Jadilah Pacarku!

1401 Kata
Saat ini Kendra sudah berada di dalam mobilnya sendiri dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya kembali. Bukannya dia tidak peduli terhadap kesehatan Ibunya, tapi, jika dia tetap berada di Rumah Sakit situasinya akan semakin bertambah runyam. Kendra dan Mami Rosita sama-sama keras kepalanya. Hal inilah yang menyebabkan Dokter muda itu memilih untuk tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya. Jika mereka tinggal dalam satu rumah -ada saja hal yang diributkan, entah itu hanya masalah sepele atau hal pribadi Kendra yang sering direcoki oleh wanita tua itu. "Mami itu apa-apaan sih pake acara mau jodohin aku segala dengan anak rekan bisnisnya," ucap Kendra kesal. "Aku males terlibat dengan mereka. Pasti akan sangat merepotkan. Belum lagi tatapan memuja mereka yang akan aku terima sepanjang hidupku jika aku beneran berjodoh dengan mereka, hiiii ngeri," Kendra bergidik ngeri saat membayangkan ditatap oleh para wanita di dalam benaknya itu. Sedari dulu Kendra memang paling risih dengan makhluk yang bernama wanita, namun Citra adalah pengecualian karena wanita itu tidak seperti gadis kebanyakan yang selalu menatap Kendra seperti singa kelaparan. Mobil Kendra saat ini mulai memelankan laju jalannya karena di depan sana lampu lalu lintas berwarna merah yang menandakan bahwa pengendara dari arah sini harus berhenti sementara sampai lampu lalu lintas itu berubah warna menjadi hijau. Belum juga lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau -Kendra sudah membunyikan klakson mobilnya saat angka yang tertera di layar minitor sudah memasuki angka tiga. Tin tin tin! Kendra seperti sedang meluapkan amarahnya kepada pengguna jalan lainnya yang belum mau bergerak meski angka sudah memasuki angka tiga. Biasanya para pengendara akan langsung menerobos jika angka yang tertera di monitor sudah memasuki angka tiga, namun kali ini pengecualian karena ada petugas berseragam yang berdiri berjaga di seberang sana. Para pengendara yang berada di depan mobil Kendra medumel kesal karena diklakson berkali-kali oleh Dokter muda itu. "Dasar nggak sabaran," dumel mereka yang kini mulai melaju meninggalkan tempat itu saat lampu lalu lintas sudah benar-benar berubah warna menjadi warna hijau. Mobil Kendra pun mulai bergerak maju setelah para pengendara di depannya melajukan kendaraan mereka masing-masing. "Arghhh," raung Kendra kesal yang saat ini sedang stress dengan beban berat yang menimpa hidupnya. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya mengakui kalau dirinya mempunyai hubungan khusus dengan Mela Si Pembantu Dekilnya itu di hadapan Mami Rosita, sedangkan untuk mengakui hubungannya dengan Citra di hadapan Ibunya begitu berat. Apa mungkin ini adalah efek hatinya yang tidak rela jika wanita yang dia cintai dijelek-jelekkan oleh lidah tajam Maminya yang sebenarnya sebelas duabelas dengan lidahnya sendiri yang pedasnya seperti cabe gunung level seratus. Sepertinya ini memang adalah alasan yang membuat Kendra berat untuk mengakui Citra sebagai pacarnya di hadapan kedua orang tuanya. "Aishhh," desis Kendra yang tidak habis pikir dengan ide gila yang disarankan oleh Kelvin saat mereka sedang berada di depan ruang rawat inap Mami Rosita *** Beberapa saat yang lalu di depan ruang rawat inap Mami Rosita, Kendra dan Kelvin sedang mendebatkan sesuatu yang sangat genting saat ini. Citra yang seharusnya bisa menetralisir keadaan kacau hari ini tidak bisa diandalkan. Jangankan untuk diandalkan, untuk diharapkan pun tidak pantas rasanya karena nomor ponsel wanita itu tidak bisa dihubungi hingga saat ini. "Ken, kayaknya kamu harus milih wanita lain dulu deh buat dijadikan pacar pura-pura saat ini agar keadaan Mamimu tidak bertambah parah," saran Kelvin. "Kamu gila, Vin," ucap Kendra yang tidak setuju dengan rencana gila sahabatnya itu. "Tapi ini demi kebaikan kita bersama, Ken," sergah Kelvin lirih karena mereka harus menjaga volume suara mereka di area ini. "Tapi aku nggak mau mengkhianati Citra, Vin," pungkas Kendra sambil menepuk pelan dadanya pelan dengan telapak tangan kanannya. "Kamu nggak terhitung mengkhianati Citra , Ken. Situasi kita saat ini sedang berada dalam zona merah. Mamimu bisa bertambah parah kesehatannya jika kamu tidak bisa membuktikan kenormalanmu di hadapan beliau. Sedangkan aku? Aku terlalu banyak masalah yang tidak mampu aku sebutkan satu persatu masalahnya apa di hadapanmu. Katakanlah aku egois karena meminta hal seegois ini padamu, tapi, hanya kamu saja Ken yang bisa menyelamatkan dan menetralisir gosip miring yang beredar di sosial media. Jika aku sendiri bisa menangani hal ini, aku tidak akan merepotkanmu, Ken," papar Kelvin panjang lebar. "Lalu siapa yang akan jadi pacar pura-puraku saat ini?" tanya Kendra lirih yang sudah mulai goyah hatinya jika teringat kembali dengan keadaan Ibundanya yang sedang dalam kondisi lemah. "Bagaimana kalau Mela saja yang menjadi pasanganmu? Dia sepertinya cocok dengan peran pacar pura-pura ini," timpal Kelvin. "Kamu tidak salah pilih, Vin? Masa pembantu dekil itu yang kamu pilih sih?" cakap Kendra tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. "Gini, Ken, jika kamu memilih perempuan lain yang belum jelas keteguhan hatinya, bisa-bisa wanita itu malah jatuh cinta beneran sama kamu. Sedangkan Mela ... sejauh yang aku lihat dia tidak ada tanda-tanda jatuh hati padamu meski setiap hari melihat wajah tampanmu. Selain itu jika dibandingkan dengan Citra, Mela masih ada di bawah Citra, jadi semisal nanti Citra belum berhasil dengan karirnya, dia tetap memiliki nilai plus di mata Tante Rosita karena lebih unggul dari Mela dari segi mana pun." "Tapi ... aku tetap nggak bisa, Vin," "Udah, kamu ikutin alur aja. Toh Citra belum bisa dihubungin kan?" "Iya, sih," angguk Kendra lemah. Tiba-tiba terdengar suara Mami Rosita dan Papi Johan yang suaranya cukup kencang hingga menarik perhatian Kelvin. "Eh, itu Mami sama Papi kamu lagi ribut masalah apa tuh," celetuk Kelvin yang indra pendengarannya bisa menangkap pembicaraan kedua orang tua Kendra yang ada di dalam ruangan karena pintu kamar rawat inap di sebelahnya tidak tertutup rapat. Kendra yang penasaran pun mulai mendekatkan dirinya ke arah pintu, begitu pula dengan Kelvin yang kini semakin mendekatkan diri ke arah pintu. Tanpa Kendra duga-duga, Kelvin tiba-tiba membuka lebar pintu kamar rawat inap Mami Rosita dan mengucapkan sebuah kalimat yang ingin sekali Kendra hentikan, namun Dokter muda itu tidak kuasa menghentikan langkah yang Kelvin ambil saat itu. *** Kembali ke masa sekarang. Mobil yang Kendra kendarai telah sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Dokter muda itu segera menekan klakson berkali-kali untuk memberitahukan pembantu kesayangannya bahwa dia sudah kembali lagi ke rumah ini. Tin tin tin! "Uhuk, uhuk, uhuk!" Mela yang sedang menikmati bola-bola kentang goreng itu tersedak seketika saat mendengar suara klakson mobil majikannya. "Si Fir'aun jaman now pasti nih yang lagi ngebunyiin klakson mobilnya," tebak Mela yang seratus persen benar adanya. Drrt drrt drrt! Tidak lama kemudian ponsel Mela berbunyi dan benar saja nomor yang menghubunginya adalah nomor Kendra. "Mati aku," ucap Mela yang saat ini segera menyudahi makannya dan segera bangkit dari duduknya untuk bergegas membukakan pintu gerbang rumah ini untuk majikan Fir'aunnya itu. Mela sengaja memilih untuk tidak mengangkat panggilan telepon majikan kejamnya itu karena hal itu akan semakin memperlambatnya dari tugas utamanya saat ini yaitu membuka pintu gerbang. Dengan langkah kaki yang tergopoh-gopoh, Mela berjalan menuju ke pintu gerbang rumah ini sembari menyiapkan hati kalau-kalau nanti dia mendapatkan siraman rohani dadakan yang menyayat hati dari mulut lucknut majikannya itu. "Ya Allah, mudah-mudahan si Fir'aun itu cuma merong-merong (marah-marah) doang, kagak sampai ngurungin niatnya yang mau naikin gajinya aku," harap Mela. Mela sudah semakin dekat dengan pintu gerbang rumah ini dan mobil majikannya bisa dia lihat dengan jelas dari sela-sela jeruji besi pintu gerbang. Drrtt! Suara gesekan pintu gerbang yang digeser oleh Mela terdengar nyaring di malam yang sunyi ini. Mobil Kendra segera bergerak maju saat pintu gerbang itu sudah dibuka oleh Mela. 'Ya Allah mudah-mudahan Si Boss lewat aja. Kagak usah pake berhenti segala di ambang pintu karena jika hal itu terjadi maka pasti kabar buruk atau pengalaman buruk yang akan aku terima,' do'a Mela dalam hati. 'Aku mohon lanjut aja, Boss,' batin Mela dengan tubuh yang sudah meringis ketakutan. Mobil Kendra mulai terlihat tanda-tanda berhenti di ambang pintu gerbang dan benar saja mobil itu benar-benar berhenti di dekat Mela yang masih berdiri di dekat pintu gerbang yang sedang terbuka. 'Tidaaaaak,' batin Mela berteriak saat kaca pintu mobil Kendra terbuka. "Pak, saya mohon jangan potong gaji saya," ucap Mela yang langsung gerak cepat meminta belas kasih dari majikan Fir'aun yang suka memenggal gajinya itu. "Saya tahu kalau saya salah, tapi saya mohon jangan batalkan kenaikan gaji saya bulan depan, Pak," lanjut pembantu muda itu memelas dengan ekspresi wajah yang tidak sedap dipandang mata. "Mel," panggil Kendra yang saat ini mulai mengeluarkan suaranya. "Iya, Pak," sahut Mela lemas karena dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Kendra selanjutnya. "Jadilah pacarku!" pinta Kendra tiba-tiba. "Apa?!" Mela melonjak kaget mendengar permintaan dari majikan Fir'aun-nya itu yang sungguh di luar nalar manusia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN