"Idih, siapa pula yang lagi ngajakin kamu ngomong mulu. Sok kepedean kamu," cibir Kendra.
Mela memilih untuk tidak menanggapi lagi cibiran majikannya itu dan kini mulai sibuk mengupas kentang yang ada di hadapannya. Sedangkan Kendra malah penasaran akut ingin tahu lebih jauh tentang Satra yang diidolakan dan dicintai mati-matian oleh pembantunya itu.
Diraihnya ponsel Mela yang sedang tergeletak di atas meja makan. Jemari Kendra mulai menekan salah satu foto di beranda profilnya Ando Mavasatra.
"Cakep," gumamnya menilai tampang lelaki yang digilai oleh Mela.
"Kalau dibandingkan, Si Sastra sama si Kumel ... jauh banget. Kayak langit dan lubang sumur, nggak sepadan," lanjut Kendra berbisik namun bisikannya itu masih bisa tertangkap oleh indra pendengarannya Mela.
"Saya dengar lho, Pak. Jangan jelek-jelekin saya!" ucap Mela yang kini mulai bersiap-siap untuk mengukus kentang dan wortel yang sudah dia potong-potong agar cepat matang dan proses pengukusan jauh lebih cepat dan tentunya hemat energi.
"Kamu mah nggak perlu saya jelek-jelekin juga -udah jelek," timpal Kendra.
'Jleb! Sakit banget hati Mela Ya Allah. Punya majikan kok gini amat ya mulutnya. Pedes banget kayak sambel terasi bikinan Emak Mela. Sambel EBC aja lewat pedesnya, masih kalah ama mulutnya majikan Fir'aun yang onoh,' batin gadis itu.
"Nggak apa-apa jelek juga. Itu kan hanya pandangan Bapak, bukan pandangannya Ayank Satra. Saya nggak terlalu peduli dengan pendapat Bapak, karna yang mau saya nikahi itu bukan Bapak, tapi, Ayank Satra, wlee." Mela memeletkan lidahnya ke arah Dokter muda itu.
"Kayak dia mau aja sama kamu, Mel," sinis Kendra. "Jangan terlalu ngehalu, Mel! Kalau dilihat dari penampilannya Si Sastra-Sastra ini -kayaknya selera dia tinggi deh. Mana mau dia sama gadis dekil, kumal, kayak kamu."
"Jangan sama kan Ayank Satra-ku dengan selera Bapak ya! Ayank Satra-ku tidak pernah membeda-bedakan seseorang dari penampilan dan kastanya. Dia aja bilang bakalan nikah sama aku kalau aku beneran bisa jadi Dokter atau minimal ada usaha yang membuktikan kesungguhan perasaanku sama Ayank Satra itu benar adanya."
"Sama aja kali, Mel. Si Sastra-Sastra-mu itu lihat orang dari kastanya aja. Buktinya dia cuma mau nerima kamu kalau kamu udah sepadan sama dia," sahut Kendra yang kini sedang bertopang dagu dengan jari jempolnya yang masih sibuk menggulirkan layar ponsel Mela.
"Beda, Pak. Ayank Satra-ku nggak kayak gitu. Dia ada alasan khusus kenapa minta aku supaya bisa sepadan sama dia. Logikanya jika dia hanya ingin pasangan yang sekasta sama dia, dia pasti langsung nolak saya, Pak. Namun buktinya banyak kok wanita yang sekasta sama dia yang udah pada nembak duluan tapi ditolak mentah-mentah sama Ayank Satra. Cuma aku lho, Pak, yang dikasih kesempatan emas sama Ayank Satra. Ok, sekarang aku bakalan ngomong serius. Aku ini wajahnya biasa aja, warna kulit juga nggak putih mulus, latar belakang juga dari keluarga tidak mampu, jika dibandingkan dengan wanita yang mendekati Ayank Satra-ku, aku jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka, tapi, nyatanya yang mendapatkan kesempatan emas itu hanya aku, Pak. Maka dari itu, aku mohon sama Bapak jangan pernah sama ratakan Ayank Satra-ku dengan orang di luaran sana. Apalagi disamakan dengan Bapak Kendra yang terhormat. Beda jauh, Pak. Masih baikan Ayank Satra-ku ke mana-mana," tandas Mela.
Kendra termangu mendengar semua penuturan pembantu ajaibnya itu. Biasanya Mela akan selalu bertingkah konyol, tapi saat ini pembantu ajaibnya itu malah berubah menjadi orang yang sangat serius. Sungguh luar biasa, namun, Kendra tidak nyaman dengan karakter Mela yang serius seperti sekarang. Kendra lebih suka Mela yang absurd dan genit-genit menggelikan serta menyebalkan seperti sebelum-sebelumnya.
Mela yang telah selesai mengeluarkan semua unek-uneknya mulai kembali fokus ke pekerjaannya semula. Saat ini gadis itu sedang mengupas bawang merah dan bawang putih yang nantinya akan ditumbuk halus bersama dengan kentang yang sedang dia rebus. Di dekat mela juga sudah tersedia tepung, kocokan telur, dan juga tepung panir yang nantinya berfungsi untuk membalut adonan utama camilan ini. Tidak lupa keju klaf quick melt juga tersedia di dekat Mela. Potongan keju itu nantinya akan menjadi isian adonan kentang dan wortel yang akan Mela bulat-bulatkan bentuknya.
Suasana masih hening karena kedua insan manusia itu masih sama-sama terdiam membisu setelah obrolan serius tadi.
Kendra yang saat ini masih memegangi ponsel Mela tertarik dengan sebuah foto yang Satra unggah beberapa bulan yang lalu yang berisikan foto penampakan depan Universitas-nya. Yang membuat Kendra tertarik adalah caption yang tertulis di foto itu yang berbunyi, "Aku tunggu kamu di gerbang ini tahun depan atau tahun-tahun setelahnya. Aku percaya kamu adalah orang yang akan menepati janji." lalu ditutup dengan sebuah emoticon tersenyum.
Kening Kendra berkerut, seolah mengerti maksud dari caption yang Satra tuliskan di postingan itu. Kendra yakin kalau postingan ini ditujukan untuk pembantu kumalnya itu, tapi yang membuat Kendra tidak habis pikir adalah Satra ini dari segi tampang sangat rupawan. Dari segi akademik juga mumpuni. Dan satu lagi dari segi kekayaan jika ditilik dari gaya berpakaian dan barang-barang serta kendaraan yang dia miliki, jelas sekali Satra ini orang kaya, namun yang membuat Kendra heran adalah kenapa laki-laki ini malah menjatuhkan pilihannya kepada Mela, Si Gadis Kumal nan Absurd.
Kali ini Kendra sudah tidak bertopang dagu lagi. Kini jempol kanan tangannya sedang ragu-ragu untuk mengintip Dirrect Message di akun Lovstagram pembantunya itu.
Namun pada akhirnya, Kendra yang sudah penasaran akut mulai menekan icon pesawat kertas di layar ponsel itu dan terpampanglah nama akun Lovstagram Satra yang menjadi akun nomor satu yang berada di bagian paling atas dalam daftar Dirrect Message.
Kendra melirik Mela sekilas untuk memastikan bahwa situasinya masih aman dan tidak akan ketahuan oleh Sang Empunya ponsel. Bisa-bisa Kendra disindir habis-habisan oleh Mela jika ketahuan dirinya sedang membuka pesan pribadi antara Mela dengan Satra, sedangkan dirinya selalu menekankan kepada Mela agar tidak menggangu privasinya meski itu hanya sedang membaca buku. Seperti halnya tadi sore, Kendra tiba-tiba datang ke ruang perpustakaan pribadinya untuk membaca buka dan Mela yang berada lebih dulu di ruangan itu harus segera menyingkir dari perpustakaan meski sedang dalam posisi beres-beres karena majikannya tidak suka diganggu privasinya oleh orang lain.
Dirrect message antara Mela dan Satra mulai Kendra baca satu persatu.
"Ayank lagi apa?" pesan Mela dengan emoticon tersenyum.
"Masih belajar. Kamu lagi apa?" balas Satra.
"Lagi istirahat,"
"Udah makan?"
"Ya Allah mimpi apa aku semalam ditanyain duluan udah makan apa belom ama Ayank Satra," balas Mela dengan emoticon senyum yang penuh love.
Sedangkan Satra hanya membalas pesan itu dengan emoticon tertawa.
Pesan-pesan lainnya pun tidak hanya satu arah, namun dari dua arah yang saling bersahutan, meski hanya pesan singkat tanpa ada kemesraan, tapi terlihat komunikasi mereka lancar.
Kendra merasa iri dengan interaksi antara Mela dan Satra yang bisa semanis ini dan seintens ini meski bukan sepasang kekasih. Beda dengan dirinya dan Citra yang statusnya sepasang kekasih namun terasa hambar dan datar akhir-akhir ini meski saling memanggil dengan sebutan mesra.
Awalnya Kendra pikir Mela hanya sedang membual saja dengan semua perkataannya tentang Satra. Kendra juga sempat berpikir kalau Mela hanyalah seorang Fangirl yang bucin berat kepada lelaki bernama Satra, namun semua tebakannya salah.
Dengan pikiran yang masih berkecamuk, Kendra menutup ponsel Mela dan meletakkannya ke atas meja kembali. Kini dirinya mulai bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mendekat ke arah pembantunya itu yang sedang menghancurkan kentang dan wortel dalam sebuah wadah sambil dibumbui dengan bahan-bahan yang sudah Mela siapan sebelumnya.
"Eh, Bapak ngapain ke sini?" ucap Mela terkaget sembari menggeser tubuhnya menjauhi badan Kendra karena majikan Fir'aun-nya yang satu ini sangat anti berdekatan dengannya.
"Mau bantuin kamu biar cepet selesai," sahut Kendra singkat. Lelaki itu saat ini sedang bersiap-siap mengenakan sarung tangan plastik bening yang baru saja dia ambil dari salah satu bilik lemari di dapurnya.
"Ini kejunya mau buat isiannya ya?" lanjut Kendra yang kini mulai kepo dengan bahan-bahan yang telah disiapkan oleh Mela.
"Iya, Pak. Nanti keju itu buat isiannya."
Kini Mela dan Kendra mulai membulat-bulatkan adonan kentang dan wortel yang sudah dicampur dengan bumbu-bumbu sederhana.
"Ini dibalur tepung dulu, kan?" tanya Kendra memastikan.
"Iya, Pak," sahut Mela yang saat ini sedang mengecek suhu minyak di wajan anti lengket milik Kendra.
"Lalu celupin ke mana ini?"
"Ke telur dulu, baru ke tepung panirnya, Pak," jawab Mela memberikan arahan.
Kendra mulai mencelupkan bola-bola kentang itu ke dalam kocokan telur, baru setelah itu meletakkannya ke sebuah wadah yang berisi tepung panir, dan setelah terbungkus rapat oleh tepung panir, semua bola-bola itu diletakkan di sebuah nampan sebagai tempat persinggahan sementara sebelum di goreng.
Mela yang kebagian tugas menggoreng semua bola-bola kentang itu mulai mengambil satu persatu dan memasukkannya ke dalam wajan berisi minyak yang panas.
Drrt, drrt, drrt!
Ponsel Kendra yang ada di atas meja makan tiba-tiba bergetar dan suara getarannya masih bisa tertangkap oleh indra pendengarannya. Dengan segera Kendra melepaskan sarung tangan yang sedang dia pakai dan meletakkannya secara asal-asalan karena tugasnya memang sudah selesai membalur semua bola kentang itu dengan tepung panir.
"Papi," gumam Kendra saat melihat nomor yang sedang menghubunginya adalah nomor Ayahnya.
"Halo, Pih," sapa Kendra setelah dia mengangkat panggilan telepon itu.
"Ken, Mami kamu masuk rumah sakit. Cepat kamu datang ke RSCH!" ucap Papi Johan dengan nada bicara yang sangat panik.
"Ok, Pih. Kendra akan segera meluncur ke sana," jawab Dokter muda itu yang kini langsung bergegas meninggalkan rumah ini.
Mela yang melihat Kendra terburu-buru pergi merasa heran dengan sikap majikannya itu.
"Pak Kendra! Anda mau ke mana?" pekik Mela bertanya.
Kendra yang mendengar perkataan Mela menghentikan langkahnya sekejap dan menoleh ke arah gadis itu.
"Mami masuk rumah sakit. Aku harus segera ke sana."
Setelah mengucapkan kalimat itu -Kendra melanjutkan langkahnya dan Mela buru-buru mematikan kompor, lalu ikut menyusul majikannya itu meninggalkan ruangan dapur ini.
***