Helmi tertegun dan tersenyum tipis. "Be-benarkah itu, Tuan?" "Ya benar, kenapa? Kamu terlihat sangat bahagia sekali, seperti kamu yang akan menikah," ejek Nikolas seraya tersenyum miring. "Saya bisa gampang, Tuan. Yang terpenting Tuan saja dulu yang menikah, nanti saya menyusul." Helmi tersenyum. Nikolas mencebik. "Emang kamu sudah ada calonnya, apa?" tanya Nikolas penasaran. Helmi terkekeh seraya menggeleng. "Belum sih, Tuan," jawabnya sambil garuk-garuk peliipisnya dengan jari telunjuk. "Heuuh, saya kira sudah ada," kesal Nikolas. "Bagaimana saya bisa cari kekasih, Tuan. Setiap hari kan saya sama Tuan, jadi kapan saya cari gadis?" Nikolas mangut-mangut. "Benar juga, ya sudah nanti kalau saya sudah menikah kamu boleh pergi cari gadis," kata Nikolas, dan Helmi hanya tersenyum saja

