Adam melirik ke arah kontrakan Tri yang sepi. Pintu dan gardeng tertutup rapat. Lampu luar pun menyala. Tri resmi pindah sejak kemarin. Ada sesuatu yang hampa di hatinya. Ia semakin kesepian dalam kesendiriannya. Tak ada lagi teman nongkrong yang bisa diajak berbagi cerita suka maupun duka. Tak akan ada lagi yang biasa merengek manja meminta bantuannya. Adam tak menyangka jika ia akan berpisah dengan Tri secepat ini. Jika boleh jujur Adam benar-benar patah hati. Ia butuh obat penawar yang mujarab. Entah bagaimana caranya. Selama ini Tri belum tahu perasaan hati Adam yang sesungguhnya. Namun Adam sadar, ia jauh lebih terluka jika Tri menolak cintanya dan persahabatan mereka hancur. Biarlah ia pendam saja. Ia memang bisa menghubungi Tri melalui panggilan ponsel kapanpun ia mau. Namun

