Adam masih dalam suasana berkabung. Ia pun masih menerima banyak kunjungan dari teman, pelanggan dan kerabat almarhum Engkong Udin lainnya. Teman-teman kampusnya juga berdatangan silih bergabti untuk mengucapkan belasungkawa dan memberi uang santunan. Pemuda tak berayah ibu itu masih belum bisa percaya seratus persen jika kakeknya yang begitu ia sayangi dan cintai telah tiada. Ia benar-benar terpukul. Hidupnya kini sebatangkara, meski ada kerabat almarhum kakeknya tapi mereka jauh tinggal di luar kota dan luar pulau. Sepanjang hari ini ia tak pergi kemana pun. Begitu tak ada lagi tamu ia segera membereskan semua benda yang ada terutama barang-barang pribadi peninggalan almarhum Engkong Udin. Rencananya ia akan menyumbangkan kepada yang membutuhkan. Adam tak mau menyimpan kenangan bersama

