bc

Setelah Kita Berpisah (GRATIS!)

book_age18+
660
IKUTI
4.0K
BACA
sex
escape while being pregnant
badgirl
CEO
drama
mystery
coming of age
disappearance
first love
poor to rich
like
intro-logo
Uraian

WARNING: 21+ (Romance DEWASA)

Nyatanya menikah muda tak seindah yang orang lain bayangkan. Jika belum siap dari segi mental dan materi, lebih baik urungkan saja niatan tersebut, karena menikah itu tidak melulu tentang cinta-cintaan semata.

Sama halnya dengan kisah cinta Kanaya dan Abi Wibisena. Mereka berdua nekat memutuskan menikah muda di usia 20 tahun.

Namun belum genap satu tahun menikah, bagai ditelan bumi, tiba-tiba Abi pergi begitu saja meninggalkan Kanaya tanpa sepatah kata pun.

Delapan tahun berlalu….

Abi kira Kanaya sudah menikah lagi dan hidup bahagia bersama keluarga barunya. Namun siapa sangka pertemuan kedua mereka begitu mengejutkan.

Di sana Abi menemukan Kanaya dengan kondisi yang begitu memprihatinkan.

Kenapa Kanaya bisa berakhir seperti ini? Di mana anak yang dulu tengah dikandungnya? Apakah saat ini anak mereka sudah besar?

Seribu pertanyaan bersemayam di benak Abi menuntut sebuah jawaban.

***

Instagram: @CeritaHalwa

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog - Wanita Penari
“Apa acara itu tidak dapat diwakilkan saja dengan orang lain?” ucap seorang lelaki yang saat ini sedang duduk di kursi kerjanya. Raut wajah lelaki tersebut terlihat tidak bersahabat sejak tadi. Pram, sekretaris pribadi dari lelaki di depannya itu hanya mampu tersenyum kecut. “Tidak bisa, Pak Sena. Acara tersebut wajib dihadiri oleh Anda sendiri.” “Bagaimana jika Ganda saja yang datang ke sana untuk menggantikanku? Kau tahu bukan kalau aku ini paling tidak suka dengan acara yang berbau seperti itu?” ucap Sena berusaha memberikan opsi kedua kepada sekretarisnya. Sedangkan Ganda adalah wakil direktur di perusahaan ini. “Masalahnya Anda menyuruh Pak Ganda untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota sampai Minggu depan. Jadi hal itu tidak mungkin terjadi,” balas Pram lemas. Tidak mungkin juga bosnya lupa kalau Pak Ganda sedang keluar kota. Pasti dia sengaja mencari-cari alasan agar tidak datang ke acara itu. “Ya, sudah kalau begitu kau saja yang pergi ke sana sendirian,” ucap Sena masih tidak mau kalah. Pram mengembuskan napas lelah. Menjadi bawahan dari Pak Sena memang luar biasa beratnya. Selain jam kerja yang tidak kenal waktu, Pram juga harus banyak-banyak bersabar dalam menghadapi sikap atasannya yang terkadang sulit ditebak dan seenaknya sendiri. Jika Pram tidak ingat kalau cicilan kendaraan serta cicilan rumahnya belum lunas pasti dia sudah mengajukan resign sejak dahulu. “Sudahlah batalkan saja acara itu.” Sena acuh, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja. “Ayolah, Pak. Kehadiran Anda sangatlah penting. Jika Anda tidak suka, Anda cukup duduk sejenak dan berbincang sepatah dua patah kata kepada mereka lalu setelah itu Anda bebas pulang ke rumah,” bujuk Pram untuk kesekian kalinya. Pak Sena nampak terdiam sejenak, sepertinya dia sedang menimbang-nimbang saran yang ia berikan. “Lagi pula menurut saya Pak Pradja tidak akan senang jika mengetahui kalau Anda menolak menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh klien kita, Pak,” tambah Pram lagi. Setelah itu Pram hanya mampu meringis, sepertinya tadi ia salah bicara. Bukannya luluh, Pak Sena malahan menatapnya begitu tajam. Mungkin itu semua karena ucapannya barusan terdengar seperti ancaman kepada bosnya. Pak Pradja—alias ayah dari Pak Sena—adalah presdir di perusahaan ini. Tentu saja Pak Sena tidak berkutik jika sudah berurusan dengannya. Sena menghela napas. Akhirnya dia mengalah juga. “Baiklah, kau atur saja jadwalku untuk nanti malam. Intinya setelah menyapa mereka aku akan langsung pulang!” Pram tersenyum gembira. Ah akhirnya! “Baik, Pak. Saya mengerti.” Pram membungkukkan badan memberi penghormatan, setelah itu ia berpamit keluar dari ruangan yang sejak tadi mencekam mentalnya. *** “Terima kasih atas kedatangan Anda, Pak Sena.” Sena tersenyum ramah serta menjabat uluran tangan dari Pak David—perwakilan dari perusahaan yang kemarin menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan miliknya. Pak David berperut buncit, rambutnya pun juga sudah memutih. Sena tebak usia Pak David saat ini seumuran dengan ayahnya di rumah. “Silakan duduk Pak Sena, saya harap Anda menyukai pesta kecil-kecilan yang saya adakan khusus untuk Anda hari ini,” ucap Pak David saksama. Pram melirik sekilas ke arah bosnya. Meskipun bosnya terlihat tersenyum kepada klien mereka, tapi Pram yakin di dalam hati kecilnya Pak Sena merutuki kesialannya malam ini. Sejak dulu Pram memang tahu kalau bosnya itu paling tidak suka dengan acara yang menyimpang seperti ini. Jika kau bertanya pesta apa yang dihadiri oleh Pak Sena sehingga dia begitu tidak menyukainya maka jawabannya adalah pesta ini diselenggarakan sebagai bentuk terima kasih Pak David atas berhasilnya kontrak kerja sama di antara mereka berdua. Masalahnya di pesta ini Pak David sengaja menyajikan minuman serta beberapa wanita malam guna menghibur hati Pak Sena, padahal dia tidak tahu kalau Pak Sena begitu tidak menyukainya. Memang tidak semua perusahaan bersikap abnormal seperti apa yang tengah dilakukan oleh Pak David untuk memperlancar bisnis mereka. Contohnya Pak Sena, dia tidak pernah melakukan hal kotor seperti ini ketika menjalankan bisnis ayahnya. Cara kerja Pak Sena selalu bersih. Pekerjaan, ya, pekerjaan saja. Tidak perlu embel-embel hadiah plus-plus seperti ini. Lampu di ruangan VVIP yang mereka tempati perlahan meredup, tergantikan dengan lampu warna warni memenuhi ruangan seperti lampu yang biasanya ada di diskotek. Tidak hanya itu saja, tirai di depan mereka tiba-tiba tersingkap, memperlihatkan tiga tiang menjulang tinggi ke atas. Dahi Sena mengernyit. Jika diamati saksama, tiang tersebut seperti tiang yang biasanya digunakan oleh para penari pole dance. “Silakan minumannya, Pak Sena,” ucap Pak David agak keras karena berusaha bersaing dengan suara lagu yang saat ini tengah diputar. “Terima kasih,” jawab Sena sekenanya. Tiga penari pole dance mulai memasuki ruangan. Kini cahaya warna warni sirna, tergantikan oleh cahaya putih yang masing-masing menyoroti tiga penari tersebut. Salah satu dari ketiganya nampak mengenakan pakaian begitu terbuka—yang menurut Sena malahan terlihat seperti baju renang warna hitam. Satunya lagi mengenakan kostum seperti penari mesir yang setiap kali pinggulnya bergerak maka manik-manik di tubuhnya ikut bergerak. Sedangkan penari yang terakhir terlihat mengenakan pakaian seperti seragam anak SMA, bedanya potongan rok penari tersebut sangat minim (sejengkal dari paha) sedangkan atasannya sendiri begitu ketat sampai memperlihatkan bagian pusarnya yang terbuka. Ketiganya sengaja dipakaikan topeng penutup mata, mungkin topeng itu bertujuan untuk menjaga privacy mereka. “Sepertinya kau sangat menikmati pesta ini dibandingkan diriku,” sindir Sena ketika melirik ke arah Pram yang saat ini hampir meneteskan air liurnya saat melihat tubuh menggoda ketiga penari tersebut. “Ti-tidak, Pak! Anda salah paham! Mana mungkin saya bersikap seperti itu hahahaha.” “Tapi wajahmu merah,” tambah Sena lagi dengan raut datar seperti orang yang tidak memiliki ekspresi sama sekali. Pram hanya menyengir kuda. Tidak apalah, lebih baik dia melihat ketiga penari cantik di depannya itu daripada melihat wajah ketus bosnya. Lagipula Pram bosan setiap hari melihat wajah Pak Sena melulu. Beberapa menit berlalu Pak David terlihat sudah mabuk kepayang. Ia menyanyikan lagu yang sedang diputar meski nyanyiannya terdengar tidak jelas. Tak puas sampai di situ saja, Pak David juga menggodai wanita yang mengenakan kostum baju renang kurang bahan. Untungnya sekretaris Pak David ada di sini untuk menjaganya. Sena masih duduk terdiam di tempatnya, cahaya di sekitarnya nampak temaram sehingga dia hanya mampu menatap lurus ke arah depan. Mata Sena sejak tidak lepas dari penari nomor tiga yang mengenakan baju anak SMA. Entah mengapa dia merasa familier dengan wanita tersebut. Dari gerak-geriknya, sepertinya ada yang aneh dengan wanita. Dari caranya yang mencoba menurunkan roknya yang kependekan serta gerakan menarinya yang kaku dibanding kedua penari lainnya, sepertinya wanita itu juga tidak menyukai acara ini seperti dirinya. “Ayo Pak Sena kita menyanyi bersama,” ajak Pak David menyodorkan mic kepadanya. Sena menolak halus permintaan Pak David, meskipun begitu untuk menghargai kliennya Sena tetap mengambil mic yang diberikan Pak David. Setelah Pak David pergi barulah Sena meletakkan mic tersebut di samping tempat duduknya. Kini Pak David berjalan sempoyongan menghampiri gadis berpakaian anak SMA dan mulai menggodanya. “Hai manis, mari menari bersamaku.” Gadis yang sejak tadi tertunduk itu berusaha menolak ajakan Pak David, ia sampai mundur satu langkah ke belakang untuk menghindarinya. “Hehehe aku suka gadis yang pemalu sepertimu. Malam ini kau harus melayaniku, oke?” Sang penari begitu ngeri mendengar ucapan bapak-bapak m***m di depannya itu. Begitulah lelaki, mereka lebih penasaran dengan wanita yang penampilannya tidak terlalu terbuka seperti kedua penari lainnya, apalagi sikap penari ketiga yang malu-malu malah membuat Pak David semakin bersemangat. Ia pun menarik tangan wanita tersebut secara paksa untuk memeluknya. “Tidak. Saya mohon lepaskan saya!” cicit penari nomor tiga mencoba melepaskan diri dari pelukan Pak David. Ia bahkan sampai menangis saking ketakutan. Mata Sena membola. Gerakan tangannya yang semula hendak menyesap kembali red wine-nya pun berhenti manakala mendengar suara dari sang penari. Suara itu.... Kenapa bisa? “Sudahlah jangan sok jual mahal kau in—” Pak David belum sempat menyelesaikan ucapannya, namun tiba-tiba seseorang mendorongnya begitu keras sampai ia tersungkur ke lantai. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Pak Sena! “Apa kau tidak dengar kalau dia mengatakan tidak mau, huh?!” “Pa-Pak Sena... Apa yang Anda lakukan!” ucap Pram terbata, ia pun segera menghampiri bosnya yang saat ini terlihat begitu kesal atas tindakan tidak sopan Pak David barusan. Sena mengepalkan tangannya kuat-kuat, sampai-sampai urat di rahangnya yang mengeras terlihat begitu jelas. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Sena kepada wanita tersebut. Ia mengabaikan pertanyaan dari Pram. “A-Abi....” ucap si wanita penari. Kini manik mereka saling bertemu, bertatapan satu sama lain. Si wanita hanya mampu menitikkan air mata membuat Sena tidak tega kepadanya. Pram yang melihat itu semua keheranan. Kenapa wanita itu menyebut Pak Sena dengan panggilan Abi? Kemudian wanita itu tertunduk kembali sambil memeluk lengannya sendiri. "Pakailah ini," ucap Sena sambil melepaskan jas yang dikenakannya, ia pun menyampirkan jas miliknya pada belakang tubuh wanita tersebut. Melihat itu semua secara langsung, jelas membuat Pram semakin mengernyitkan dahi. Kenapa Pak Sena bisa selembut itu kepada wanita penari yang baru saja ditemuinya? Tidak pernah sekalipun Pram melihat sisi Pak Sena yang seperti itu. Terlebih lagi kenapa Pak Sena sampai mendorong klien mereka hanya demi melindunginya? Pram berganti menatap Pak David. Untung saja Pak David mabuk jadi kemungkinan besar beliau tidak ingat dengan kejadian malam ini. Pak David terlihat mulai bangkit kembali. Sekretaris Pak David sampai bingung harus berbuat apa, dia takut kalau bosnya akan menggila. Pak David menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Tangannya menggapai-gapai hendak menyentuh wanita itu lagi. “Kemarilah Sayangku, mari bersenang-senang bersamaku sampai pagi hari.” Sena kehabisan kesabaran. Beraninya bandot tua itu hendak menyentuh wanita itu lagi! Dengan penuh amarah Sena melayangkan tinjunya kembali mengenai wajah Pak David sehingga membuat suasana di ruangan ini menjadi gaduh. Dua penari yang berada di dekat mereka berteriak ketakutan. Pram kesusahan memisahkan bosnya yang sedang menghajar Pak David begitu brutal sampai kliennya itu bersimbah darah karenanya. Sedangkan sekretaris Pak David berusaha menarik bosnya agar tidak menjadi samsak hidup Pak Sena. “Pak Sena, tolong kendalikan diri Anda! Kenapa Anda bersikap seperti ini!” teriak Pram memegangi lengan Sena agar tidak memukul lagi. Sena menghempaskan lengannya yang tengah dipegangi oleh Pram. Kemudian ia bangkit dengan napas yang berembus tak karuan saking emosinya. “Apanya yang apa! Dia menyentuh istriku, Sialan!” “I-istri?” Pram terkejut mendengarnya. Bukannya selama ini Pak Sena masih lajang? Lalu kenapa dia memanggil penari tersebut sebagai istrinya? Setelah itu.... *** CATATAN PENTING: 1) Sila follow akun @CeritaHalwa untuk mengetahui jadwal update novel ini, biasanya kalau aku berhalangan update maka aku akan kasih info di sana.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pernikahan Wasiat

read
244.0K
bc

23 VS 38

read
306.0K
bc

Nikah Lagi Aja, Yuk!

read
12.1K
bc

Hidden Love

read
141.7K
bc

Happier Then Ever

read
95.9K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
60.1K
bc

Love Never Promised [Indonesia]

read
22.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook