Sang Bunga Lily

1096 Kata
Pere Lachaise Cemetery Mobil Kerajaan France memasuki gerbang pemakaman mewah yang sangat terkenal di France. Pemakaman khusus untuk mereka yang memiliki uang. Satu tahunnya mereka harus membayar pajak 500 juta. Paul membuka payung hitam dan membukakan pintu untuk Pangeran Edward. Paul memayungi Pangeran Edward, mempersilahkan sang pangeran untuk mengikuti jalannya. Rerumputan dan juga bunga-bunga warna warni memenuhi pemakaman itu. Sungguh indah pemakaman ini, pantas saja Margareth memilih pemakaman ini untuk tempat peristirahatannya yang terakhir. "Margareth," lirih Pangeran Edward di hadapan pusara sang belahan jiwanya. Pangeran Edward meletakkan bunga lily kesukaan Margaret. Dia berjongkok di samping makam Margareth. Apa yang tidak dia ketahui tentang wanita tercintanya itu? "Maafkan aku, maafkan aku Sayang. Aku baru berani menemuimu sekarang, maafkan aku Sayang," lirih Pangeran Edward dengan air mata menggenang di sudut matanya. Pangeran Edward mengelus papan nama Margareth, dia meremas tanah yang ada di gundukan tanah itu. Paul telah memberinya kabar, bahwa Margareth menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit Jepang pada masa persembunyiannya dari Pangeran Edward. Wanita itu tidak ingin Pangeran Edward dan keluarga kerajaan tahu jika Margareth tengah mengandung buah cintanya dengan lelaki itu. Lebih tepatnya, tidak ingin membahayakan keselamatan janin dalam kandungannya. Margareth tentu mengerti bagaimana perasaan Putri Christine jika mengetahui kehamilan dirinya. "Sayang, bagaimana kabarmu di sana? Apa kau bersama anak kita?" Bahu Pangeran Edward bergetar, sungguh dia sangat biadab. Meninggalkan Margareth tanpa mengetahui kehamilannya. "Kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu hamil anakku? Kenapa kamu tidak mencegahku pergi Sayang?" Pangeran Edward menatap malang gundukan tanah di depannya. Mata coklat terang itu menatap nyalang pusara kekasih hatinya. Pikirannya melayang kembali pada masa dirinya dan Margareth terakhir kali berkomunikasi. Art Management France. Kilatan kamera memenuhi studio foto Art Management, hari ini mereka sedang melakukan pemotretan untuk brand ambasador Gaun para Putri Kerajaan France. Margareth, dialah model yang beruntung mencoba mengenakan gaun terbaru Putri Kerajaan France. Dia sangat cantik, berambut hitam legam, bermata abu-abu, tubuhnya sangat proporsiona. Membuat semua mata menatapnya iri. "Kita break dulu," ucap management artis Margareth. Mereka langsung menghampiri Margareth. Kembali membenahi makeup Margareth untuk gaun selanjutnya. "Permisi, bisakah aku berbicara dengan Margareth?" ucap seseorang membuat semua orang di sana menoleh. Mereka menganga, melihat calon menantu Kaisar Tertinggi Kerajaan France menemui Margareth. Margareth memberikan kode untuk semua orang meninggalkan mereka berdua. "Kamu boleh duduk," ucap Margaret mencoba menetralkan detak jantungnya. Ingin rasanya dia mencabik-cabik lelaki berengsek yang kini berdiri di depannya. "Aku minta maaf, kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita, Margareth." Margareth menatap Edward dengan senyuman menenangkan, dia mengangguk mengerti. Biarlah lelaki itu memilih jalan hidupnya sendiri, dan Margareth dengan kehidupannya sendiri. "Baiklah, lakukan apa yang membuatmu bahagia, Edward," jawab Margareth tenang. Ekspresinya masih sama, dia bahkan tidak menunjukkan kesedihannya. "Pukul aku, hina aku, jangan diam seperti ini. Ini bisa membunuhku Margareth," Edward meraih tangan Margareth, mengarahkannya pada d**a bidangnya. Margareth menggeleng, dia menarik tangannya dari genggaman Edward. "Inilah yang akan membunuhmu perlahan Edward. Pergilah, jangan temui aku lagi. Jangan mencari informasi apapun tentangku. Berjanjilah." "Kenapa? Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi? Kita bisa menjadi teman baik." Margareth terkekeh mendengar ucapan Edward. Teman baik katanya? "Teman baik katamu? Pergi dari sini. Sebelum aku membongkar kebusukanmu dan menjadi bumerang untuk ambisimu," tantang Margareth menahan tangisnya. "Margareth, aku bersumpah tak akan mampu melupakanmu," Edward menatap tepat di manik mata Margareth. Margareth memejamkan matanya, dia menatap kepergian Edward dengan meluruhnya air matanya. "Bahkan untuk mendengar aku mengandung anakmu pun kau tidak berhak Edward," isak Margareth. Air mata Edward meluruh, mengingat bagaimana perpisahan mereka. Bagaimana bisa Margareth sekuat itu. Edward ingat benar, tidak ada tangisan ataupun makian yang keluar dari mulut Margareth. "Kamu benar Sayang, ini benar-benar membunuhku secara perlahan," isak Pangeran Edward menangis di atas pusara Margareth. Pangeran Edward menyesali segalanya, hanya karena ambisinya mendapatkan kehormatan sebagai menantu kerajaan yang tak lain istri dari Putri Christine. Dia ingin mendapatkan gelar pangeran demi memuluskan keinginannya. "Katakan, katakan Margareth apakah anak kita bersamamu? Ataukah dia masih hidup? Di mana dia Sayang, di mana anak kita, tolong jangan siksa aku seperti ini." Edward mulai tidak terkendali, dia merauk tanah di depannya. Edward menangis, air matanya selama 18 tahun terbendung seakan tidak mampu lagi ditahan. Ting! Paul mengambil ponsel di saku jasnya, matanya melebar mengamati informasi yang dia dapat dari anak buahnya. "Pangeran." Paul memanggil Edward. Paul menenangkan Pangeran Edward. "Mari kita kembali tuan, kita bisa dicurigai pengawal istana jika mereka tahu kita ada di sini," ajak Paul menuntun Edward kembali ke mobil. Paul memberikan tissue untuk Edward. "Saya menerima informasi dari informan kita yang ada di Indonesia," jelas Paul menatap Pangeran Edward. "Katakanlah," ucap Pangeran Edward mencoba menenangkan dirinya. "Dia Rebecca Stephanie Leticia Carollino, putri Frederick Carollino dan Valeria Roseandra Corlyn," jelas Paul menunjukkan foto yang ada di ponsel pada Pangeran Edward. Pangeran Edward hampir tidak percaya dengan apa yang kini dia lihat. Gadis itu seperti jelmaan Margarethnya. "Margareth," lirih Pangeran Edward memandang foto Rebecca seperti Margareth semasa muda. Lelaki itu menitikkan air matanya, mata yang dimiliki Rebecca sangat mirip dengannya, hidung Rebecca juga menurun darinya. "Dia putriku Paul, aku yakin. Ini firasat seorang ayah," ucap Pangeran Edward bersemangat. "Saya berpikir demikian, karena dari rumah sakit Mexico mengeluarkan surat pernyataan bahwa Valeria tidak bolej memiliki anak lagi setelah melahirkan putra pertamanya. Saya yakin dia putri anda, tapi untuk lebih detailnya saya butuh rambut anda untuk tes DNA, kita tinggal menunggu rambut nona Rebecca sampai disini. Anak buahku sudah mengirimnya hari ini." Pangeran Edward mengangguk, dia akan menunggu sampai hasil tes DNA keluar. "Jangan sampai wanita iblis itu tahu tentang Rebecca," titah Edward diangguki Paul. * - Kerajaan France - Hari ini adalah hari perayaan untuk memuja sang pencipta agar pengantin baru, Nichole dan Jasmine segera dikaruniai anak. Nichole adalah anak satu-satunya dari Pangeran Sersan, adik Christine. Christine mengawasi para pekerja yang mempersiapkan pesta keluarga besarnya. Dia tidak akan membiarkan tamu undangan mampu mengeluh atas pelayanannya. Ini juga akan menjadi ajang mencari suara di kalangan tamu undangan. "Ayah perhatikan kamu sibuk dari pagi. Di mana Pangeran Edward?" tanya Kaisar France. "Edward sedang mengurus keperluan kampanye-nya Ayah, apakah Ayah membutuhkan sesuatu?" tanya Christine. Kaisar France tersenyum, dia memegang kepala Christine dengan sayang. "Andai saja kau memiliki anak, mungkin mereka sudah besar sekarang." Christine membisu, dia tidak bisa berkata apapun. "Semua yang Ayah lakukan untuk keluarga kita. Ayah ingin putri Ayah bahagia," ucap Kaisar France menatap Christine. Tidak, Ayah. Justru Ayah membuat jurang untuk putri Ayah, aku bisa mati kapan saja masuk kejurang itu. Rumah tangga seperti neraka. Batin Christine tersenyum miris. Bahagia apanya? Dia harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya terus memimpikan wanita lain yang bahkan sudah meninggal. Mana bisa disebut bahagia jika perbuatan ayahnya malah menjadi bumerang bagi kehidupan Christine.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN