"Mak, ada Tri!" Tami mencoba membangunkan ibunya yang tengah tertidur. Ia mengusap lengan ibunya dengan pelan. Mata Mak Asih pun langsung terbuka perlahan. Ia menatap ke arah Tri dengan sorot penuh keraguan. Di hadapannya memang benar ada sosok anak bungsunya. Walau bagaimana pun tetap saja rasa sesal dan bersalah menghantui dirinya, namun ia selalu berusaha menutupinya. Sebagian dirinya tetap seperti Mak Asih yang dulu yang penuh dengan gengsi dan kesombongan. Semua yang dilakukan Tri sepertinya tak berarti apa-apa. Tri mendekat ke arahnya. Lalu mencium tangannya. Bagaimana pun sikap Mak Asih kepadanya tetap dia adalah ibu kandungnya yang harus selalu dihormati olehnya. Tri selalu berusaha untuk memaafkannya dan tak menaruh dendam sedikit pun meski luka di hatinya begitu dalam. "Emak s

