Ada Tamu Penting

1504 Kata
"Dengarkan aku, Neuro Edenvile. Penawaranmu itu sama sekali tidak menarik," kata Alisha, suaranya penuh ketegasan, seperti bilah pedang yang diayunkan dengan presisi. "Apa?" jawab Neuro, alisnya terangkat, dan senyumnya memudar seolah tak percaya mendengar penolakan yang begitu telak. "Itu hanyalah permainan bodoh anak-anak," lanjut Alisha, suaranya kini terdengar lebih dingin, bagaikan angin beku di puncak gunung. "Bagaimana bisa aku membalas perselingkuhan dengan berselingkuh kembali? Tidak, aku tidak mau merendahkan diri seperti mereka." Ia berhenti sejenak, matanya menelusuri Neuro dari ujung rambutnya yang sempurna tertata hingga sepatu kulit mahal yang berkilauan di bawah lampu. Tatapannya begitu tajam, seperti pisau yang menelanjangi egonya hingga ke akar. "Lagipula kau sama sekali bukan tipeku." Cekalan Neuro di tangan Alisha terlepas begitu saja. Ia berdiri membatu, tubuhnya kaku seperti patung, sementara kata-kata Alisha bergaung di dalam pikirannya, mengguncang setiap pilar kebanggaannya. Melihat lawan bicaranya kehilangan kata-kata, Alisha menarik tas tangannya dengan anggun. Ia seperti ratu yang baru saja menyampaikan titah terakhirnya. "Aku harap kau mengerti. Aku hanya ingin menyelesaikan permasalahan rumah tanggaku tanpa kehadiran orang lain lagi," putusnya, kata-katanya menggema dengan akhir yang tegas, tidak memberi ruang untuk perdebatan. Bunyi ketukan heels tingginya menghentak lantai dengan ritme yang mantap, memecah keheningan yang menggantung di udara. Langkahnya penuh percaya diri, seperti seorang prajurit yang baru saja memenangkan pertempuran. Alisha meninggalkan Neuro yang tetap mematung di tempatnya, seperti bayangan pria yang terlupakan oleh dunia. Namun, di balik tatapan kosong itu, pikiran Neuro terus bergolak. Kata-kata Alisha, Lagipula kau sama sekali bukan tipeku, berputar di kepalanya seperti badai yang tak kunjung reda. Tak lama kemudian, di ruang kantornya yang luas dan penuh dengan dekorasi mewah, Neuro duduk di kursinya. Jarinya mengetuk meja kayu mahoni dengan irama yang tak menentu, cerminan dari hatinya yang gelisah. "Katakan padaku, John. Apa aku sekarang jelek?" tanyanya tiba-tiba, menengadah menatap asistennya dengan tatapan yang lebih dalam daripada biasanya. "Hah?" John memiringkan wajahnya, ekspresi bingung yang membuat dahinya berkerut. Neuro mendesah frustrasi, nada suaranya setajam serpihan kaca. "Dia berkata padaku aku bukan tipenya!" John terlihat ingin tertawa, tetapi ekspresi serius di wajah Neuro membuatnya menahan diri. "Kau menemui wanita itu lagi, bukan? Sudah kubilang, jangan bermain-main dengan wanita yang sudah bersuami. Kau rasakan sendiri akibatnya," gerutunya sambil menyodorkan berkas-berkas yang dibawanya. Neuro melemparkan tatapan tajamnya, seperti tombak yang menusuk langsung ke hati. John segera mengalihkan pandangannya, takut membuat keadaan menjadi lebih buruk. Neuro menggeram pelan, kemarahan membara di dalam dirinya. Ribuan wanita telah jatuh dalam pesonanya. Mereka memujanya seperti dewa, tetapi Alisha? Ia tak sekadar menolak, ia menghancurkan kepercayaan dirinya hingga berkeping-keping. "Menyebalkan!" umpat Neuro akhirnya, suaranya bergema di ruangan itu. John melangkah mundur, mengambil berkas-berkasnya dengan tergesa, takut jika amarah Neuro meledak lebih jauh dan menghancurkan dokumen penting yang ia bawa. Namun di balik kemarahannya, sesuatu yang lain mulai tumbuh dalam diri Neuro. Penolakan itu, kata-kata dingin Alisha, justru membuat adrenalinnya terpacu. Bukannya menyerah, keinginan untuk menaklukkan wanita itu semakin kuat. "Aku harus pergi," gumamnya, tatapannya kini dipenuhi tekad. Ia meraih jaketnya dan melangkah keluar, meninggalkan John yang masih menatapnya dengan kebingungan. John hanya bisa melongo, mulutnya terbuka tanpa suara, saat Neuro tiba-tiba berdiri dengan gerakan cepat. Jas hitam yang tergantung di tiang kursinya segera diraih dan disampirkan dengan gaya yang hampir teatrikal. "Mau ke mana?" tanyanya, nada suaranya bercampur antara kekhawatiran dan keputusasaan, seolah ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Neuro berbalik, dan senyum liciknya—senyum yang sering kali membuat lawan bicara gemetar antara kagum dan takut—menghiasi wajahnya. "Ke Perusahaan Joy Deluxe," katanya ringan, seakan menyebut tujuan itu sama sederhananya dengan pergi ke toko roti. "Tidak! Jangan ke sana! Ayahmu akan..." Namun, kata-kata John menggantung di udara, tak lebih dari hembusan angin yang tak digubris. Langkah kaki Neuro mantap, seperti dentang lonceng yang mengiringi prosesi seorang raja yang hendak menuntut balas. Ia melangkah keluar dengan keyakinan yang begitu kokoh hingga udara di sekitarnya terasa bergetar. Di luar, kendaraan roda empatnya menunggu, sebuah mesin buas yang siap mengantarnya ke medan perang. Neuro menginjak pedal gasnya, dan suara mesin meraung seperti singa yang baru saja dilepaskan dari kandangnya. Senyum licik itu tetap terukir, menghiasi wajahnya seperti mahkota kegelapan. Di benaknya, ia sudah membayangkan betapa kacaunya Alisha ketika mengetahui bahwa "selingkuhannya" ini akan menghadapi suaminya langsung. "Permainan bodoh ini dimulai olehmu, Alisha," gumam Neuro pada dirinya sendiri, tatapannya penuh tekad. "Kini, aku hanya ingin memastikan siapa yang akan tertawa terakhir." ** Setibanya di Perusahaan Joy Deluxe, Neuro melangkah masuk seperti seorang penakluk yang baru saja tiba di tanah musuh. Nama belakangnya, Edenvile, adalah kunci emas yang membuka pintu-pintu yang biasanya terkunci rapat. Semua mata memandangnya, beberapa dengan rasa ingin tahu, yang lain dengan rasa kagum. Tanpa ragu, Neuro langsung menuju ruangan Rean. Ia hampir tidak memberi waktu bagi resepsionis untuk memperkenalkan kedatangannya. Langkahnya tegas, tiap hentakan sepatu di lantai marmer terdengar seperti ketukan palu penghakiman. Pintu ruangan Rean terbuka, dan pria itu mendongak dari meja kerjanya dengan ekspresi kaget yang tidak bisa ia sembunyikan. Alisnya berkerut samar, menunjukkan kebingungan yang perlahan berubah menjadi kewaspadaan. "Anda?" tanya Rean, suaranya terdengar datar namun penuh pertanyaan. Neuro hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak menjawab namun malah mengundang lebih banyak pertanyaan. "Neuro Edenvile, jika Anda lupa," ujarnya, nada suaranya seperti angin sepoi yang dingin namun menusuk. "Saya tahu," jawab Rean, meskipun ekspresinya mengatakan sebaliknya. Dengan gestur formal, ia mengulurkan tangan, mempersilakan Neuro untuk duduk di sofa yang empuk dan nyaman. Neuro menuruti tawarannya, duduk dengan pose santai yang terkesan menguasai ruangan. Ia tampak seperti seorang aktor utama dalam panggung drama, sementara Rean hanyalah seorang figuran yang kebetulan berada di tempat yang salah. "Anda mau minum apa?" tanya Rean, mencoba menjaga nada suaranya tetap profesional meskipun rasa ingin tahunya hampir meluap. "Black coffee saja," jawab Neuro, seakan memilih kopi dengan santai adalah bagian dari permainan yang lebih besar. Rean mengangkat gagang telepon dan memberi perintah singkat, "Bawakan dua cangkir kopi ke ruangan saya." Setelah itu, ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Neuro, lalu duduk di sofa yang berhadapan dengannya. "Jadi, ada urusan apa Anda kemari, Tuan Neuro Edenvile?" tanyanya, nada suaranya mulai lebih tajam, lebih serius. Keningnya berkerut, menandakan pikiran yang sibuk mencoba meraba-raba alasan kedatangan Neuro. "Seingat saya, kesepakatan bisnis saya dengan Tuan Robert berjalan dengan lancar kemarin. Apa sekarang ada permasalahan lain?" Neuro mengangkat sebelah tangannya, isyarat yang seolah memotong aliran kekhawatiran Rean sebelum ia sempat melanjutkan. "Tidak. Saya kemari bukan tentang itu. Itu urusan ayah saya. Saya tidak ingin mencampurinya." Kening Rean semakin berkerut mendengar ucapan Neuro. Mata elangnya yang tajam menatap pria di depannya dengan intensitas yang menusuk. "Lalu?" Neuro menyandarkan tubuhnya dengan santai pada sofa empuk, seolah ruangan ini adalah wilayah kekuasaannya. Bibirnya melengkung dalam senyum tipis, senyum yang menyimpan misteri di baliknya. "Saya kemari ingin membahas hal lain dengan Anda." Rean memiringkan kepalanya sedikit, rasa ingin tahu melintas di sorot matanya yang dingin. "Membahas hal lain? Apa yang ingin Anda bahas?" Neuro mencondongkan tubuhnya ke depan, memperkecil jarak antara mereka. "Ada yang ingin saya katakan perihal istri Anda, Pak Rean." Kalimat itu meledak seperti bom waktu. Di tempat lain, ponsel Alisha bergetar di atas meja, nyaris terabaikan di tengah obrolannya dengan Jeselyn. Namun, begitu pesan masuk terlihat di layar, ia terperangah. Sebuah foto memenuhi layar, memperlihatkan ruangan kantor Rean yang ia kenali dengan baik. Pesan berikutnya menyusul, membuat wajahnya memucat. "Kau tahu tempat ini kan? Menurutmu apa yang biasanya selingkuhan katakan jika bertemu pasangan sahnya?" "Astaga... pria gila itu benar-benar!" Alisha terlonjak dari kursinya, suaranya meninggi, memecah keheningan di ruangan. Jeselyn, yang sedang sibuk membahas angka-angka dalam laporan mereka, langsung menghentikan kegiatannya. Matanya melebar, memandang Alisha dengan tatapan bingung. "Hei, ada apa?" tanyanya, tapi Alisha sudah terlalu tenggelam dalam kepanikan. Alisha berjalan mondar-mandir seperti arus sungai yang tak tentu arah, tangan gemetar mencoba mencari tasnya. "Sepertinya aku harus pergi," katanya, nada suaranya penuh urgensi. Jeselyn menangkap tangan Alisha, memaksa wanita itu berhenti. "Katakan dulu, ada apa?" tanyanya, lebih mendesak sekarang. Wajah Alisha dipenuhi oleh kegelisahan, sementara Jeselyn hanya bisa menatap tanpa memahami. "Belut licin itu ada di kantor Rean," jawab Alisha, berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Jeselyn. Jeselyn ternganga, tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. "Neuro? Di kantor Rean?" tanyanya, mencoba memastikan ia tidak salah dengar. Namun, sebelum Alisha sempat menjelaskan, ia sudah melangkah dengan cepat, tasnya diayunkan ke pundaknya dengan gerakan panik. "Hei, tunggu! Kau mau ke mana?" teriak Jeselyn, tapi Alisha tidak menjawab. Di lorong kantor, Alisha hampir menabrak Gea, yang menatapnya dengan bingung. "Mau ke mana, Kak?" Alisha tidak memperlambat langkahnya. Kakinya bergerak seperti digerakkan oleh mesin, setiap langkahnya penuh dengan tekad dan rasa cemas yang bercampur aduk. Sesampainya di parkiran, ia segera masuk ke mobilnya. Pedal gas diinjak kuat-kuat, membuat mobil melesat secepat angin, meninggalkan deru keras di belakangnya. Jalanan yang penuh kendaraan terasa seperti labirin yang harus ia taklukkan secepat mungkin. Setibanya di Perusahaan Joy Deluxe, Alisha nyaris tidak memberi perhatian pada resepsionis. Napasnya terengah-engah saat tiba di depan meja Mona, sekretaris Rean. "Mona, aku harus bertemu dengan Rean hari ini," katanya, suaranya seperti pisau yang tajam dan tak terbantahkan. Mona terlihat gelisah. "Tapi, maaf, Bu. Ada tamu penting sedang berada di ruangan Pak Rean."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN