Tawar Menawar

1329 Kata
"Jadilah pacarku!" pinta Kendra tiba-tiba. "Apa?!" Mela melonjak kaget mendengar permintaan dari majikan Fir'aun-nya itu yang sungguh di luar nalar manusia. Plak! Mela langsung menampar pipinya sendiri dengan keras. "Aw, sakit," ringisnya sembari mulai mengusap-usap pipi kanannya yang barusan dia tampar dengan keras oleh telapak tangan kanannya sendiri. "Ternyata ini bukan mimpi," gumam gadis itu. Mela kembali fokus menatap ke arah Kendra yang masih menatapnya dengan intens dari jok kemudi mobil lelaki itu. "Ini bukan mimpi, Mel," tutur Kendra dengan sorot mata yang serius. Kedua kelopak mata Mela mengerjap-ngerjap saat mendengar pengakuan Dokter muda itu yang saat ini mulai keluar dari dalam mobil mewahnya. Mela sedikit memundurkan tubuhnya saat Kendra berjalan mendekat ke arahnya dengan pandangan mata yang tidak pernah lepas sedikit pun dari kedua manik mata gadis itu. "Pak, jangan bercanda deh!" pinta Mela yang kini mulai menetralkan detak jantungnya yang barusan dibuat kaget oleh kalimat ajakan pacaran dari majikannya itu. "Apa aku tipe orang yang suka bercanda dalam suatu hal?" tanya Kendra dengan kedua alisnya yang terangkat sekilas. Kepalanya juga ditelengkan ke arah kanan beberapa derajat. "Nggak pernah sih, Pak," geleng Mela yang memang tahu betul bahwa majikan kejamnya itu tidak pernah bermain-main dalam suatu hal, termasuk dalam kata-kata potong gaji -yang pasti akan dia lakukan dan tidak melewatkan sepeser pun nominal yang telah Dokter muda itu tetapkan. 'Ya Ampun kok ada ya orang seperti ini,' batin Mela menggerutu. "Kamu mau kan jadi pacarku?" "Waduh, pertanyaan yang sulit untuk aku jawab ini, Pak," aku Mela yang memang tidak bisa menjawab langsung pertanyaan majikan Fir'aun-nya itu. Bukan karena Mela jatuh cinta kepada Kendra, itu adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi, dan peluang Mela bisa jatuh cinta kepada majikannya itu adalah nol koma nol nol nol sekian pangkat sekian, yang menandakan sangat mustahil terjadi menimpa hati gadis itu yang memang sudah penuh dan meluber-luber cintanya untuk pemuda yang bernama Ando Mavasatra. Mela kebingungan memberikan jawaban atas pertanyaan majikannya itu karena otak cerdasnya langsung memproses data yang masuk ke kepalanya dan mengolah semua data itu, lalu menyimpulkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi bila dia langsung menolak mentah-mentah permintaan Dokter muda itu. Kemungkinan terburuknya adalah dipecat dari pekerjaannya saat ini. "Kenapa kamu sulit untuk menjawab pertanyaanku?" tanya Kendra dengan raut wajah menyelidik. "Pertama, Bapak tahu dengan betul kalau saya ini ... suka dan cintanya hanya sama Ayank Satra. Sedangkan jika saya langsung menolak Bapak secara mentah-mentah, pasti harga diri Pak Kendra akan terluka karena penolakan dari saya yang terlalu terang-terangan, dan yang terakhir ... apakah jawaban yang saya berikan akan berimbas kepada pekerjaan saya? Apakah saya akan langsung dipecat setelah menolak Bapak? Lalu ini yang paling penting, setahu saya, saya ini tidak masuk dalam daftar wanita idamannya Pak Kendra dan saat ini Bapak tiba-tiba nembak saya ... Bapak nggak lagi nge-prank, kan? Atau jangan-jangan Bapak baru saja kejedot kepalanya? Ya ampun~ kalau kepala Bapak bener-bener kejedot tembok atau apalah itu namanya sampai membuat Bapak bertingkah aneh seperti ini, lebih baik kita segera ke Rumah Sakit, Pak! Kayaknya Bapak memerlukan penanganan lebih lanjut dari para petugas medis," jawab Mela panjang lebar. "Aku baik-baik saja, Mel," cakap Kendra menenangkan pembantu dekilnya itu. "Kamu lulus ujian, Mel. Mulai besok kamu resmi jadi pacarku dan kita akan langsung menghadap ke Mami dan Papi untuk mempublikasikan hubungan kita di hadapan mereka berdua," putus Kendra yang dengan seenak udelnya mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan pendapatnya Mela. "Heeeeee," Mela kaget bukan main saat majikan Fir'aun-nya itu langsung mengklaim gadis itu menjadi pacarnya. "Pak, saya kan belum setuju. Kok main ngaku-ngakuin aku jadi pacarnya Bapak? Inget ya, Pak! Aku ini cintanya cuma sama Ayank Satra. Nggak ada sejarahnya tuh berpaling hati ke majikan kejam kayak Bapak," lanjut gadis itu yang langsung protes sepanjang jalan rel kereta api jurusan Jakarta-Surabaya yang panjangnya melebihi jalan kenangan karena Mela sungguh tidak terima diaku-aku oleh Kendra menjadi pacar Dokter muda itu. "Ya ampun, Mel. Jangan sok kepedean deh!" tegur Kendra. "Siapa juga yang mau jadiin kamu pacar aku, Mel, Mel," Dokter muda itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Kamu itu bukan seleraku banget," tandas lelaki itu pada akhirnya. "Lha itu barusan ... Bapak klaim aku jadi pacarnya Bapak," timpal Mela sambil lalu mencebikan bibirnya kesal. "Cuma pacar pura-pura aja, Mel," sahut Kendra yang kini raut wajahnya tidak setegang tadi. "Bilang dong kalau cuma pacar pura-pura aja. Aku udah deg-degan tahu, Pak. Takut beneran, kan ngeri kalau Bapak beneran naksir sama saya," "Jangan sok kegeeran deh, Mel!" ucap Kendra dengan pandangan sinis nan merendahkan. "Lha ... gimana aku nggak mikir yang nggak-nggak, wong Bapak langsung nembak saya tanpa ada keterangan atau embel-embel jadi "pacar pura-pura," tekan Mela. "Namanya juga lagi ngetes, Mel. Kalau aku sebut dengan jelas "pacar pura-pura" itu namanya bukan ngetes lagi, tapi ajakan," jelas Kendra. "Aku hanya nggak mau kalau aku bekerjasama dengan gadis yang salah. Ntar ujung-ujungnya bucin sama aku lagi, idih ogah banget," ungkap Dokter muda itu dengan gerakan tubuhnya yang bergidik ngeri karena jijik. "Nah karena kamu nggak langsung mengiyakan, tapi, malah secara gamblang menjelaskan bahwa kamu nggak bakalan nerima saya, hal itu membuat aku yakin kalau kamu itu wanita yang tepat untuk menjadi pacar pura-puraku," lanjut lelaki itu. "Memangnya Bapak ada masalah apa sih? Kok sampai nyari cewek buat dijadiin pacar pura-puranya Bapak?" tanya Mela penasaran. "Aku mau dijodohin, Mel, sama Papi dan Mami," jawab Kendra lesu. "Padahal aku udah punya pacar tapi aku belum bisa kenalin ke mereka berdua karena suatu alasan, huft," 'Alasannya pasti karena pacar Pak Kendra itu sesama jenis, kan?' batin Mela menebak-nebak. 'Pak Kendra dan Mas Kelvin kasian ya,' Mela memandang lelaki di hadapannya dengan tatapan iba. "Kenapa mereka harus terjebak dalam cinta yang rumit sih? Huft," gumam gadis itu yang tanpa sadar menyuarakan isi hatinya ke permukaan. "Kamu bilang apa, Mel?" Mela langsung mengerjap mendapatkan pertanyaan itu. 'Bodoh kamu, Mel,' rutuk gadis itu dalam hati. "Ah, aku nggak bilang apa-apa, Pak," geleng Mela kuat-kuat. "Jangan bohong! Aku denger lho kalau kamu tadi bilang kalau cinta mereka itu rumit," tuntut Kendra. "Itu ditujukan untuk saya dan pacar saya kan?" "Anu ... euuu," Mela gelagapan harus menjawab apa. "Nggak usah gugup kayak gitu, Mel! Aku nggak marah kok. Kenyataannya hubunganku sama pacarku memang rumit, huft," lagi-lagi Kendra menghela napas lelahnya. "Kenapa sih harus ada aturan seperti itu di keluargaku," keluh Dokter muda itu. 'Di semua keluarga sama kali, Pak. Mana ada orang tua yang mau merestui cinta terlarang anaknya dengan sesama jenis,' batin Mela. "Pasti berat banget ya, Pak," ucap Mela hati-hati, takut kalau-kalau dia menyinggung perasaan majikannya itu. "Hu'um, berat banget, Mel," angguk Kendra. "Oh iya, tentang pacar pura-pura itu ... saya dapet upah kan, Pak? Hihihi," tanya Mela yang kini mulai mengalihkan topik pembicaraan mereka agar tidak melow lagi atmosfer diantara mereka berdua. "Dasar mata duitan, ckckck," decak Kendra. "Hehe, manusiawi itu, Pak. Semua orang juga mata duitan. Kalau nggak mata duitan, ngapain mereka kerja siang dan malem sampe lembur segala, sampe ada yang nyogok biar lolos jadi pegawai, eh, keceplosan," Mela langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya agar tidak bicara yang aneh-aneh lagi. "Benar juga sih ya," Kendra malah setuju dengan pendapat pembantu dekilnya itu. "Trus bayaran yang akan saya dapetin berapa, Pak?" "Sehari seratus ribu, gimana?" tawar Kendra. "Ya ampun, Pak, murah amat, hiks," tangis Mela pura-pura sedih. "Nggak ketutupan, Pak, dosa sama bayarannya, hiks, hiks," "Tapi kan ini demi kebaikan, Mel," "Ya, iya sih, tapi aku kan pengen dapet bayaran lebih tinggi lagi, Pak. Biar uang tabungan buat kuliah kedokteran cepet kekumpul, hiks," "Jangan haks hiks haks hiks! Mual saya denger dan liatnya," omel Kendra. "Hehe, ya maaf, Pak," cengir Mela. "Makanya tambahin dong, Pak! Dikiiiiiiit aja," rayu gadis itu. "Ya udah aku tambahin seratus ribu lagi. Jadi setiap kamu pura-pura jadi pacar saya, kamu bakalan dapet dua ratus ribu per harinya," putus Kendra yang akhirnya memilih untuk mengalah dan menambah upah untuk Mela. "Yeeee, terimakasih, Pak," ucap Mela semangat sambil menjabat tangan Kendra yang tidak terulur ke arahnya. "Gomawo ya," "Iya, iya," sahut Kendra yang kini mulai melepaskan tangannya dari tangan Mela. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN