Lho Kok Jadi Begini?

1652 Kata
"Saya punya bukti nyatanya, Tante," seru Kelvin yang tiba-tiba membuka pintu kamar rawat inap Mami Rosita. Perhatian Papi Johan dan Mami Rosita langsung terpusat ke arah Dokter muda itu yang kini mulai berjalan mendekat ke arah mereka. "Bukti nyatanya apa, Kel?" tanya Mami Rosita lirih. Kelvin menengok ke arah belakang sekilas menatap Kendra, seolah-olah sedang meminta maaf kepada Dokter muda itu. "Maafin aku ya, Ken. Aku terpaksa lakuin hal ini demi kebaikan kita semua," ucap Kelvin tanpa suara kepada lelaki yang sedang berdiri di ambang pintu masuk kamar rawat inap ini. Jantung Kendra mulai berdetak lebih kencang dari biasanya menanti hal yang akan terjadi selanjutnya. 'Aku mohon jangan katakan itu, Vin. Aku tidak mau mengkhianati Citra,' batin Kendra yang saat ini sedang kelimpungan dengan tindak-tanduk sahabatnya. "Tante, sebenarnya ... Kendra punya hubungan khusus dengan Mela pembantu muda di rumahnya Ken," tutur Kelvin. Papi Johan dan Mami Rosita membulatkan kedua matanya setelah mendengar penuturannya Kelvin. "Apa?!" ucap mereka bersamaan. "Kel, tolong jelaskan secara gamblang! Maksud hubungan khusus antara anak Tante dengan pembantu dekil itu yang seperti apa maksudnya?" tanya Mami Rosita yang berharap kalau pendengarannya itu salah. Berita yang dibawa oleh Kelvin tidak lebih baik dari gosip yang sedang beredar di sosial media karena jika hal itu benar -maka silsilah keluarganya Kendra yang sejak jaman dahulu memiliki darah biru bisa tercemar oleh darah Mela yang berasal dari kalangan rakyat jelata. "Sebenarnya Kendra dan Mela sudah berpacaran selama sebulan ini, Tante, tapi mereka nggak berani mempublikasikannya ke muka umum. Kendra juga takut kalau Tante dan Om langsung menentang hal ini mentah-mentah, makanya hubungan mereka dirahasiakan sampai sekarang," jelas Kelvin panjang lebar yang tentunya sedang mengarang bebas dadakan. "Ini tidak mungkin," ucap Mami Rosita sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Argh," tangan kanan Mami Rosita memegangi area dadanya. Jantung wanita tua itu merasakan sakit kembali setelah mendengar penjelasan Kelvin, namun tidak separah sewaktu melihat foto ciuman antara Kendra dan Kelvin di layar ponselnya. "Mi!" seru Kendra dan Papi Johan bersamaan yang begitu mengkhawatirkan kondisi wanita tua itu. Kendra juga langsung berlari kecil mendekat ke arah Maminya yang saat ini sedang memegangi area dadanya. "Lepas," ucap Mami Rosita yang tidak ingin dipegang oleh Kendra. "Mami kenapa sih?" cakap Kendra mempertanyakan sikap Ibunya itu yang sangat ketus terhadapnya. "Kamu yang kenapa, Ken. Kamu itu keturunan darah biru, bisa-bisanya kamu malah pacaran sama pembantu dekil itu," sungut Mami Rosita tidak terima. Kedua netranya juga memancarkan amarah yang berkobar saat bertemu pandang dengan manik-manik mata Kendra. "Memangnya kenapa kalau aku keturunan darah biru? Aku juga masih manusia, Mi. Mela pun manusia biasa. Lalu di mana salahnya? Kenapa aku tidak boleh berpacaran dengan Mela?" ucap Kendra mempertanyakan. "Salahnya di kasta, Ken. Kita nggak selevel sama pembantu dekilmu itu," pekik Mami Rosita yang sedikit berteriak. "Sebenernya maunya Mami tuh apa sih?" kesal Kendra. "Tadi Mami kena serangan jantung gara-gara lihat foto rekayasa yang menunjukkan aku ini pecinta sesama jenis. Nah giliran sekarang aku kebuktian nggak seperti gosip yang beredar -Mami juga nggak terima. Jadi maunya Mami tuh apa? Apa mungkin kalau Kendra pasangannya sama cowok yang sekasta dengan kita -Mami bakal merestui hubungan kami?" "Nggak!" sergah Mami Rosita cepat. "Kamu nggak boleh nikah sama sesama jenis." "Trus ... aku harus nikah sama siapa, Mi?" "Kamu bakalan Mami jodohkan dengan anak rekan bisnis Mami dan Papi," putus Mami Rosita. "Nggak. Pokoknya Kendra nggak mau dijodohin sama wanita pilihan Mami. Kendra cuma mau nikah sama Mela, titik. Hanya Mela, dan cuma Mela yang boleh jadi istri Kendra," tandas lelaki itu. "Kamu nggak boleh menentang hal ini, Ken! Ini udah jadi keputusan bulat Mami sama Papi," "Ok, silakan Mami pilihin calon istri buat Kendra. Tapi ... siap-siap saja kalau dalam waktu dekat ini aku akan buat kehebohan yang lebih parah dari foto rekayasa yang sedang beredar di sosial media. Tolong pertimbangan dengan baik, Mi. Permisi," pamit Dokter muda itu yang kini malah berbalik dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang kamar ini. Kelvin yang awalnya mencetuskan rencana gila itu malah terbengong-bengong dengan peristiwa barusan. "Lho kok malah jadi kayak gini," gumamnya kebingungan. Kelvin segera menyusul Kendra yang sudah berjalan menjauh dari ruang rawat inap Mami Rosita, namun langkahnya dijegal oleh Stevani. "Vin, kamu mau ke mana?" tanya gadis cantik itu yang rambutnya ikal di bagian ujung-ujungnya. "Aku mau nyusulin Kendra, Van," jawab Kelvin yang kini telah berhenti dari langkahnya. "Boleh nggak kalau kita ngobrol dulu sebentar! Ada sesuatu yang ingin aku tanyain ke kamu, Vin," tutur Stevani dengan raut wajah yang gelisah karena dia juga telah melihat semua postingan foto kemesraan Kendra dengan Kelvin di sosial media. Stevani sangat berharap kalau Kelvin mau berbicara dengannya walau hanya sebentar saja. Selama ini komunikasi diantara mereka berdua memang tidak berjalan dengan mulus meski status mereka sudah bertunangan. Inilah alasan yang mendasari Stevani lebih banyak merecoki nomor Kendra untuk bertanya-tanya tentang aktivitas Kelvin setiap waktunya karena dia tidak bisa melakukan hal itu kepada Dokter muda di hadapannya. Kelvin beberapa kali melihat ke arah perginya Kendra dan juga Stevani yang sedang menunggu jawaban secara bergantian. "Huft," Kelvin menghela napasnya. "Baiklah," jawab Dokter muda itu yang pada akhirnya memilih untuk berbicara dengan Vani terlebih dahulu. "Kamu mau ngobrol di mana? Di kantin atau di taman?" lanjut Kelvin. "Di taman aja, Vin," sahut Stevani yang lebih memilih taman untuk menjadi tempat bicara mereka berdua karena lebih sepi ketimbang kantin di Rumah Sakit ini. "Ok," angguk Kelvin. "Ayo!" ajaknya yang kini mulai memimpin jalan. Sedangkan Stevani memilih untuk mengikutinya dari belakang. Sepanjang perjalanan menuju taman, ingin rasanya Stevani menyamakan langkahnya dengan langkah kaki Kelvin. Dia juga ingin menautkan jari-jemarinya dengan jemari kekar Dokter muda itu, namun keberaniannya tidak sebesar itu. Bisa bertunangan dengan Kelvin saja dia sudah sangat bersyukur. Pertunangan ini juga merupakan hal yang paling menakjubkan dalam hidupnya. Kini mereka berdua telah duduk di sebuah bangku putih yang ada di area taman Rumah Sakit Citra Husada. Kelvin berada di sisi kanan dan Stevani berada di sisi kiri bangku. Ya, betul. Mereka berdua duduk saling berjauhan satu sama lain. Kelvin memang lebih suka menjaga jarak tubuhnya dengan para wanita, sedangkan Stevani merasa segan jika harus mendempet-dempetkan tubuhnya ke tubuh Kelvin. Vani takut kalau Kelvin nantinya ilfeel jika dia terlihat gatal atau agresif kepada lelaki itu. "Kamu mau bicara soal apa, Van?" tanya Kelvin memecah keheningan diantara mereka berdua yang telah berlangsung selama beberapa menit setelah duduk di bangku taman ini. "Gini, Vin. Aku ... mm tadi aku udah liat foto-foto kamu sama Kendra di sosial media." "Lalu?" ucap Kelvin yang penasaran dengan pendapat wanita di sebelahnya atas foto-foto rekayasa itu. "Kamu kelihatan mesra banget sama, Kendra," ucap Vani dengan tubuh yang sedikit meringis entah karena apa. Mungkin dia takut kalau-kalau Kelvin tersinggung atau marah kepadanya. "Huft," Kelvin menghela napas kembali. "Tapi aku nggak percaya kok kalau kamu itu belok," tutur Vani cepat-cepat sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri kuat-kuat. "Syukurlah kalau gitu," ucap Kelvin lega karena dia tidak perlu repot-repot lagi menjelaskan kepada wanita itu kalau dia tidak belok seperti yang diberitakan di sosial media. "Kamu beneran nggak belok kan?" tanya Vani yang kini sedikit memiringkan kepalanya ke arah kanan sambil melihat ke arah Kelvin. Kelvin terkekeh mendengar pertanyaan Stevani yang kini malah mulai mempertanyakan kembali kenormalannya. "Katanya tadi kamu nggak percaya sama gosip yang beredar. Kok pake nanya lagi sih, haha," kekeh Kelvin. "Maaf," lirih Stevani yang malah meminta maaf karena telah membuat Kelvin tersinggung. Meski pada kenyataannya Kelvin tidak tersinggung, namun perasaan waswas wanita itu sungguh besar. Dia takut kalau Kelvin-nya tersinggung dengan perkataannya. "Kok malah kamu yang minta maaf sih? Memangnya kamu salah apa?" "Anu ... itu, barusan kan aku bikin kamu tersinggung," jawab Vani kikuk. "Eh, apa kamu nggak tersinggung sama sekali ya?" Lagi-lagi Kelvin terkekeh dan merasa geli dengan wanita di sebelahnya ini. "Sudah lupakan aja. Aku nggak tersinggung kok. Dan untuk pertanyaanmu itu, jawabannya adalah aku nggak belok. Aku masih lurus, aku masih suka sama lawan jenis yang berjenis kelamin wanita," tapi entah wanita mana yang bisa menggetarkan hatiku, karena sampai detik ini belum ada yang bisa membuat hatiku berdebar kencang atau berbunga-bunga hanya dengan melihat wajahnya. Sambung Kelvin dalam hati. "Syukurlah," ucap Stevani yang kini tubuhnya sudah rileks kembali setelah mendengar penuturan Kelvin. "Tapi kata Papa kamu -perjodohan kita akan dibatalkan," ungkap Kelvin. "Apa?! Mana boleh begitu. Aku harus segera pergi nemuin Papa dan minta sama dia untuk tetap melanjutkan perjodohan kita," ucap Vani yang kini sedang membenarkan tali tas mewahnya dan tubuhnya mulai bangkit dari tempat duduk itu, namun gerakannya terhenti oleh cekalan tangan Kelvin yang kini tubuhnya sudah berada dekat dengan tubuh Vani. "Vin, ka-kamu mau nga-ngapain?" tanya Vani gugup karena ini baru pertama kalinya dia bisa berdekatan dengan tubuh Kelvin dengan jarak sedekat ini. "Van, sebenarnya kamu itu cinta nggak sih sama aku?" tanya Kelvin santai. Pandangan mata Kelvin dan Vani saling bertubrukan namun tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha untuk memutus kontak mata mereka. "A-aku ...," ucap Vani terjeda saking gugupnya. "Aku apa, Van?" tanya Kelvin yang kini wajahnya sudah semakin condong ke arah Vani dengan salah satu sudut bibirnya yang tertarik ke atas membentuk lengkung senyuman. "Cinta sama kamu, Vin," cicit Vani yang di ujung kalimatnya melirih. Cup! Bibir Kelvin sukses mendarat ke bibir mungilnya Stevani dan membuat gadis itu membulatkan kedua bola matanya karena mendapatkan ciuman mendadak seperti itu dari lelaki yang ditaksirnya selama ini. Kedua kelopak matanya segera dia pejamkan saat bibir Kelvin mulai bergerak secara perlahan. Stevani mulai terbuai dan mulai membalas ciuman Kelvin namun yang tidak dia ketahui adalah kedua kelopak mata Dokter muda itu malah terbuka kembali dan terlihat dingin tak ada ghairah sedikit pun di dalamnya, seolah-olah ciuman itu hanyalah hal biasa baginya. Stevani yang kini mulai mendominasi ciuman itu juga tidak menyadari saat gerakan bibir Kelvin berhenti seketika saat wanita itu mulai membalas ciuman Dokter muda itu. 'Kenapa hatiku tidak tergetar ya,' batin Kelvin yang kini tatapan matanya kosong sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN