Ambisi

1231 Kata
Valeria memasuki rumah keluarga Corlyn dengan keadaan marah. Dia tidak datang ke sini untuk mengunjungi orang tuanya. Namun dia ke sini untuk menjemput Rebecca dan juga Ello yang sudah 2 hari ini tidak pulang ke rumah. Valeria mengedarkan pandangannya, mencari para bocah tengil yang sudah membuat keributan di rumahnya. "Mama!" Mata Rebecca terbelalak saat melihat Valeria sudah berdiri di hadapannya. Dia sedang menikmati pie s**u asli Bali dengan milk blend yang tadi dibelikan asisten rumah tangga keluarga Corlyn di depan komplek. "Dasar anak nakal, kemasi barang-barangmu kita pulang sekarang juga," titah Valeria. Rebecca menggeleng, dia memalingkan wajahnya dari Valeria. Dia sangat kesal dengan Valeria dan juga Erick. Orang tuanya sangat kejam memisahkan dia dengan Hana-nya. "Valeri? Kamu mau jemput Rebecca?" tanya Sisil. Valeria mengangguk, dia menghampiri Sisil dan mencium tangan mommynya. "Biarkan saja anak-anak di sini, bukankah kamu dan Erick juga sedang sibuk-sibuknya? Mana bisa kalian meninggalkan mereka berdua hanya dengan asisten rumah tangga saja jika kalian pergi keluar negeri?" tanya Sisil kepada Valeria. Memang benar, perusahaan Erick sendiri sudah berkembang ke tahap Internasional. Sekarang Perusahaan Erick telah melahirkan 50 anak perusahaan menyebar di seluruh dunia. "Iya Grandma." Rebecca menyetujuinya. Ahhh betapa bahagianya dia jika terbebas dari orang tuanya yang suka sekali mengatur. Apalagi papanya yang sangat overprotektif pada dirinya untuk selalu mengabari setiap 3 jam sekali ketika mereka tidak bersama. Pernah dulu, Rebecca mengikuti pemotretan majalah fashion dan lupa mengabari Erick. Agensi majalah itu langsung ditutup Erick dengan koneksi yang dia punya. "Enak di kamu bisa bebas keluyuran." Valeria melemparkan bantal sofa pada Rebecca. "Sudah-sudah, sepi kan di rumah tidak ada anak-anak? Makanya kalau punya anak itu jangan dimusuhin," cibir Sisil. "Ih kok musuhin sih Mom, Valeri kan ngajarin mereka yang baik. Mana bisa kuda dibiarkan masuk rumah, ngacak-ngacak isi rumah." Valeria membela diri. "Iya, tapi nggak gitu Valeri. Mommy sudah tahu ceritanya. Kuda Rebecca kan lepas, niatnya mau ngejar eh kudanya masuk rumah. Mana bisa kamu nyalahin cucu Mommy. Ya Mommy nggak terima dong." Rebecca tersenyum senang, keluarga besar mereka selalu membela Rebecca ketika Rebecca dalam kesulitan. Hanya bersama dengan keluarga besar Corlyn, Rebecca merasakan kasih sayang sebenarnya. "Baiklah kalau kalian nggak mau pulang, siap-siap aja kamu tidak akan pernah bisa kuliah di China," ancam Valeria. "Biarin, nanti Grandma yang bayarin," jawab Sisil mencoba menenangkan cucu kesayangannya. "Mommy!" Saat itulah Nayna datang. Valeria tersenyum penuh kemenangan, hanya Nayna yang mampu mengalahkan keras kepalanya Sisil. Ya-iyalah, Nayna kan anak kandungnya Sisil. "Nayna? Kalian janjian mau jemput Rebecca dan Ello?" tanya Sisil. "Mommy, Mommy nggak boleh dong monopoli Rebecca dan Ello kayak gitu. Itu kan sudah kewajiban Valeri dan Erick buat memberikan pelajaran untuk anak-anak mereka." Nayna kini berkacak pinggang. "Mereka kan cucunya Mommy juga Nay, ya Mommy berhak dong," jawab Sisil tak mau kalah. Ello yang baru keluar dari kamar langsung menyadari bahwa ini akan menjadi perang keluarga gara-gara kuda poni sialan milik Rebecca. Bagaimana tidak? Pasti kubu muda dan kubu tua akan diam-diaman selama beberapa hari tanpa komunikasi. Disaat itulah, para anak-anak akan dilema untuk memilih siapa. "Loh kalian ngumpul?" Seperti mendapatkan hujan di tengah gurun pasir, hati Ello langsung sejuk melihat Viona dan Racka pulang di saat yang tepat. Untunglah, orang tua kandung Valeria datang ke rumah utama keluarga Corlyn ketika melihat mobil Valeria dan Nayna berada di luar. "Aku merasakan aura membunuh di sini," ucap Racka. "Anak-anak tuh!" "Mommy tuh!" ucap Sisil vs Nayna-Valeria bersamaan. Viona menggelengkan kepalanya. "Ree, Ello, kalian harus pulang bersama mama kalian. Mama papa pasti khawatir kalian nggak ada di rumah," ucap Viona menengahi. Rebecca dan Ello mengangguk lemah, aksi kabur-kaburan mereka akan selesai di sini. Dan tentu saja mereka berdua tidak akan selamat dari murkanya Erick dan Valeria nanti di rumah. . Hari kelulusan telah tiba, akhirnya Rebecca lulus dengan hasil yang memuaskan. Dia juga sudah diterima di Universitas Tsinghua idamannya. "Ree, Mama harap kamu jika di sana lebih dewasa. Jangan bertingkah teledor, hilangkan kebiasaan pelupamu di sini. Bawa saja kebiasaan baik-baikmu ke sana." Untuk pertama kalinya dalam hidup Rebecca, Valeria menatap lembut dirinya. "Maafkan Mama, jika selama ini Mama kurang dekat denganmu. Tapi percayalah, Mama tidak pernah membedakan kasih sayang Mama di antara anak-anak Mama. Hanya saja Mama punya alasan untuk sikap Mama selama ini. Mama tahu, kamu merasa tidak adil. Mama tahu semua kenakalanmu karena ingin Mama lebih dekat denganmu. Sekarang, maukah Rebecca memaafkan Mama?" Valeria menggenggam tangan Rebecca, Rebecca menangis memeluk Valeria. Entah kenapa, meninggalkan keluarganya di Indonesia sangat berat. Tapi Rebecca sangat mengidamkan kuliah di sana. "Maafkan Rebecca juga Ma, Rebecca selalu kekanak-kanakan di hadapan Mama," isak Rebecca. Valeria menggeleng. "Tidak, Mama dan Papa tidak pernah berkata seperti itu," ucap Valeria mengahapus air mata Rebecca. Rebecca merasakan kehangatan Valeria, tangan lembut Valeria. Mencium aroma ibunya sedalam mungkin. Sedangkan di Kerajaan France, lalu lalang pegawai kerajaan menghiasi pemandangan Kerjaan France pagi ini. Tepat hari ini, Kerjaan Fance akan mengirimkan nama kandidat presiden untuk negara France. Kerjaan France sendiri adalah Kerajaan absolut yang sudah diakui negara dan dunia, Kerajaan yang tetap memiliki kekuasaan meskipun mereka berada di bawah naungan Negara Republik France. Kerajaan France diberi hak istimewa. Hak untuk merdeka memilih keputusannya di tangan Kaisar Tertinggi. Kaisar France adalah pahlawan bagi Negara France. Dia membantu pemerintah untuk memerdekakan France. Untuk itulah, Pemerintah membiarkan Kerajaan France tetap ada, asalkan mereka tetap tunduk pada hukum nasional negara mereka. "Apa yang membuatmu lemah seperti ini Pangeran Edward?" tanya Putri Christine khawatir jika adiknya yang akan dipilih Kaisar menyalonkan diri sebagai Presiden. "Apa maksudmu?" tanya Pangeran Edward. "Aku sudah tidak melihat seorang Edward yang berambisi mendapatkan kekuasaan. Aku melihat kamu tanpa cangkang." Pangeran Edward tersenyum mengejek. "Kamu takut ambisi gilamu tidak terpenuhi? Tenang saja," kekehnya. "Tenang katamu? Kamu sibuk mencari anakmu yang bahkan kamu sendiri tidak tahu di mana dia saat ini berada!" Putri Christine berteriak. "Kenapa Christine? Kamu takut keberadaannya akan diketahui dunia? Kamu takut aku tidak akan terpilih karena memiliki anak di luar nikah?" ejek Pangeran Edward. Putri Christine menatap Pangeran Edward dengan mata menyala. "Semakin kamu mencarinya, aku akan semakin menjauhkan dia darimu Edward." Pangeran Edward justru terkekeh. "Kau akan membunuhnya juga?" tanya lelaki itu menantang. Putri Christine menatap Pangeran Edward tak percaya. Dia sudah berkorban banyak untuk lelaki yang dia cintai, namun lelaki itu malah bersikap seenaknya sendiri. Mengapa Pangeran Edward sampai hati menuduhnya sebagai seorang pembunuh? "Aku ... aku akan membunuhnya jika itu bisa menaklukkanmu," ucap Putri Christine tergagap. Putri Christine keluar meninggalkan Pangeran Edward di sana, dan saat itulah dia berpapasan dengan Paul. Paul membungkuk hormat menyapa kepergian Putri Christine. "Pastikan kamu akan melindungi anak itu dari jangkauanku Paul, jika aku melihat Edward lemah seperti ini lagi maka aku akan membunuhnya," ucap Putri Christine berlalu meninggalkan Paul yang tercengang mendengarnya. Bukan tanpa alasan, Putri Christine takkan membiarkan siapapun menghalangi jalannya. Dia tidak akan membiarkan Pangeran Edward lepas dari pengaruhnya. Dia ingin menguasai negara dan Kerajaan France dengan satu langkah. Apalagi saat ini, desas desus Edward semakin melemah dalam berpolitik membuat sang Kaisar bimbang untuk menunjuk Pangeran Edward menjadi perwakilan dari mereka. Tentu saja perhatian Pangeran Edward pecah saat mengetahui putrinya masih hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN