Kuatmu Bertahan

1018 Kata
Cinta itu kuatmu bertahan, tapi jika kuatmu tidak dihargai maka lepaskanlah. ---- Keluarga Corlyn dan Carollino berkumpul, kali ini bukan dari pihak Corlyn yang menyudutkan Erick. Tapi Ivander dan Arkanalah yang justru mencerca Erick tanpa henti, bahkan satu hantaman keras mengalir di wajah tampannya hadiah dari Arkana yang begitu murka. Arkana telah naik pitam. Harusnya Erick tidak memperlakukan Valeria seperti itu. Jika tahu Erick takkan mampu membahagiaakan Valeria, mungkin Arkana kala itu akan lebih gigih memperjuangkan cintanya bersama Valeria. Namun semua telah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. "Aku kira kamu berubah!" desis Arka tidak terima, ibu dari putranya disakiti seperti itu. "Apa bedanya aku denganmu dulu yang menyembunyikan tunanganmu dari Valeri?" tanya Erick menohok Arka. Erick mendengus, Arkana berbicara seakan-akan lelaki itu bersih tak berdosa. Bahkan Arkana membohongi Valeria, membawa wanita itu ke dalam lingkaran kehidupan Arkana yang tak tahu ke mana hubungan itu akan berpijak. Menikah siri, eh? Sedangkan Valeri menahan tangisnya agar tidak pecah, biarlah rumah tangganya kandas, asal jangan kehormatannya sebagai wanita yang terinjak-injak. Valeria merasa tidak beruntung telah mengabdikan dirinya untuk hidup bersama dengan Erick, lelaki yang tak bisa menghargai dirinya. "Kalian berdua, diamlah!" bentak Valeri tidak tahan akan peraduan mulut mereka. Air matanya kini membasahi wajah, merembes turun tiada henti. Semua orang menghembuskan napas lelahnya, dan Viona hanya mampu menangisi takdir putrinya. Oh andai saja dia tidak memaksa putrinya membuka hati untuk Erick mungkin putrinya takkan terluka untuk kedua kalinya, dan untuk alasan yang sama juga. "Aku pernah mempercayakan putrimu padamu, kegigihanmu mendapatkannya membutakanku, bahwa semua orang mampu berbuat salah. Semua keputusan ada pada Valeria, kami selaku orang tua hanya mampu mendukungnya," ucap Viona dengan suara bergetar. Hatinya sangat terluka melihat putrinya harus hidup dengan cobaan yang tak pernah kunjung usai. Sampai kapan air mata terus mengiringi langkah Valeria? Valeri memeluk bundanya, Valeri tau dan Valeri merasakan bagaimana sakitnya melihat anak semata wayangnya disakiti orang. Bahkan Valeri tidak terima jika Marchello ataupun Meechella disakiti atau bahkan terluka dengan alasan apapun. "Aku mohon Rose, berikan aku kesempatan," pinta Erick dengan matanya berkaca-kaca. Erick memegang kedua tangan Valeri, bersimpuh di bawah kakinya. Erick mampu melakukan segalanya, asalkan Valeria tidak pergi meninggalkannya. Dia tak akan sanggup hidup tanpa Valeria. "Aku bisa menjelaskan semuanya padamu." Erick memohon, meminta Valeria mempercayai dirinya. Valeri tersenyum sinis. "Semuanya? Siapa ibu dari anak itu? Apa hubunganmu dengannya?" cerca Valeria. Erick melepaskan genggaman tangannya, matanya menatap lekat ke arah Valeria. Apa yang akan dia katakan? Erick telah mengemban tanggungjawabnya dari Margareth. "Dia ... dia putriku Valeri," jawab Erick dengan nada berat. Hening, tidak ada suara. Hanya hembusan napas berat memenuhi rumah itu. Semua orang terdiam dengan pikiran berkecambuk di kepala mereka. "b******n kamu Erick!" Tiba-tiba saja Dirgazio datang dengan Velove di belakangnya. Zio langsung mencengkeram lengan Erick, memukulnya habis-habisan tanpa rasa kasihan. Zio tidak akan memberikan pengampunan kepada Erick yang telah melukai perasaan Valeria. "Aku percaya kamu bisa menjaga adikku b******n, apa seperti ini didikan keluarga Carollino?" geram Zio menghantam wajah Erick dengan brutal. Tidak ada yang melerai, mereka hanya menjadi saksi dari kesakitan Valeria. Semua turut merasakan rasa sakit itu. Sepertinya lebam pada wajah Frederick Carollino tidak sebanding dengan sakitnya perasaan Valeria saat ini. "Kemasi barang-barangmu dan juga anak-anak, ceraikan b******n ini!" ucap Zio pada Valeri saat dia sudah merasakan puas melampiaskan kemarahannya. Erick menggeleng, dia memaksakan diri untuk bangun. Dia mencoba menggapai kaki Zio, bersimpuh di bawah sana untuk memberikan pengampunan. Setidaknya jangan sampai Valeria dan Ello pergi meninggalkan rumah, karena Erick takkan sanggup menghadapinya. "Kumohon Kak, biarkan aku menebus semua kesalahanku," pinta Erick berlutut di kaki Zio. "Valeri, kamu mendengar ucapan kakakmu bukan?" tanya Zio dengan kilatan marah di matanya. Valeri berdiri, dia berjalan dan berhenti tepat di hadapan Erick. Valeri menatap wajah babak belur lelaki yang sudah menjadi teman hidupnya. Nyeri, itu yang dirasakan Valeri melihat semuanya. Ingin rasanya Valeri merengkuh wajah penuh lebam itu. Tapi tidak, sakit yang dirasakan Valeri lebih parah dari itu. Valeri kembali berjalan, namun langkahnya kembali berhenti saat melihat putranya menatapnya dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. "Ello, Sayang." Valeri mendekati Ello. Ello berlari ingin memeluk Erick, namun Zio dengan sigap menghalang Ello. Zio dengan cepat memeluk Ello agar keponakannya itu tidak mendekati Erick. Zio mendekap erat keponakannya, mengelus puncak kepala Marchello dengan lembut. "Uncle jahat, Uncle sakiti papa Ello!" teriak Ello dengan tangis yang kini pecah. Anak itu ingin memberontak, tapi tenaga Zio lebih besar dari pada dirinya. "Dia bukan papamu, Ello!" jawab Zio. "Tidak! Papa Erick, papanya Ello!" isak Ello dalam pelukan Zio. Zio menenangkan Ello, Erick bahkan ikut menitikkan air matanya. Ello adalah putranya, tidak ada yang mampu mengubah hubungan mereka. "Valeri cepat kemasi barang-barangmu." Velove meraih tangan Valeri, membantu Valeri mengemas barangnya yang akan wanita itu bawa. Setelah semuanya siap, Valeri mendekat ke arah Ello. "Kita pulang ke rumah Grandma," ucap Valeri dijawab gelengan kepala Ello. Anak itu ingin tinggal bersama Valeria dan Erick bersama-sama. "Ini rumah kita, kenapa kita harus pergi!" teriak Ello tak memahami perasaan ibunya saat ini. Valeri menangkup wajah Ello, mencium kedua mata Ello yang penuh air mata. "Sayang, Mama tidak pernah meminta apapun kepadmu sebelumnya bukan? Mama mohon, jangan seperti ini. Ello mau Mama sedih?" tanya Valeri dengan sorot mata yang begitu rapuh. Ello menggeleng, kemudian dia memeluk Valeri sangat erat. Mata Ello menatap Erick yang tengah bersimpuh tak berdaya. Mata mereka bertemu, Erick mengangguk, memberi sinyal bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Papa janji Nak, Papa akan menjemputmu dan mamamu," lirih Erick namun masih mampu didengar Valeri. Ya, pada akhirnya Valeri tidak bisa memberikan maaf untuk Erick. Hanya ada kenangan, beribu luka dan rasa sakit. Keluarga Corlyn meninggalkan rumah itu, sekali lagi Valeri melihat ke arah jendela. Di mana gadis kecil itu menangis seakan meminta agar tidak ditinggalkan. Di saat itulah air mata Valeri menitik. Teringat saat dia meninggalkan Marchello kala itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN