar segalanya yang ada diatas meja kerjanya, dia marah. Dia tidak bisa menemukan apapun. "Di mana Margareth dimakamkan? Antarkan aku ke sana." Sedangkan di Indonesia, rumah mewah pasangan Valeria dan Frederick itu dikejutkan oleh suara vas terjatuh hingga membuat pemilik rumah itu mencari asal suara. "Apa yang kau lakukan Rebecca!" teriak Valeria melihat gucci kuno asal Scotlandia-nya pecah tak berbentuk lagi. Mata Valeria terbelalak, Rebecca berdiri disana dengan kuda little poni miliknya. Bagaimana bisa dia membawa masuk kuda kedalam rumah? Kuda setinggi kambing jantan memporak-porandakan isi rumahnya.  "Bawa kudamu keluar atau Mama akan membunuh kudamu itu Ree," teriak Valeri marah. Sungguh, Valeria ingin menelan hidup-hidup kuda poni milik Rebecca. Bagaimana mungkin kuda dibawa masuk ke dalam rumah dan membuat kekacauan yang membuat kepalanya pening seketika. "Erickkkkkkk! Lihat kelakuan putrimu!" Valeria berteriak. Erick berlari melihat apa yang telah dilakukan Rebecca. Matanya terbelalak melihat pecahan vas bunga dan juga kuda poni milik Rebecca berada di dalam rumah. "Astaga, keterlaluan kamu," Erick geram melihat rumah mereka hancur berantakan karena kuda itu kini berlari mengelilingi rumah itu. Erick langsung menelpon keamanan yang bertugas. "Cepat tangkap kuda itu," titah Erick pada mereka. Rebecca menyebikkan bibirnya kesal, bagaimana mungkin dia tidak melihat mobil papanya yang ada di rumah. Dia melakukan kesalahan dengan mencari gara-gara saat papanya ada di rumah. "Jual kuda itu sekarang juga!" ucap Erick membuat Rebecca terbelalak. "Tidak-tidak, jangan dijual Papa." Rebecca mendekati kuda poninya namun ditarik oleh Erick. "Cepat bawa pergi!" Valeria menyuruh mereka membawa kuda poni ke kandangnya. "Jangannnn," teriak Rebecca tak dihiraukan para penjaga itu. Rebecca memberontak, namun Erick tidak akan melepaskan Rebecca dengan mudah. "Hanaaaa, kalian akan aku bunuh jika menarik Hana seperti itu," teriak Rebecca saat melihat para penjaganya menyeret paksa Hana-nya. Bukannya mereka mendengarkan ucapan Rebecca, malah kini Erick mendorong Rebecca hingga terpental ke sofa. "Apa yang kamu lakukan hah? Kapan kamu akan berpikir dewasa, kamu bukan anak kecil lagi Rebecca!" teriak Erick memarahi Rebecca. Habis sudah kau Rebecca! "Aku ... tadi Hana lepas Papa. Aku mengejarnya namun dia malah ke mari. Jangan salahkan Rebecca, dia kan hewan enggak bisa berpikir," jelas Rebecca mencari-cari alasan. Tentu saja dia sengaja, supaya mamanya jengah dengan dirinya dan membiarkan dia pergi keluar negeri sesuai keinginannya. "Tidak ada alasan untukmu, Papa akan menelepon Uncle Arka biar dia mengambil kembali Hana," ucap Erick mengancam Rebecca. "Mama, Mama percaya kan dengan Rebecca?" Tanya Rebecca kepada Valeria dengan memasang senyuman.  "Tentu saja tidak, Dear," jawab Valeria sambil dia melangkahkan kakinya meninggalkan papa dan anak yang kini tengah bersengketa. Andai saja Valeria yang melahirkan Rebecca, mungkin dia akan melempar Rebecca ke planet mars. Entah apa yang kini dipikirkan Rebecca, semakin hari dia semakin membuat ulah. Sungguh berbeda dengan kakak-kakaknya yang lainnya. Apa kurangnya Valeria? Dia memperhatikan Rebecca dengan tulus. Ya walaupun Valeria jarang menunjukkan perhatian itu langsung karena gengsinya, namun Valeria tidak pernah ketinggalan informasi apapun tentang Rebecca. "Papaaaaaaaa!" teriak Rebecca kesal. Valeria tersenyum, tentu saja perdebatan papa dan anak akan selalu dimenangkan ultimatum dari sang papa. Malam pun telah tiba, di saat semua keluarga tengah makan malam bersama, namun Rebecca mengurung dirinya di dalam kamar. Pikirannya cemas kalau-kalau Hana si kuda poni kesayangannya akan dijual oleh papanya. "Kenapa cemberut, Dek?" tanya Ello yang baru saja pulang dari kegiatan kampusnya.  Rebecca menoleh, menekuk wajahnya dengan sedih. "Papa tuh, dia mau ngirim Hana ke rumah Uncle Arka," cibir Rebecca. "Apaa?" pekik Ella yang baru saja ikut masuk ke dalam kamar Rebecca. Mereka bertiga berdiskusi, tiga serangkai itu akan mencari cara untuk menggagalkan aksi papanya. Tentu saja karena rasa kemanusiaan yang mereka tujukan untuk Hana. Ella memandang ke langit-langit kamar Rebecca ,tempat mereka berkumpul. Ella memikirkan cara yang pas agar Erick tidak jadi mengirim Hana ke rumah Arkana. "Aha, Aku punya ide." Ella melebarkan senyumnya saat sebuah ide melintas di pikirannya.  Mereka mendekat, Ella membisikkan rencananya dan dijawab anggukan semangat dari mereka bertiga. Oke, misi akan segera dilaksanakan. "REBECCAAAAA, astagaaa Papa, Mamaaaa!" Ella berteriak memanggil Erick dan Valeria. Mereka berdua datang ke kamar Rebecca dengan jalan yang tergopoh-gopoh. "Kenapa?" tanya Erick dan Valeria bersamaan. Ella menangis, dia menunjuk Rebecca yang kini menggigil di atas tempat tidur. Ekting huh! "Tidak panas." Valeria memegang dahi Rebecca. Ella dan Ello saling tatap. "Rebecca sakit Mama, kata Aunty Alena itu tanda-tanda sakit parah, iya kan Kak?" ucap Ella mencari dukungan dari Ello. Ello hanya mengangguk, dia tidak bisa berbohong. Tentu saja Erick dan Valeria tau mereka sedang merencanakan misi tiga serangkai. "Oh ya? Sebentar Mama telepon Aunty Alena dulu." Ella menggeleng, dia menggenggam tangan Valeria. Mencegah dia menelpon Alena, bisa habis mereka bertiga jika ketahuan berbohong. "Mama, kenapa harus mengganggu Aunty Alena lagi. Tadi Ella sudah menelpon, katanya Rebecca tidak boleh banyak fikiran,apalagi tertekan." Valeria dan Erick menaikkan alisnya. "Itu Hana masuk rumah lagi!" Erick spontan berkata seperti itu. "Astaga Hana!" teriak Rebecca dengan cepat bangkit dari ektingnya berlari mencari Hana yang katanya masuk rumah lagi. Ella dan Ello menganga tidak percaya Rebecca semudah itu percaya dengan ucapan Papanya. Tamat riwayat kita. Ella dan Ello berkomunikasi lewat mata mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN