Lucky menjemput Tri yang sore hari ini akan pindah untuk tinggal di rumahnya. "Bagaimana sudah siap?" Lucky memperhatikan Tri. Raut muka gadis di hadapannya itu menunjukkan kesedihan. Sekali lagi ia akan meninggalkan rumah kontrakannya. Meskipun hanya rumah kontrakan namun ia merasa betah. Apalagi di sana ada Adam. "Sudah A, ini teh baju-baju dan beberapa barang pribadi lainnya." Tri menunjuk ke arah barang bawaannya yang tak terlalu banyak, sebuah ransel dan sebuah koper. "Kamu ga pamit dulu kepada Adam?" Lucky seratus persen ingat jika Tri selalu melibatkan Adam dalam setiap langkah yang ditempuhnya. Pemuda itu merupakan sosok penting yang berpengaruh dalam setiap keputusan Tri. Pemuda itu juga yang sering membuatnya cemburu dan terancam menjadi orang ketiga dalam hubungannya. "Adam

