"Rupanya kau sangat ingin menyelesaikan ini, Nona. Apa kau tidak merindukan selingkuhanmu ini?" jawab Neuro, suaranya berlapis nada meledek yang membuat Alisha semakin ingin menampar pria itu.
Tatapan Alisha tajam seperti panah, menusuk langsung ke arah Neuro. Ia sangat tidak menyukai nada suara itu—nada yang meremehkan lawan bicaranya, seolah ia adalah mainan yang bisa dipermainkan sesuka hati.
"Jangan macam-macam! Kau tahu aku tidak suka berada di sini. Sekarang katakan saja, kau mau apa dariku? Uang? Kesepakatan bisnis? Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan, asal semuanya cepat selesai!"
Neuro berdecak, menggeleng perlahan, lalu tersenyum tipis. "Jangan galak begitu. Sudah kubilang, aku punya penawaran menarik untukmu."
Alisha menarik napas panjang, mencoba meredakan emosi yang semakin sulit dikendalikan.
Di kepalanya, bayangan untuk menampar pria ini terasa sangat menggoda, namun ia tahu, mengamuk di bar yang ramai bukanlah ide yang bijak.
"Baiklah. Apa penawaran menarik itu, Tuan Neuro Edenvile?" katanya, kali ini dengan nada lebih lembut. Ia tahu, menghadapi pria gila ini membutuhkan strategi, bukan kemarahan.
Neuro menatapnya dengan sorot mata penuh misteri, seperti seorang pelukis yang tengah menilai kanvas kosong. "Suamimu berselingkuh, bukan? Itu sebabnya kau mabuk-mabukan sendirian malam itu."
Alisha menegang. Kata-kata Neuro menyelinap ke dalam pikirannya seperti ular yang melingkar erat di sekelilingnya.
Ia meremas jemarinya, berusaha menahan dorongan untuk melempar gelas ke wajah pria itu.
"Kenapa kau malah membahas tentang suamiku?" tanyanya dengan nada dingin yang menusuk.
"Karena ini sangat berkaitan dengan penawaranku untukmu, Nona," jawab Neuro dengan senyum misterius yang menyiratkan ada lebih banyak hal di balik rencananya.
Alisha berdecak keras, "Sudah ku bilang, Rean adalah orang paling setia di muka bumi ini. Atas dasar apa kau berbicara sembarangan seperti itu?" Kilah Alisha menyangkal.
Meski perselingkuhan itu benar adanya, tapi ia tidak mungkin membongkar masalah rumah tangganya pada orang asing seperti Neuro.
Neuro menyipitkan mata, seolah mencoba menembus pertahanan yang Alisha bangun rapat-rapat. Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip belati yang mengancam, "Tidak usah menyangkal, Nona. Aku sudah tahu semuanya. Aku mendengarnya saat kau mabuk. Apa kau lupa?"
Alisha merasakan darahnya mendidih. Geram memenuhi dadanya, membakar sisa-sisa kesabarannya yang hampir habis.
Pria di hadapannya ini benar-benar manipulatif, seperti ular yang melilit dengan lembut hanya untuk akhirnya menjerat lebih keras. Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri.
"Lalu kau mau apa jika dia benar berselingkuh? Membantuku menghajarnya?" tukas Alisha asal, nada suaranya dingin dan penuh ketidakpedulian, meski di dalam hatinya, ketegangan mulai mencabik-cabik pikirannya.
Neuro mengangkat bahunya dengan santai, senyum kecil bermain di sudut bibirnya. "Ya, aku bisa membantu, tapi dengan cara yang lebih menarik," ujarnya, suaranya terdengar seperti bisikan misterius yang menyesatkan.
Kening Alisha berkerut, tatapannya tajam seperti mata elang yang mencoba menembus maksud tersembunyi.
"Cara yang lebih menarik?" tanyanya, nyaris berbisik, karena pikirannya sudah tenggelam dalam bayangan kemungkinan buruk yang Neuro bawa.
Neuro menyandarkan tubuhnya ke kursi, senyumnya melebar, dan mata abu-abunya berkilat dengan sesuatu yang gelap namun memikat.
"Seriuslah menjadikan aku pria simpananmu. Aku akan membuatnya menyesal karena telah mengkhianati pernikahan kalian."
Kata-kata itu menghantam Alisha seperti gelombang besar, membuatnya terhuyung meski ia tetap duduk tegak.
Matanya membelalak, bibirnya terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Hatinya menolak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Menjadikannya simpanan? Pikiran itu terasa seperti racun yang perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Kau sudah gila rupanya," gumam Alisha, suaranya terdengar seperti desis ular berbisa.
Wajah Neuro yang sebelumnya santai mulai mengeras, seperti topeng yang retak, memperlihatkan sesuatu yang lebih kasar di baliknya. "Apa? Gila?"
Alisha menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia menatap Neuro dengan kemarahan yang kini tidak lagi ia sembunyikan.
Pria ini tidak hanya membuang-buang waktunya, tapi juga mencoba menyeretnya ke dalam lubang kehancuran yang lebih dalam.
"Seharusnya aku tidak pernah ke mari dan mendengarkan omong kosongmu ini," gerutu Alisha kesal. Ia berdiri dengan cepat, kursinya berdecit pelan, memecah suasana tegang di antara mereka.
Netra biru Neuro, yang biasanya memancarkan keyakinan seperti lautan tenang, kini tampak diliputi kebingungan. "Tunggu, apa yang salah?" tanyanya, nadanya terdengar seperti seorang anak yang kehilangan arah.
Tatapan Alisha menjadi semakin dingin, seperti es yang mampu membekukan siapa pun yang berani mendekat.
Ketika Neuro berdiri dan menahan tangannya, ia memberikan tatapan sinis yang cukup tajam untuk memotong baja. "Lepaskan tanganku," katanya, nada suaranya tegas, seperti perintah dari seorang ratu yang tidak akan mentolerir pembangkangan.
"Katakan dulu apa yang salah? Bukankah penawaranku ini sangat membantu? Kau sudah melihat bagaimana reaksi cemburu yang suamimu tunjukkan kemarin malam," kata Neuro, suaranya penuh dengan ketulusan palsu yang hanya membuat darah Alisha semakin mendidih.
Alisha menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa muak yang mulai mencekiknya.
Ia menatap Neuro dengan sorot mata yang penuh penyesalan, bukan karena apa yang ia katakan, tetapi karena ia membiarkan dirinya membuang waktu berharganya untuk menghadapi pria seperti ini.
"Apa yang salah, katanya? Dari awal aku setuju untuk bertemu denganmu, itu sudah merupakan kesalahan besar."