Cit Kamu Kenapa?

1640 Kata
Kendra mengambil kunci mobilnya yang ada di dalam kamarnya, lalu segera meluncur ke garasi mobil rumahnya. Sedangkan Mela sudah siap sedia membukakan pintu gerbang untuk Kendra yang sebentar lagi akan pergi ke rumah sakit. Dari kejauhan mobil Kendra sudah mulai tampak keluar dari dalam garasi mobil rumah ini. Melihat hal itu, Mela segera membukakan pintu pagar besi dengan cara menggesernya. Beberapa saat kemudian mobil Kendra sudah meluncur meninggalkan rumah ini dan Mela kembali menutup pintu gerbang, lalu menguncinya dengan baik agar tidak bisa dibobol oleh orang jahat dari luar. "Mudah-mudahan nggak ada hal yang buruk terjadi menimpa keluarganya Pak Kendra," harap Mela cemas yang saat ini sedang berjalan masuk kembali ke dalam rumah besar itu. Sesampainya di dapur Mela mulai menyalakan kompor di hadapannya dan melanjutkan kembali acara memasaknya. "Malang betul nasibmu, Tang. Belum juga dinikmati sama yang request, eh udah ditinggal duluan." Mela bermonolog. "Tenang aja bola-bola kentang yang yummy yummy, cantik mempesona, kalian tidak akan menjadi mubazir karena perut langsing Neng Mel Mel siap menampung kalian semua, slurp," Mela mulai ngiler saat aroma wangi dari bola-bola kentang itu mulai menguar mengeluarkan aroma sedap yang begitu menggugah selera. *** Setelah menempuh perjalanan yang panjang selama beberapa puluh menit, Kendra akhirnya sampai juga di Rumah Sakit Citra Husada. Banyak pasang mata yang melihatnya dengan pandangan yang jijik, tapi untunglah Kendra belum menyadari hal yang sedang terjadi saat ini. Ditambah lagi dia harus segera ke ruang kamar rawat inap Mami Rosita sehingga tidak terlalu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ceklek! Pintu kamar rawat inap Mami Rosita dibuka oleh Kendra dan Papi Johan yang saat ini sedang khawatir dengan keadaan istrinya mulai menoleh ke arah anak lelakinya itu. "Pi, Mami kenapa?" tanya Kendra dengan raut wajah yang sangat panik. Papi Johan bangkit dari duduknya dan plak! Tangan kanan Papi Johan melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras ke pipi kirinya Kendra. "Aw," ringis Kendra kesakitan saat merasakan perih yang menjalar di area pipinya yang sudah memerah akibat tamparan keras Ayahnya. "Dasar anak kurang ajar kamu, Ken!" maki Papi Johan dengan raut wajah berapi-api terbakar amarah. "Pi, kenapa Papi tiba-tiba marah sama aku? Memangnya salah aku apa, Pi?" tanya Kendra tidak mengerti. "Jangan pura-pura tidak tahu kamu!" bentak Papi Johan. "Tapi Kendra memang tidak tahu apa-apa, Pi," sahut Dokter muda itu. "Ok, sekarang Papi tanya, sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Kelvin?" tanya Papi Johan yang kini nada bicaranya sudah turun beberapa oktaf. "Dari jaman sekolah TK. Aku sama Kelvin kan sudah berteman sejak kecil, Pi. Papi kan tahu sendiri. Tapi, kenapa Papi tiba-tiba bertanya hal yang sudah Papi tahu jawabannya?" Kendra salah tangkap maksud dari perkataan Ayahnya. Papi Johan bukan bertanya tentang hubungan pertemanan Dokter muda itu dengan Kelvin, melainkan sedang bertanya berapa lama Kendra dan Kelvin sudah berpacaran secara diam-diam. "Pintar sekali kamu bersandiwara, Ken," sinis Papi Johan. "Pi, aku bingung dengan situasi saat ini. Sebenarnya ini ada apa sih? Kok Papi tiba-tiba marah-marah sama aku tanpa alasan yang jelas," ucap Kendra mempertanyakan. "Lagipula Mami lagi sakit lho, Pi. Kenapa nggak kasih tahu Kendra kondisinya Mami lebih dulu. Eh, ini malah langsung main hajar aja," sambung Dokter muda itu. "Kamu benar-benar nggak tahu hal yang sedang terjadi saat ini?" tanya Papi Johan menyelidik. "Nggak, Pih," jawab Kendra sambil menggeleng pelan kepalanya. "Kamu juga nggak tahu penyebab Mami kamu kena serangan jantung?" sorot mata Papi Johan benar-benar terlihat sangat menakutkan saat sedang mengintrogasi seperti ini. "Nggak, Pih," lagi-lagi Kendra menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah lihat berita terpanas di media sosial belum?" "Memangnya ada berita apa, Pih? Kendra jarang main medsos jadi kurang tahu perkembangan berita terbaru," jawab Kendra jujur. "Coba kamu cek akun Lovstagram-nya RSCH dan lihat postingan yang ditandai di akun official Rumah Sakit ini!" titah Papi Johan yang saat ini sedang memegangi pelipisnya karena merasakan pusing yang luar biasa. Tubuh tambunnya pun dia dudukkan kembali ke atas kursi yang tadi sempat dia tinggalkan setelah kedatangan Kendra. Kendra langsung mengambil ponsel di saku jaketnya dan langsung membuka aplikasi Lovstagram. Kedua matanya langsung membola tatkala melihat foto-foto yang terpampang nyata di layar ponselnya. "Kenapa ada foto-fotoku dengan Kelvin di media sosial?" gumam Kendra merasa heran. "Dan apa-apaan ini? Kenapa semua foto terlihat seperti orang yang sedang berciuman." "Ada yang lebih parah dari itu, Ken," celetuk Papi Johan yang kini mulai membuka ponsel milik istrinya dan menunjukkan sebuah foto yang menjadi penyebab utama Mami Rosita terkena serangan jantung. Kedua bola mata Kendra membulat sempurna saat melihat foto itu. Di dalam foto itu Kendra dan Kelvin tampak berciuman dan bibir keduanya pun terlihat jelas saling menempel satu sama lain. "Foto ini rekayasa, Pih," ucap Kendra yang syok setelah melihat foto itu. Jika Kendra yang kesehatan jantungnya saja terkejut setengah mati saat melihat foto rekayasa itu, apa kabar dengan Mami Rosita yang memiliki penyakit jantung. Wajar saja kalau perempuan paruh baya itu sampai kumat penyakitnya setelah melihat foto ini. "Tapi foto itu terlihat nyata sekali, Ken," timpal Papi Johan. "Papi dan Mami sekarang meragukan kenormalanmu sebagai seorang laki-laki. Jika kamu memang laki-laki normal, kamu pasti sudah mengenalkan pacarmu kepada kami. Tapi, setiap kami meminta kamu untuk mengenal pacarmu, kamu selalu menolak dengan berbagai alasan. Apa jangan-jangan memang benar kalau kamu ini gay?" tuduh Papi Johan. "Astaghfirullah, nyebut, Pih! Kendra masih normal. Kendra juga sudah punya pacar dan pacar Kendra itu cewek tulen bukan abal-abal, apalagi imitasi." "Kalau kamu memang punya pacar, coba sebutkan siapa namanya? Papi ingin dengar. Kalau bisa suruh dia buat datang ke sini sekarang juga!" tuntut Papi Johan. "Maaf, Pih, tapi Kendra belum bisa kenalin ke Papi dan Mami, soalnya pacar Kendra belum siap untuk berkenalan dengan kalian. Dia terlalu minder dan takut tidak diterima oleh kalian. Dia baru akan berani menghadap kalian kalau sudah sukses. Tolong bersabar sebentar lagi!" pinta Kendra memelas. "Halah, alasan. Papi nggak mau tahu, pokoknya pacar kamu harus dateng malem ini juga, titik," tegas Papi Johan yang perkataannya tidak bisa diganggu gugat. Kendra meremas rambut di kepalanya tanda bahwa dia frustasi. Bagaimana tidak frustasi jika Citra saja belum terlihat tanda-tanda kesuksesannya. Dia masih seperti model lainnya dan belum ada tanda-tanda mendominasi dunia permodelan di Eropa. Kendra dan Citra sudah menjalin hubungan sejak jaman sekolah menengah, namun karena orang tua Kendra menginginkan anak lelakinya itu mendapatkan pasangan yang sepadan dengan dirinya membuat Kendra urung mengenalkan Citra kepada Maminya yang dulu pernah merendahkan Citra di belakang gadis itu saat melihat Citra di acara perpisahan sekolah menengah atas Kendra. Beberapa kali Citra juga sempat memaksa ingin dikenalkan dengan kedua orang tuanya Kendra, tapi, Kendra yang tahu pandangan Maminya terhadap Citra saat itu memilih untuk menolaknya secara halus dengan berbagai alasan sampai Citra meniti karir di luar negeri. Meski Kendra adalah seorang Dokter, namun kedua orang tuanya memiliki Perusahaan yang cukup besar yang dikelola oleh orang kepercayaan mereka. Belum lagi darah biru yang mengalir dari nenek moyang mereka yang masih ada bau-bau darah ningrat dari para Raja terdahulu membuat Mami Rosita dan Papi Johan tidak mau kalau anaknya menjalin hubungan dengan wanita yang tidak jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Tentu saja yang paling penting dari itu semua adalah kenyataan bahwa wanita itu juga berasal dari keluarga yang setara dengan keluarganya Kendra. "Kenapa malah diam saja? Cepat panggil pacarmu ke sini sekarang juga!" titah Papi Johan mengulang kembali perintahnya. "Iya, Pih," angguk Kendra lemah. "Kalau gitu Kendra mau telepon pacar Kendra dulu ya," pamitnya. "Iya," sahut Papi Johan ketus. Kendra mulai berjalan keluar dari dalam kamar rawat inap Maminya itu dan samar-samar dia mendengar ucapan Papi Johan yang akan nekat menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya. "Awas aja kalau bohong anak itu. Lama-lama aku jodohin juga tu anak dengan anak rekan bisnisku," gumam Papi Johan pelan yang suaranya masih bisa didengar oleh Kendra. Kendra bergidik ngeri mendengar gumaman Ayahnya itu. "Mit amit dah. Jangan sampai aku nikah sama orang yang nggak aku cintai," gumam Kendra. Drrt, drrt, drrt! Baru juga keluar dari ruang rawat inap Mami Rosita, ponsel Kendra sudah bergetar saja yang menandakan ada panggilan masuk dari seseorang. Kendra segera meraih ponselnya dan melihat nama sang penelepon adalah Kelvin. "Halo, Vin," sapa Kendra kepada sahabatnya itu. "Ken, gawat, Ken. Papaku masuk rumah sakit gara-gara lihat foto-foto kita yang tersebar di sosial media. Belum lagi foto ciuman yang dikirim langsung ke nomornya Papaku, membuat kondisi kesehatannya langsung drop, Ken. Sekarang dia sedang ditangani oleh Dokter di RSCH," jelas Kelvin panjang lebar. "Kamu cepetan ke sini, Ken! Suruh juga pacarmu untuk segera datang ke RSCH. Calon mertuaku juga mengancam akan membatalkan acara perjodohanku dengan Vani. Aku mohon tolong aku, Ken! Tolong buktikan kalau kita tidak menjalin hubungan terlarang seperti yang diberitakan oleh akun bodong di media sosial," lanjut Kelvin. Kendra menghela napas lelahnya sambil mengusap wajah lelahnya yang terlihat sangat suntuk sekali dihadapankan pada masalah sepelik ini. "Vin, Mamiku juga dilarikan ke Rumah Sakit gara-gara foto s*alan itu," umpat Kendra kesal. "Aku juga mau menghubungi Citra. Kamu tenang saja! Semuanya akan baik-baik saja. Oh iya, kamu ada di kamar berapa? Aku ada di kamar nomor 302 VVIP." "Aku ada di kamar 507 VVIP," sahut Kelvin. "Ya sudah, nanti aku datang ke lantai Lima dan menjelaskan semuanya kepada orang tuamu dan juga calon mertuamu." "Makasih ya, Ken." "Iya, sama-sama. Aku tutup dulu teleponnya ya! Aku mau telepon Citra dulu. Aku mau minta dia untuk langsung terbang ke Indo malam ini juga." "Ok, Ken." Tut, tut, tut! Sambungan telepon itu pun berakhir dan kini Kendra mulai menelepon nomor Citra yang lelaki itu yakini pasti sedang sibuk pemotretan karena tadi Citra seperti sedang terburu-buru. Panggilan pertama tidak diangkat. Kendra tidak menyerah, dia mulai menelepon kembali meski hasilnya tetap sama saja. Setelah berpuluh-puluh kali menelepon akhirnya panggilan teleponnya diangkat juga oleh Citra. "Halo, Ken," sapanya di seberang telepon. "Halo, Cit. Tolong kamu segera pu-" "Ah~" tiba-tiba terdengar suara Citra mendesah sehingga membuat Kendra terhenti dari ucapannya. "Cit kamu sedang apa? Kenapa kamu mendesah?" cecar Kendra yang kini wajahnya telah merah padam setelah mendengar suara Citra yang mendesah di seberang telepon sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN