Demi Marchello

962 Kata
Bolehkah aku melupakan kesakitanku? Bolehkah aku pergi sejauh mungkin dari mereka semua penyebab luka? Bolehkah aku melarikan diri,bersembunyi dari perihnya sakit ini? Tapi kenapa aku kembali lari, bukankah aku harus menghadapi semuanya? ---- Mata indah yang basah karena air mata itu terpejam, menghirup napas sedalam mungkin. Hingga akhirnya kelopak mata itu terbuka, menampakkan kecantikannya. Mengapa rasa sesak itu sangat menyiksa dirinya? Valeria sampai tidak sanggup menahan kesedihannya di depan semua orang. Di sampingnya, Marchello terlihat begitu terluka atas pertengkaran hebat Valeria dan Erick—yang dianggapnya sebagai ayahnya sendiri. Bocah itu tidak menginginkan semua ini, dalam kepalanya dia hanya ingin tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya di sana. Itu adalah rumahnya, begitulah batin Marchello saat ini. Tidak, luka yang Valeria torehkan pada hati Marchello sudah terlampau dalam. Valeria tidak boleh egois, dan tidak memikirkan bagaimana perasaan serta psikis putranya saat ini. Ditatapnya sang putra yang kini terus saja menoleh ke arah rumah megahnya. Nampak jelas bahwa Marchello tidak ingin meninggalkan rumah mereka. Ya Tuhan, apa yang akan aku lakukan saat ini? "Berhenti," ucap Valeri saat mobil yang dia tumpangi bersama keluarganya hendak melaju. Semua orang di dalam sana menatap Valeri bingung. Valeri menghapus air matanya, kemudian melihat Marchello yang ikut menangis. Valeria tidak sanggup jika harus kembali melukai hati Marchello untuk yang kedua kalinya. Valeria merasa berat, memisahkan anak dengan lelaki yang telah dianggapnya sebagai sosok ayah hebat. "Kamu ingin bersama anak itu bukan?" tanya Valeri pada Marchello. Ello menunduk, dia mengangguk pelan. Dia tidak ingin meninggalkan adiknya, kesepian dan sendirian di sana. Marchello pernah dibuang, dia pernah ditinggalkan ibu kandungnya meskipun dia tinggal dengan layak dan tak kekurangan kasih sayang bersama Nayna-Machiko. "Mama akan mengikuti maumu Ello," ucap Valeri membuat semua terbelalak. Viona menatap putrinya, mencari tahu kesungguhan yang diucapkan Valeria. "Valeri, kamu?" Viona memastikan ucapan sang putri. "No, Bun, ini hidup Valeri. Valeri memang sakit karena penghianatan ini. Tapi sampai kapan Valeri egois, Valeri harus mengikuti kemauan putra Valeri. Ello berhak bahagia, kalau dengan ini dia bahagia kenapa tidak," ucap Valeri dengan legawa. Ello memeluk mamanya sangat erat. "Aku mencintaimu Ma, Ello mencintai Mama," isak Ello di pelukan ibunya. "Maafkan keegoisan Mama," isak Valeri. Semua mengerti, Valeri mementingkan kemauan putranya. Bukankah dulu putranya pernah dia tinggalkan? Bagaimana dia mampu memberi pilihan pada Erick untuk meninggalkan Rebecca? Bukankah itu kesalahan lagi. Marchello membuka pintu mobil, dia berlari ke arah Erick yang bersimpuh lemah di atas lantai marmer kediamannya. "Papa!" pekik Ello berlari menerjang Erick. Erick memeluk Ello sangat erat, dia menciumi wajah Ello. Dia tidak kehilangan putranya. "Papa takut kamu dan mamamu pergi, sungguh Papa tidak bisa hidup tanpa kalian." Valeri yang mendengarnya pun tidak kuasa menahan tangisnya. Viona menggenggam erat tangan Valeri. "Kami salah, putriku sudah dewasa sekarang. Dia punya pilihan untuk memilih. Bunda percaya keputusanmu, Sayang. Kamu bisa mengatasinya, Bunda yakin," ucap Viona. "Kebodohan apa ini Valeri, kamu mau bersama dengan b******n ini lagi? Hidup dengan anak dari wanita lain?" bentak Zio tidak terima. "Zio! Kamu lupa, Kakakmu Varo bukan anak kandung Bunda. Dia anak dari istri pertama suami Bunda. Bukankah itu sama dengan wanita lain?" ucap Viona memperingati Zio. "Tapi mereka selingkuh, itu jelas beda Bunda!" "Tidak, anak tetaplah anak. Dia tidak bersalah, kita pun belum tau kebenarannya," Nata menengani percekcokan mereka. Velove menarik tangan Zio. "Valeri bukan hanya adikmu, dia ibu dari anak-anaknya, dia sekarang istri dan bukan lagi seorang putri keluarga Corlyn. Semua berbeda Zio, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Ayo kita pulang, semua akan baik-baik saja," ucapnya memperingati sang suami. Keluarga Corlyn dan Carollino akhirnya memilih pulang,membiarkan keluarga itu menyelesaikan masalahnya. Mereka punya privasi tanpa perlu dicampuri urusannya terus menerus. Tidak ada manusia sempurna, Erick punya celah begitu juga dengan Valeri. Mereka berbeda, karena perbedaan itu mereka disatukan. Meleburkannya menjadi satu, untuk menjadi pelangi yang indah. "Valeri, terimakasih untuk kesempatannya" Erick menghampiri Valeri di dalam kamarnya. "Cukup Erick, aku kembali untuk kemauan Ello. Maafkan aku, aku tidak bisa menerima kalian semudah itu. Ini untuk kebahagiaan putraku, hanya itu," ucap Valeri dengan pandangannya melihat Marcello yang kini bermain dengan Rebecca. Valeri hancur, sangat hancur. Valeri tidak mampu memberikan Erick keturunan, tidak mampu memberikan Ello seorang adik. Inilah pengorbanannya sebagai istri dan ibu, menerima Rebecca menjadi bagian di keluarganya. "Karena aku tahu, kamu ingin anak perempuan, dan Ello pun ingin adik perempuan. Aku menerima dia di keluarga kita Erick, sebagai anakmu dan adik putraku. Tapi bukan sebagai anak ataupun putriku," ucap Valeri penuh penekanan. Valeri melangkah meninggalkan Erick menuju kamarnya, hanya kamarnya karena dia tidak lagi satu kamar dengan Erick hingga kapan yang dia sendiripun tidak tau akhir dari semua ini. * Pagi-pagi sekali, Valeri terbangun karena suara tangisan Rebecca. Dia melihat jam tangan di tangannya, kebiasaannya memakai jam tangan meskipun akan tidur. Dia bangun, melihat kondisi Rebecca kenapa menangis sedini ini. Valeri membuka pintu kamar Rebecca, dia melihat Rebecca menangis sangat kencang. "Heii kenapa menangis hem?" tanya Valeri sambil mengambil Rebecca dari box bayi. Valeri melihat tangan Rebecca yang memerah, ah pasti karena gigitan nyamuk. "Oh pasti gatal ya, Nak, bentar Mama ambil minyak telon ya," ucap Valeri tanpa dia sadari, nurani keibuannya yang tidak bisa hilang begitu saja. Setelah mengoles minyak telon pada tangan Rebecca, Valeri memandangi wajah Rebecca yang terpejam. Tidak ada wajah ataupun genetik Erick di sana, ataukah wajah itu milik ibunya? Nyeri, rasa hangat yang tadi datang kini berubah menjadi sangat dingin. Valeri meninggalkan Rebecca begitu saja dan berjalan kembali menuju kamarnya. Anak itu mirip ibunya, tentu saja Valeri akan semakin sakit setiap melihat wajah anak itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN